Menuruti Semua Keinginan Anak akan Membentuk Siklus yang Berbahaya

Endah Wijayanti04 Agu 2020, 13:26 WIB
menuruti keinginan anak

Fimela.com, Jakarta Saat anak menangis atau merengek meminta sesuatu, orangtua biasanya akan langsung memenuhinya. Alasannya bisa karena bermacam-macam, mulai dari kasihan, ingin agar anak segera berhenti menangis, hingga alasan karena menyayangi anak. Namun, menuruti semua keinginan anak ternyata bukanlah hal baik.

Memang tiap anak punya temperamen masing-masing tapi menuruti semua keinginan dan permintaannya bukanlah hal baik. Mengutip buku Bringing Up Bébé, para orangtua Prancis meyakini bahwa setiap anak yang sehat mampu untuk tidak merengek, tidak menangis sambil guling-guling setelah diberi tahu "tidak", dan biasanya tidak mengomel atau mengambil barang-barang. Walter Mischel mengatakan bahwa selalu menuruti semua permintaan anak-anak akan membentuk sebuah siklus yang berbahaya: "Ketika anak-anak pernah mengalami saat mereka diminta menunggu, tetapi ketika mereka berteriak ibu akan datang dan tidak perlu menunggu lagi, mereka akan belajar dengan sangat cepat untuk tidak menunggu. Dengan begitu kita justru lebih menghargai teriakan, rengekan, dan keengganannya untuk menunggu."

Anak-Anak Perlu Belajar Menerima Kata "Tidak"

Psikolog Prancis menulis bahwa ketika seorang anak mempunyai caprice (misalnya dia sedang berada di sebuah toko bersama ibunya dan tiba-tiba menginginkan mainan), maka ibu sebaiknya tetap bersikap sangat tenang dan dengan lembut menjelaskan bahwa membeli mainan tidak termasuk dalam rencana mereka hari ini. Kemudian, ibu sebaiknya berusaha mengabaikan permintaan anak tersebut dan mengalihkan perhatian anak. Salah satu cara mengalihkan perhatian anak adalah dengan menceritakan ksaih kehidupan orangtua sendiri. 

Ahli Prancis menganggap belajar menerima kata "tidak" adalah langkah penting dalam evolusi anak. Ini memaksa mereka memahami bahwa di dunia ini ada orang lain yang memiliki kebutuhan yang sama pentingnya dengan kebutuhan mereka. Ahli dan orangtua Prancis percaya bahwa mendengar kata "tidak" menyelamatkan anak-anak dari tirani keinginannya sendiri. 

 

Memulai Didikan saat Bayi Berusia 3-6 Bulan

tantrum
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Psikiatri anak Prancis menulis bahwa didikan mengatakan "tidak" kepada anak semestinya dimulai saat seorang bayi berusia tiga sampai enam bulan. Ibu bisa membuat si kecil belajar menunggu sebentar, kemudian mengenalkan dimensi waktu ke dalam jiwanya. Frustrasi-frustrasi kecil yang dibebankan kepada anak-anak hari demi hari, berdampingan dengan cinta orangtua, memungkinkan anak-anak untuk bertahan, dan memungkinkan mereka untuk menanggalkan semua keinginan serbakuatnya pada usia antara dua dan empat tahun, dalam rangka memanusiakan anak-anak tersebut.

Tidak semua keinginan dan permintaan anak perlu dituruti. Demi kebaikan anak itu sendiri, ia perlu belajar menunggu dan memahami bahwa tak semua keinginan bisa dipenuhi begitu saja. Bila anak tumbuh menjadi anak manja, ke depannya dia hanya akan kesulitan untuk hidup bahagia dengan caranya sendiri.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓