5 Tips Mendidik Anak Perempuan agar Percaya Diri dan Mandiri

Novi Nadya16 Okt 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 16 Okt 2020, 07:38 WIB
ibu dan anak perempuan

Fimela.com, Jakarta Salah satu studi terpenting pada anak perempuan yang dilakukan oleh Asosiasi Wanita Universitas Amerika tahun 1991 menemukan pada usia 9 tahun sebagian besar anak perempuan percaya diri dan merasa positif. Menurut studi lainnya dari Pusat Studi Anak Universitas New York mengatakan sekitar usia 10 tahun, fokus anak perempuan mulai bergeser dari prestasi dan kemampuan ke penampilan yang dilihat dari model yang ditampilkan media.

Studi APA juga mengutip jika seksisme perempuan menyebabkan anak perempuan melihat harga diri mereka identik dengan daya tarik seksualnya. Hasilnya mereka bisa menjadi pasif, sadar diri, terobesesi dengan penampilan dan pada akhirnya tidak bahagia dengan diri sendiri. 

Jadi apa yang dapat dilakukan orangtua untuk mendidik anak perempuan mereka, berapapun usianya? Melansir dari metroparent.com, ada beberapa kualitas yang perlu dikembangkan agar anak perempuan tumbuh jadi gadis percaya diri dan mandiri di era modern ini;

1. Kepercayaan Diri

ibu dan anak perempuan dewasa
ilustrasi ibu dan anak perempuan/copyright by Krakenimages.com (Shutterstock)

Anak perempuan yang percaya diri mengembangkan sikap "Saya bisa melakukan ini," ujar penulis beberapa buku termasuk The Curse of the God Girl: Raising Authentic Girls with Courage and Confidence Rachel Simmons. Saat anak perempuan belajar mengandalkan kemampuan untuk mengambil keputusan, mereka tumbuh lebih percaya diri.

Orangtua dapat membantu meningkatkan kualitas tersebut dengan menawarkan kesempatan pada mereka untuk menunjukkan kemampuannya. Misalnya untuk anak perempuan yang masih kecil untuk mengikat sepatunya dan remaja untuk memesan delivery makanan. 

Hal sederhana yang terkadang dihindari orangtua karena mereka berpikir lebih mudah dan cepat dilakukan sendiri. Dengan memberi anak perempuan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, orangtua dapat membersarkan anak perempuan yang tahu kemampuannya.

"Banyak gadis merasakan tekanan luar biasa untuk menyenangkan orang lain dan menjadi sempurna dalam segala hal. Mereka menghindari risiko karena khawatir akan membuat kesalahan," lanjut Simmons.

2. Kecerdasan Emosional

karakter kepribadian perempuan
ilustrasi ibu dan anak/Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Sama seperti melatih alat musik atau olahraga untuk menjadi lebih baik, komunikasi adalah keterampilan yang sama pentingnya. Sayangnya banyak orangtua yang kurang maksimal dalam peran mengajari anak berkomunikasi. 

Kita dapat membantu mereka mengembangkan komunikasi dengan membangun kosakata emosi yang dialami. Sebab dia akan lebih mampu memahami dan kelak menghadapinya.

Orangtua dapat mencontohkan dengan menjelaskan perasaan mereka sendiri. Apakah merasa cemas tentang presentasi di tempat kerja, bersemangat untuk berlibur dan sebagainya.

Lalu biarkan putrimu memahami emosi orangtuanya. Dan perlahan ia akan mulai memahami emosinya sendiri. 

Pelajaran lainnya adalah saat putrimu mengatakan dia baik, lanjutkan dengan pertanyaan. Bukan berarti kamu menginterogasi, tapi buatlah obrolan santai yang bermanfaat memberinya kesempatan mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

3. Ketahanan

anak belajar di rumah
ilustrasi ibu dan anak/copyright By PR Image Factory from Shutterstock

Sejak kecil, anak perempuan cenderung dikomentasi tentang penampilannya, seperti sangat imut dan sangat cantik. Hal itu rupanya membuat para gadis mulai mendefiniskan diri mereka sesuai dengan apa yang dipikirkan orang lain dan biasanya berdasarkan penampilan fisik. 

Padahal untuk menumbuhkan ketahanan pada anak-anak perempuan tentu bukan tentang penampilan melainkan karakter. Carole Lapidos, ibu dua anak perempuan mengatakan jika orangtua sering terburu-buru membantu putri mereka saat disakiti perasaannya dengan banyak sebab. 

"Naluri mama bear adalah untuk melindungi putri kami dari luka. Tapi anak perempuan perlu belajar mengatasi rasa sakit sendiri, seperti analogi mainan bouncing yang saat dirobohkan mampu bangkit kembali," ujarnya.

Orangtua dapat menanamkan kemampuan yang sama untuk si anak bangkit kembali serta mendukung mereka untuk mencari solusi sendiri. Misalnya saat putrimu berselisih pendapat dengan temannya, alih-alih memberi nasihat tanyakan padanya "Menurutmu apa yang harus kamu lakukan?"

Biasanya mereka menjawab "Saya tidak tahu." Lalu mintalah mereka untuk memberikan dua atau tiga solusi untuk masalah tersebut dan bahas bersama tentang konsekuensi setiap skenario dan biarkan dia memutuskan, meski kamu tidak setuju dengan pilihannya.

4. Rasa Keingintahuan

anak perempuan di dalam mobil camping
ilustrasi gadis di movil caravan/copyright by Alina Tanya from Shutterstock

Membimbing anak perempuan untuk mengembangkan rasa ingin tahu mereka mungkin tidak sulit. Ini hanyalah masalah mendorong para gadis mengajukan pertanyaan yang nantinya dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan baru. 

Seperti jika kamu jalan-jalan dengan anak perempuan usia preschool dan mereka bertanya "Mengapa langit berwarna biru?" atau "Serangga jenis apa itu?" Kita bisa mencari jawabannya di internet atau pergi ke perpustakaan bersama. 

Seiring bertambahnya usia, biarkan dia meneliti sendiri jawabannya, lalu kembali menerangkan padamu apa yang dipelajari. Mengetahui minat dan kemampuannya juga merupakan bagian dari keingintahuan. 

Lapidos menyarankan para orangtua untuk lebih melihat dari sekadar minat yang mudah disebutkan seperti olahraga dan musik. Meski mengembangkan keterampilan di bidang tersebut dapat membantu mereka mengembangkan perasaan dirinya, bagaimana dengan kemampuan yang sulit untuk diketahui? 

Bisa jadi ia pandai dalam hal mencari tahu cara kerja sesuatu. Atau ia memiliki kemampuan bawaan untuk mengetahui saat seseorang merasa sedih.

5. Positif

Ibu dan Anak
Ilustrasi ibu dan anak perempuan/copyright shutterstock

Para peneliti percaya ada perubahan perkembangan pada usia 8 tahun terkait dengan otak remaja. Sebelum usia tersebut, anak-anak tampaknya tak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain dan cenderung tidak membandingkan diri mereka dengan teman sebaya. 

Namun dengan perubahan perkembangan, mereka lebih memperhatikan lingkungan dan mulai menempatkan diri dalam hierarki. Itu bisa berarti mulai membandingkan diri berdasarkan pencapaian atau penampilan. 

"Dalam lingkaran penelitian ini disebut sebagai 'kehilangan kepolosan' karena anak-anak mulai keluar dari berbagai aktivitas karena mereka merasa tak pandai. Pergeseran tersebut tampaknya tidak spesifik gender, tapi ada beberapa bukti anak perempuan bergeser lebih awal daripada laki-laki," ujar Davis-Kean. 

Orangtua dapat membimbing anak perempuan untuk memahami kekurangan mereka sendiri dan belajar untuk melakukan 'pemeriksaan diri' secara teratur. Bisa dilakukan saat makan malam atau selama di perjalanan. 

Mintalah ia mengevaluasi apa yang dilakukan setelah ujian, tugas besar, atau penampilan dan pastikan jaga percakapan tetap santai. Tanyakan apa yang menurutnya bisa dilakukan dengan baik, lebih baik, dan bagaimana dia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik di lain waktu.

Dengan mengajari para gadis mengevaluasi diri secara teratur, ketika saat-saat mereka melakukan kesalahan, tidak akan menghancurkannya. Sebaliknya, dia akan memahami jika kesalahan adalah bagian dari kehidupan dan cara mengatasinya adalah menjadi hal terpenting.

Simak video berikut ini

#ChangeMaker 

Lanjutkan Membaca ↓