Di Negara Ini, Seluruh Siswa Harus Melakukan Tes Bebas COVID-19 Sebelum Kembali Masuk Sekolah

Gayuh Tri Pinjungwati26 Nov 2020, 13:45 WIB
Diperbarui 26 Nov 2020, 13:45 WIB
anak kembali bersekolah

Fimela.com, Jakarta Di masa pandemi membuat sebagian orang harus melakukan pembatasan mulai dari kegiatan hingga pertemuan dengan banyak orang. Semua orang harus mematuhi protokol yang begitu ketat untuk mencegah penyebaran virus corona. Bahkan saat kita bepergian jauh pun harus memenuhi beberapa syarat yang ada.

Terlebih bagi orang yang hendak bepergian menggunakan transpotasi umum. Mereka harus menyertakan surat hasil tes bebas COVID-19. Tak hanya bepergian menggunakan transportasi, tetapi bepergian ke tempat wisata atau pun lainnya juga harus menyertakan surat bebas COVID. Seperti berita baru-baru ini, salah satu peraturan di sekolah harus menyertakan surat bebas COVID-19 ketika siswanya harus kembali kesekolah setelah perayaan natal dan tahun baru 2020 yang akan datang.

Melansir dari foxnews.com (26/11), Gubernur Vermont Phil Scott mengatakan bahwa selama konferensi pers pada hari Selasa bahwa sekolah di negara bagian akan mewajibkan sebagian siswanya untuk memeriksakan kesehatannya bagi mereka yang melakukan pertemuan di luar rumah setelah liburan Natal.

Scott mencatat bahwa setiap hari siswa yang menghadiri acara dengan lebih dari sekedar di rumah tetangga, mereka akan diminta untuk mengambil kelas online selama dua minggu masa karantina atau juga melakukan karantina selama dua minggu dan kemudian memiliki hasil tes negatif COVID-19.

Seusai Mengikuti Acara Keluaraga saat Natal, Siswa Wajib Dikarantina 2 Minggu

Kembali ke sekolah
Ilustrasi/copyrightshutterstock/Halfpoint

Selain para siswa, Gubernur juga mendorong bisnis untuk mengambil pendekatan yang sama dengan karyawan mereka. Upaya terbaru ini dilakukan ketika pejabat negara telah memperingatkan pertemuan kecil memicu lonjakan kasus virus corona baru-baru ini, dan khawatir pertemuan perayaan Natal dan tahun baru dengan orang-orang dari berbagai wilayah dapat memperburuk masalah.

Vermont, yang masih memiliki jumlah kasus COVID-19 terendah di negara itu, melaporkan 49 kasus baru terjadi pada hari Selasa, menjadikan total di seluruh negara bagian sejak pandemic dimulai menjadi lebih dari 3.760 kasus. Komisaris Vermont untuk Departemen Regulasi Keuangan, Michael Pieceiak, mengatakan bahwa dari kasus-kasus tersebut, diperkirakan 40% dilaporkan pada bulan November saja. Dia mencatat bahwa jika warga Vermont berkumpul untuk merayakan Natal dan tahun baru, itu dapat menyebabkan penambahan jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 terburuk 3.200 hingga 3.800 dan 40 hingga 50 rawat inap.

Namun, pemerintah berharap dengan mendorong masyarakat untuk tinggal di rumah, skenario terburuk tersebut dapat dihindari. Orang yang memilih untuk menghadiri pertemuan, dan mereka yang bepergian, termasuk mahasiswa yang kembali ke rumah, harus mengikuti prosedur karantina negara bagian.

Gubernur mengatakan, jika masyarakat mendengarkan himbauan untuk tetap di rumah, akan memungkinkan jumlah kasus mulai turun, serta memungkinkan untuk mengurangi pembatasan sementara negara menunggu datangnya vaksin yang dapat mengakhiri pandemi.

Well, tetap melakukan aktivitas di rumah ya Sahabat Fimela, ini dilakukan untuk mengurangi jumlah kasus terkonfirmasi virus corona. Jadi manfaatkan libur akhir tahun dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan di rumah bersama keluarga.

Cek Video di Bawah Ini

#Changemaker

Lanjutkan Membaca ↓