Salut untuk Busui, ASI Eksklusif di Indonesia Meningkat Drastis Selama Pandemi

Novi Nadya22 Jan 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 22 Jan 2021, 07:30 WIB
Ibu menyusui

Fimela.com, Jakarta Memberikan ASI eksklusif menjadi dambaan semua ibu menyusui atau busui. Sayangnya keberhasilan ASI eksklusif di Indonesia selama beberapa tahun belakangan hanya berkisar 30 persen sampai 50 persen. 

Terutama pada ibu bekerja yang sangat rendah dengan persentase 19 persen sampai 47 persen. Lantas bagaimana dengan tingkat keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama pandemi Covid-19?

 

Tak seperti yang dikhawatirkan banyak orang, pemberian ASI eksklusif di Indonesia justru meningkat tajam selama masa pandemi Covid-19 dengan angka 89 persen. Angka ASI eksklusif pada ibu yang tetap bekerja dari kantor (WFO) sebesar 82,9 persen dan WFH sebanyak 97,8 persen. 

"Artinya 9 dari 10 ibu menyusui berhasil ASI Eksklusif selama masa pandemi. Salut, faktor di rumah aja selama pandemi memberi kesuksesan pemberian ASI eksklusif, ujar Ketua Tim Peneliti Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK dari Health Collaborative Center dalam pemaparan virtualnya.

Penelitian yang dilakukan pada Desember 2020-Januari 2021 ini melibatkan 379 ibu yang memiliki bayi berusia di bawah 12 bulan. Penelitian dilakukan selama periode PSBB melalui survei kuesioner daring di 20 provinsi yang divalidasi 5 pakar kesehatan masyarakat dan pakar laktasi.

 

 

Tantangan Busui di Masa Pandemi

[Fimela] Ibu Menyusui
Ilustrasi Ibu Menyusui | unsplash.com/@davidoclubb

Meski angka keberhasilan pemberian ASI eksklusif melonjak drastis di masa pandemi, para busui mengaku menghadapi kesulitan dan tantangan sendiri. Terutama saat ruang gerak terbatas dan rasa cemas karena Covid-19 itu sendiri. 

"ASI kita dipengaruhi kesehatan mental dan awal pandemi Covid-19 sempat juga mengalami stres karena enggak bisa kemana-mana dan ketemu siapa-siapa. Tapi karena sering di rumah dan menyusui secara direct justru membuat ASI semakin banyak ketimbang pumping," ujar Sasyka Nabila menceritakan pengalamannya menyusui di masa pandemi.

Meski begitu, ada beberapa busui yang akhirnya menyetop ASI eksklusif selama pandemi dengan beberapa alasan menurut penelitian yang sama. Di antaranya harus tetap bekerja selama PSBB (12 persen), dukungan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan untuk konseling menyusui tidak memadai (10 persen), dan kurangnya dukungan suami dan keluarga (7 persen).

"Meski fakta kesuksesan ASI eksklusif menggembirakan, tapi ada juga busui yang berhenti memberi ASI saat pandemi. Dukungan keluarga dan suami serta pengetahuan pentingnya pemberian ASI eksklusif harus ditingkatkan lagi," tutup dr. Ray.

Simak video berikut ini

#Elevate Women 

Lanjutkan Membaca ↓