Memahami Dampak Psikologis yang Diderita Anak akibat Pandemi COVID-19 dari Dokter Ini

Annissa Wulan01 Mar 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 01 Mar 2021, 15:00 WIB
Memahami Dampak Psikologis yang Diderita Anak akibat Pandemi COVID-19 dari Dokter Ini

Fimela.com, Jakarta Sebagai seorang psikoanalis dan ahli bimbingan orang tua yang bekerja di New York City selama pandemi COVID-19 dengan orang tua dari anak-anak dan remaja atau seringkali dengan anak-anak itu sendiri, Erica Komisar sangat sedih melihat rasa sakit dan penderitaan emosional yang saat ini dialami keluarga. Erica tidak hanya menjadi lebih sibuk daripada yang pernah ia alami sepanjang kariernya sebagai seorang dokter, tapi intensitas dan tingkat stres pasien telah meningkat secara eksponensial.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mencatat bahwa anak berusia 18 hingga 24 tahun telah melaporkan tingkat kecemasan dan depresi yang tinggi, hampir seperempatnya telah mempertimbangkan untuk bunuh diri. Erica juga melihat peningkatan keputusasaan di antara anak-anak yang lebih muda, remaja, dan keluarga mereka dalam praktik klinisnya sendiri.

COVID-19 telah membuka kotak Pandora tentang masalah emosional, perilaku, dan kesehatan mental yang akan sulit untuk dikembalikan ke kotaknya begitu pandemi terkendali. Anak-anak dan remaja dihadapkan pada begitu banyak kerugian, termasuk isolasi sosial, transisi sekolah yang tidak teradi, temah yang pindah tanpa kemampuan untuk mengucapkan selama tinggal, dan anggota keluarga jatuh sakit atau sekarat.

Ketakutan akan kematian orang tua dan kakek-nenek, yang dalam keadaan normal mungkin mereka rasakan dan ekspresikan sebagai bagian normal dari perkembangan yang Erica anggap sebagai fantasi cemas, telah menjadi kenyataan. Hal-hal yang Erica sebut neurotik sebelum pandemi sekarang menjadi kekhawatiran yang masuk akal.

Bahkan ketakutan terhadap kuman, yang mungkin telah dianggap sebagai fobia atau pemikiran obsesif untuk anak-anak dan orang dewasa, sekarang setidaknya cukup tepat. Anak-anak merasa kurang aman dan banyak orang dewasa mengalami kesulitan untuk menghibur mereka karena mereka juga merasa tidak aman, kecemasan merajalela pada anak-anak dan orang dewasa yang merawat mereka.

Erica juga merasa sangat sedih atas hilangnya kontak sosial yang diperlukan oleh anak-anak untuk perkembangannya. Anak-anak di atas usia 3 tahun membutuhkan kontak sosial dengan teman-temannya untuk belajar mengatasi konflik, berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, dan terlibat dalam permainan magis atau imajiner.

Mereka lebih membutuhkan permainan imajiner dengan teman-temannya di saat orang tua sibuk. COVID-19 telah membuat aktivitas bermain dengan anak-anak lain, terutama di luar, hampir tidak mungkin.

 

 

Anak yang memiliki saudara kandung dapat mengandalkan satu sama lain selama pandemi COVID-19

Memahami Dampak Psikologis yang Diderita Anak akibat Pandemi COVID-19 dari Dokter Ini
ilustrasi anak/Erica Komisar adalah seorang dokter dan psikoanalisis yang telah melihat berbagai dampak psikologis yang terjadi pada anak akibat pandemi COVID-19, simak di sini pemaparannya./copyright Shutterstock

Erica memperhatikan bahwa segalanya lebih mudah bagi anak-anak yang memiliki saudara kandung yang hampir seusia mereka, yang dapat berperan sebagai teman bermain ketika diperlukan. Namun, untuk sejumlah besar anak, pandemi berarti sedikit waktu dengan anak-anak lain.

Bagi remaja, kurangnya kontak dengan teman menjadi lebih menantang karena mereka membutuhkan dukungan kelompok sebaya untuk maju menuju kemandirian dari orang tua. COVID-19 telah memaksa remaja kembali secara regresif untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Meskipun ada beberapa keuntungan, termasuk lebih banyak waktu memproses perasaan dengan orang tua dan kesempatan bagi orang tua untuk berhubungan kembali dengan anak-anak mereka, sebelum mereka meninggalkan rumah, Erica melihat dalam praktiknya bahwa secara umum isolasi sosial menyebabkan sejumlah besar ketidakpuasan dan depresi. Anak-anak juga mengandalkan konsistensi rutinitas untuk merasa aman.

COVID-19 telah menggantikan kepastian dengan ketidakpastian, kekacauan tak terduga bagi anak-anak. Banyak dari kerugian dan ketidakpastian ini tidak dapat dihindari.

Fleksibilitas telah menjadi norma dan beradaptasi dengan realitas yang selalu berubah adalah suatu kebutuhan. Hal ini membuat anak-anak harus terus menerus menghadapi perubahan dalam lingkungan yang memusingkan, yang membuat mereka lebih sulit menemukan landasan emosional yang aman dan kuat.

Orang tua diharapkan memiliki keadaan emosional yang lebih matang selama pandemi COVID-19

Memahami Dampak Psikologis yang Diderita Anak akibat Pandemi COVID-19 dari Dokter Ini
Ilustrasi anak/Erica Komisar adalah seorang dokter dan psikoanalisis yang telah melihat berbagai dampak psikologis yang terjadi pada anak akibat pandemi COVID-19, simak di sini pemaparannya./copyright shutterstock.com/kryzhov

Konsekuensi dari perubahan ini bagi anak-anak akan berbeda-beda. Untuk anak-anak dari keluarga yang aman secara emosional dan finansial, menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dapat bermanfaat.

Terlepas dari tantangan, keluarga ini menemukan rasa syukur dalam kedekatan dan kelambatan waktu bersama. Mayoritas keluarga yang ditangani oleh Erica, bagaimanapun, telah dilanda ketidakamanan finansial, ketakutan akan kesehatan, kesulitan hubungan, dan ketidakmampuan untuk menyeimbangkan pekerjaan, serta pengasuhan dan mendidik anak.

Hal ini membuat orang tua secara emosional juga mentah, tidak sabar, dan kesal dalam merawat anak-anak mereka, sementara diharapkan justru orang tua melakukannya dengan lebih sempurna. Orang tua seringkali terpisah dari sistem pendukung anak, baik keluarga besar atau babysitter, karena adanya COVID-19 dan risiko penularan.

Sebagai seorang dokter, Erica memperkirakan beberapa dari anak-anak ini mungkin menemukan bahwa mereka memiliki kapasitas yang lebih rendah untuk mentolerir frustasi, rasa sakit, dan perubahan lingkungan, dan beberapa dari mereka bahkan mungkin mengembangkan respon stres pasca trauma dari ketidakpastian kronis, terutama jika keluarga mereka juga menderita. Jika Erica bisa menawarkan nasihat berdasarkan pengalamannya, orang tua sebaiknya menjadi pendengar yang baik, memberi kesempatan sebanyak mungkin bagi anak untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan menjadi wadah emosi bagi anak-anak mereka.

Mencari bantuan dari terapis dan ahli bimbingan orang tua lebih cepat adalah cara lain agar orang tua dapat memastikan hasil emosional terbaik untuk anak-anak dan remaja mereka. Bagaimana menurutmu, Sahabat FIMELA?

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓