Kisah Seorang Ayah Tunggal Adopsi Anak Sakit yang Kini Raih Juara Olimpiade

Nabila Mecadinisa01 Sep 2021, 11:30 WIB
Diperbarui 01 Sep 2021, 11:30 WIB
ilustrasi hari ayah

Fimela.com, Jakarta Mengadopsi anak bukanlah hal yang mudah. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan saat mengangkat seorang anak. Hal ini dialami oleh Jerry Windle, seorang pria gay lajang yang terus menerus mendapat cemooh dari orang-orang bahwa ia tak pernah jadi seorang ayah. 

Dikutip dari Liputan6.com dan dilansir dari Bright Side, cemoohan tersebut rupanya membuat Jerry Windle tak percaya diri menjadi seorang ayah yang baik. Namun keteguhan hatinya berhasil membuktikan jika dirinya pantas jadi seorang ayah. 

Jerry membesarkan seorang anak yatim piatu terlantar asal kamboja yang kini berhasil menjadi juara olimpiade. Awalnya, Jerry ingin mengadopsi anak berdarah Amerika. Namun, hatinya tergerak ketika ia membaca sebuah kisah tentang kehidupan anak yatim di Kamboja. 

Mimpinya terwujud

Jerry Windle dan putranya Jordan (Sumber: Instagram / @jordanpiseywindle)
Jerry Windle dan putranya Jordan (Sumber: Instagram / @jordanpiseywindle)

Tanpa ragu, dia menghubungi pejabat Kamboja, dan bergegas ke Phnom Penh, Kamboja pada Juni 2000. Dia bertemu calon putranya, Jordan yang tinggal di panti asuhan sejak orangtua kandungnya meninggal.

Balita itu menderita gizi buruk, kudis dan infeksi berat. Kemudian, Jerry membawanya pulang ke Florida, merawat hingga sembuh, dan menjadi ayah sah Jordan.

Kembali ke AS bersama, ada banyak kendala yang dihadapi Jerry dan Jordan. Jordan memiliki banyak masalah kesehatan, dia kelelahan dan lemah, dan berkomunikasi dengan Jerry melalui bahasa isyarat sebelum belajar bahasa Inggris.

Saat Jordan berusia dua tahun, beratnya hanya 7,2 kg. Ayahnya tidak tahu apakah dia akan hidup atau mati. Namun, dia berjanji akan melakukan semua usaha agar putranya tidak menderita lagi.

Membuktikan kasih sayang sepenuhnya kepada sang anak

Jerry Windle dan putranya Jordan (Sumber: Instagram / @jordanpiseywindle)
Jerry Windle dan putranya Jordan (Sumber: Instagram / @jordanpiseywindle)

Mimpi Olimpiade Jordan dimulai pada usia tujuh tahun. Dia menarik perhatian Tim O’Brien, putra seorang pelatih selam terkenal, Ron O'Brien, di kamp selam. 

Kemudian, Jordan mengikuti program menyelam khusus dan mulai meraih kesuksesan pertamanya.

Dia juga bertemu dengan peraih medali emas Olimpiade dan aktivis LGBT Greg Louganis. Dia bahkan disebut Little Louganis”

Setelah tiga kali uji coba Olimpiade, yang pertama pada usia 13 tahun, kemudian pada usia 16 tahun, dan Jordan mencapai impiannya selama 15 tahun serta memenuhi syarat untuk platform putra.

Jordan akan besaing untuk Amerika Serikat di Olimpiade, dan dalam hatinya dia juga akan mewakili Kamboja, tempat kelahirannya.

Baru-baru ini, dia membuat tato bendera Kamboja di lengannya agar orang bisa melihatnya saat dia menyelam.

Ayah dan anak itu merayakan kisah mereka dalam sebuah buku anak-anak yang mereka tulis bersama pada tahun 2011. 

Buku itu berjudul An Orphan No More: The True Story of a Boy, yang bercerita tentang ayam jantan yang diberitahu oleh hewan lain bahwa ia tidak bisa menjadi ayah tanpa ayam. 

Suatu hari, dia menemukan telur yang tidak diinginkan siapa pun. Apa yang menetas adalah bebek, tetapi meskipun penampilan mereka berbeda, keduanya akan membuktikan bahwa di mana ada cinta, di situ ada keluarga.

 

 

 

 

 

 

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela