Survei Membuktikan: 55% Responden Berisiko Jadi Korban Doxing Saat Kencan Online

Adinda Tri Wardhani26 Jul 2021, 16:00 WIB
Diperbarui 26 Jul 2021, 16:00 WIB
Kencan Online

Fimela.com, Jakarta Kencan online menjadi salah satu cara untuk bertemu dengan pasangan di era digital. Semua ini diawali dari bergesernya gaya hidup menuju praktik digitalisasi, termasuk dalam hal hubungan kencan di beberapa dekade terakhir. Di beberapa negara, aplikasi kencan menjadi cara paling populer bagi orang untuk bertemu. Bagi pasangan modern, mereka bahkan hampir tidak terbayangkan apa jadinnya dunia tanpa kehadiran media sosial.

Namun, ada sisi lain dari fenomena ini: dengan hubungan yang berpindah ke dunia digital, pengumpulan dan pemaparan publik atas data pribadi atau dikenal dengan doxing telah menjadi perhatian utama. Dilansir dari rilis yang diterima oleh tim Fimela.com, Tim Kaspersky melakukan survei, mengungkap ancaman dan perhatian utama yang dihadapi pengguna saat melakukan kencan online.

Sebagai hasil, para ahli Kaspersky menemukan bahwa setiap pengguna ke-6 telah mengalami kejahatan doxing saat berkencan online.

Dengan berkembangnya jejaring sosial dan aplikasi kencan, komunikasi menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan jauh lebih nyaman. Penelitian Kaspersky menunjukkan setengah atau 54% responden mengakui bahwa aplikasi kencan telah membuat segalanya lebih mudah, namun 55% mengklaim bahwa mereka takut diikuti oleh seseorang yang mereka temui secara online, ini merupakan salah satu bentuk dari doxing.

Berbagi informasi pribadi secara berlebihan di aplikasi kencan online dan media sosial adalah sesuatu yang dapat menyebabkan masalah besar di masa depan. Pengguna meninggalkan jejak besar informasi pribadi mereka secara online sehingga membuatnya mudah untuk diambil dan digunakan bagi para doxer atau pelaku doxing.

Akses Doxer ke alamat rumah target, tempat kerja, nama, nomor telepon, dan lainnya telah meningkatkan risiko untuk menjadikan ancaman dari dunia online tersebut ke dunia fisik. Misalnya, setiap enam (16%) responden mengaku pernah mengalami kejahatan doxing. Selain itu, sebanyak 11% responden yang menghadapi kejahatan doxing saat berkencan online, tidak tahu bahwa mereka telah menjadi korban doxing.

Beragam ancaman privasi

Putus Asa Menemukan Hubungan Serius lewat Aplikasi Kencan di Tengah Pandemi, Perempuan Ini Jadi Lebih Mencintai Dirinya Sendiri
Ilustrasi Penggunaan Aplikasi Kencan Online / Sumber foto: Ilustrasi/unsplash.com/Markus Winkler.

Penelitian juga mengungkap lebih detail tentang ancaman privasi yang dihadapi pengguna saat berkencan online. Sebanyak 40% orang yang diwawancarai mengakui bahwa, saat berkomunikasi secara online, pasangan mereka membagikan tangkapan layar percakapan tanpa persetujuan kedua pihak, mengancam untuk menyebarkan informasi pribadi yang ditemukan secara online, membocorkan foto intim mereka, atau membuntuti mereka di kehidupan nyata, yang juga merupakan konsekuensi langsung dari doxing.

Masalah yang paling umum adalah cyberstalking dengan 17% responden mengakui bahwa mereka telah diawasi di media sosial oleh orang yang sebelumnya tidak cocok (unmatched) di aplikasi kencan.

7 Tips keamanan saat menggunakan aplikasi kencan online

Putus Asa Menemukan Hubungan Serius lewat Aplikasi Kencan di Tengah Pandemi, Perempuan Ini Jadi Lebih Mencintai Dirinya Sendiri
Ilustrasi Penggunaan Aplikasi Kencan Online /unsplash.com/Andrej Lišakov.

“Media sosial dan berbagai aplikasi yang hadir memang membuat kencan lebih mudah bagi kita. Anda mungkin menemukan cinta dalam hidup Anda secara online tetapi sayangnya, di sana juga terdapat bot dan penipu yang mencari korbannya pada platform aplikasi kencan. Itulah sebabnya saat berkomunikasi dengan seseorang secara online, tetap penting untuk mengingat aturan dasar privasi digital. Untuk berkencan secara online dengan aman, kami menyarankan untuk tidak membagikan informasi pengenal pribadi, seperti nomor telepon, lokasi, rumah, dan alamat kantor. Mencegah ancaman pada tahap awal seperti itu akan membuat Anda lebih dapat menikmati kencan online tanpa rasa khawatir” komentar Anna Larkina, pakar keamanan di Kaspersky.

Untuk menjaga informasi pribadi Anda tetap terlindungi, Kaspersky juga merekomendasikan beberapa hal berikut ini:

  1. Menangani data online pribadi secara bertanggung jawab.
  2. Selalu periksa pengaturan izin pada aplikasi yang Anda gunakan, untuk meminimalkan kemungkinan data Anda dibagikan atau disimpan oleh pihak ketiga – dan seterusnya – tanpa sepengetahuan Anda.
  3. Menggunakan otentikasi dua faktor. Ingatlah bahwa menggunakan aplikasi yang menghasilkan kode satu kali lebih aman daripada menerima faktor kedua melalui SMS. Jika Anda membutuhkan keamanan tambahan, gunakan kunci 2FA perangkat keras.
  4. Menggunakan solusi keamanan yang andal seperti Kaspersky Password Manager untuk menghasilkan dan mengamankan kata sandi unik setiap akun, dan hindari menggunakan kembali kata sandi yang sama berulang kali.
  5. Mencari tahu apakah ada kata sandi yang digunakan untuk mengakses akun online Anda telah disusupi, dengan menggunakan alat seperti Kaspersky Security Cloud. Fitur Pemeriksaan Akunnya dapat membantu pengguna untuk memeriksa kemungkinan kebocoran data.
  6. Jika kebocoran terdeteksi, Kaspersky Security Cloud akan memberikan informasi tentang kategori data yang dapat diakses publik, sehingga individu yang terinfeksi dapat mengambil tindakan yang tepat.
  7. Selalu mempertimbangkan konten yang Anda bagikan secara online dan hindari mebagikan informasi pribadi yang dapat digunakan oleh orang lain.
Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela