Pengalaman Tinggal di Desa Semasa Kecil Hadirkan Kenangan Tak Terlupakan

Endah Wijayanti25 Jul 2021, 13:15 WIB
Diperbarui 25 Jul 2021, 13:15 WIB
yogyakarta

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Tikawati

Aku adalah seorang anak perempuan, dulu agak tomboy dan main selalu jauh dari rumah. Aku tinggal di bawah kaki gunung yang dikelilingi dengan kebun, sawah, dan sungai. Tidak sedikit warga di desaku yang bermatapencaharian sebagai petani dan mempunyai tambak ikan. Terbayang sejuknya? Aku pun betah tinggal disini.

Suatu hari pada sore yang cerah aku dan teman-teman pergi bermain di tepi sungai yang kering dan berpasir, seperti di pantai. Setiap sore hari setelah pulang mengaji di Madrasah Diniyah kami langsung menuju sungai untuk bermain. Di sungai itu kami menghabiskan masa kecil, membuat suatu permainan seperti membuat istana pasir, pura-pura menjadi putri duyung bahkan kami memunguti sampah untuk dijadikan perabotan. Drama sekali, ya. 

Tidak terasa kami sudah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bermain. Kami pun pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah mulai gelap dan kami harus bersiap untuk salat Magrib dan dan mengaji malam.

Setelah membersihkan diri dan berangkat ke masjid, tiba-tiba saja langit terlihat sangat mendung dan tak lama kemudian turun hujan yang cukup deras. Hari itu semua ustadz tidak datang tepat waktu ke mesjid, kami semua bersorak gembira karena kemungkinan kami tidak mengaji dan kami hanya bermain saja di measjid. Dasar anak-anak!

Tiba-tiba saja di luar masjid banyak orang tua yang menjemput anaknya. Semua orang mengucap takbir, ada yang menangis ketakutan, ada yang membawa senter, dan ada yang berlarian.

"Ada apa ini?"

Aku melihat air sudah semata kaki orang dewasa. Ternyata terjadi banjir bandang di sini. Air sungai meluap sampai ke tempat tinggal warga.

Aku menghampiri ibu dan menanyakan keberadaan bapak. Bapakku menyelamatkan tambak ikan bersama dengan pemilik tambak yang lain termasuk ustaz yang mengajariku mengaji. Aku taku. Bapak dan ustaz sedang berjuang melawan derasnya air sungai. Aku menangis sejadi-jadinya. Kami semua berdoa bersama di masjid atas musibah ini.

Pengalaman Tak Terlupakan

kebiasaan nulis pagi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/deniskomarov

Setelah hujan reda, aku pergi untuk melihat keadaan bapak. Bapak sedang menyelamatkan paman yang terjebak di tengah tambak ikannya dan akhirnya terselamatkan.

Semua penambak ikan sudah berada di tempat yang lebih aman. Dengan wajah pasrah mereka melihat nasib ikan yang entah mungkin sudah terbawa arus.

Di balik musibah ini ada saja orang yang memanfaatkan keadaan, ikan yang naik ke pemukiman ramai-ramai diambil dan dijual kembali ke desa sebelah. Bahkan ada yang sampai dapat 2 ton ikan. Setelah larut malam, aku pulang ke rumah karena aku sudah memastikan bahwa bapak aman.

Tidak terasa hari sudah pagi dan cuaca begitu cerahnya. Melihat keluar rumah sangat berantakan, banyak ikan mati terkapar di jalanan. Bahkan ada kura-kura di depan rumahku, entah milik siapa itu. 

Aku pergi ke kamar mandi setelahnya keluar rumah untuk melihat keadaan sekitar. Melihat ada temanku aku pun mengajaknya pergi untuk melihat sungai tempat kami bermain. Ternyata di sana sudah banyak orang. Sedang apa mereka?

Aku dan temanku berbaur dalam kerumunan dan ternyata banyak sekali makanan, perabotan, snack, dan lainnya di sana yang terkubur dengan pasir sungai. Mungkin itu makanan dari warung warga yang hanyut. Semua orang sibuk menggali, aku dan temanku pun ikut kegiatan mereka. 

Aku dan temanku menemukan satu pak saus, minuman botol dan banyak snak. Kasihan sekali orang-orang yang kehilangan mata pencaharian karena musibah ini.

Setelah kejadian itu, aku dan teman-teman tidak lagi bermain di sungai, karena kami takut dan trauma akibat banjir bandang itu. Hikmahnya kami tidak main terlalu jauh lagi. 

Kejadian tersebut berlangsung 10 tahun yang lalu dan traumanya masih tetap ada. Ada yang motornya terbawa arus, lemari es terbawa arus, bahkan sebagian rumah warga yang dekat sungai pun ada yang terbawa arus. 

Begitulah cerita masa kecilku yang menyenangkan dan menegangkan. Semoga tidak ada kejadian seperti itu lagi, ya. Aamiin. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela