Perempuan yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga setelah Ayah Meninggal, Bahunya Kuat

Endah Wijayanti24 Jul 2021, 08:15 WIB
Diperbarui 24 Jul 2021, 08:15 WIB
melakukan sesuatu sendiri

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Yosephine Edwina Pujiasmara 

Apa yang terlintas di dalam pikiran kalian ketika mengingat masa kecil? Pastinya kamu akan menjawab tentang hal yang seru, menyenangkan, masa yang menarik untuk kalian. Tetapi tidak sedikit juga yang akan menjawab ah biasa saja, penuh dengan kepedihan dan perjuangan, aku tidak mau mengulang atau mengingat masa itu kembali.

Begitu banyak kejadian yang terjadi di masa kecil kita, tetapi kamu sudah mengusahakan yang terbaik yang bisa kamu lakukan sampai pada hari ini. Berbicara tentang masa kecil bagiku begitu menarik untuk dicerita dengan segala segi keadaan. Aku bangga dengan setiap perjalananku di masa kesil sehingga membawa aku sampai di titik ini.

Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang begitu menantikan aku dan begitu mengasihiku. Aku adalah anak pertama dan cucu pertama bagi keluarga besarku. Aku begitu merasakan cinta dan kasih yang dinyatakan oleh kedua orang tuaku beserta kakek dan nenekku. Bagi mereka aku adalah cinta pertamanya.

Menjadi Cinta Pertama di Keluarga

perempuan dan di usia 30an
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Tirachard

Ayahku bekerja merantau bahkan saat aku masih ada diperut ibu. Namun, ayahku tidak pernah terlambat untuk mengirimi ibu surat setiap minggunya untuk menanyakan kabar ibu beserta aku. Aku mengetahui hal tersebut karena sampai saat ini, surat-surat tersebut masih tersusun rapi di dalam kotak kecil yang memang ibu persiapkan untuk aku bisa membacanya bahwa begitu sangat ayah mengasihi aku dan ibu.

Di usiaku 6 tahun, suatu malam ayahku mengajakku pergi ke atas rumah dan menunjuk pada sebuah bintang. Beliau mengatakan kamu akan bersinar secerah bintang itu. Aku yang pada saat itu tidak paham akan hal itu menimpali dengan begitu banyak pertanyaan. Keadaan tersebut berubah ketika ayah harus kembali ke pangkuan Bapa.

Kehidupan setelah Ayah Meninggal

travel di madiun
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Tirachard

Aku yang pada saat itu duduk dipanggil SMP sangat merasa kehilangan sosok ayah yang begitu mengasihiku serta menyesal. Menyesal karena bagiku tidak banyak waktu yang aku habiskan bersama ayah, karena ayah pulang dan pergi merantau sedangkan aku di masa pertumbuhan masih senang sekali untuk bermain dengan temans sebayaku.

Sampai pada akhirnya aku mengambil tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Begitu banyak pergolakan di dalam hatiku ketika melihat seorang anak perempuan bisa begitu mendapat perhatian seorang ayah.

Aku begitu sangat merindukan sosok ayah. Ayah yang ada untuk mengusap kepala aku sebelum tidur, ayah yang siap mendengarkan keluh kesahku, ayah yang siap memberikan dirinya untuk melindungi aku.

Sekarang usiaku sudah beranjak dewasa, sering sekali aku bosan dengan keadaan ini bahkan merasa lelah dengan pekerjaan. Ingin sekali rasanya datang kepada ayah dan bilang, “Ayah, aku capek."

Aku jadi sedikit paham bagaimana rasanya menjadi seorang ayah dengan tanggung jawab ini. Satu-satunya yang membuat aku harus kuat adalah keluargaku. Ibu beserta adik-adiku membutuhkan aku. Aku harus tetap kuat. Aku bisa membuat ayah bangga dengan apa yang aku lakukan buat keluarga saat ini.  

Aku bersyukur untuk setiap momen yang terjadi di dalam hidupku. Aku bersyukur memiliki role model sepertimu, Ayah, sehingga aku kuat untuk keluarga kita sampai hari ini. Terima kasih ayah sudah menjadikan aku cinta pertama di keluarga.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela