Saat Pria Sudah Melakukan Kekerasan Fisik, Tinggalkan Saja Dia

Endah Wijayanti26 Okt 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 26 Okt 2021, 10:00 WIB
suami selingkuh

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: R

Wanita digambarkan sosok yang lemah tapi sebenarnya luar biasa kuat. Banyak wanita bisa mengurus keluarga dan bekerja membantu keuangan keluarga. Luar biasa Tuhan menciptakan wanita. Aku akan berbagi cerita di sini dengan harapan semoga bisa ada hikmah didalam ceritaku.

Aku menikah di usia terbilang muda, yaitu 20 tahun. Menikah dengan kakak sahabatku sendiri dan kedua keluarga sudah saling kenal sejak kecil maka ketika menikah aku berharap bahwa pernikahanku akan baik-baik saja dan langgeng. Aku berasal dari keluarga dengan orangtua yang bercerai dan aku berharap aku tidak mengalami perceraian.

Akhirnya kami menikah dan ternyata sikap yang ditunjukkan berbeda dengan yang terlihat ketika kami pacaran selama 1 tahun. Ternyata dia adalah seorang yang temperamen. Apa pun penyebabnya siapa pun yang salah intinya aku tetap yang salah dan jadi pelampisan kemarahannya.

Semua aku terima karena pikiranku saat itu kan baru saja menikah masak mau pisah? Bagaimana kalau dia sadar terus tidak seperti itu lagi? Dan ternyata hal demikian adalah salah. Karena ketika pria sudah melayangkan kekerasan fisik ketika tidak ada kesalahan fatal dalam diri si wanita tinggalkan saja. Sebab itu menjadi gerbang pembuka dia akan melakukan lagi dan lagi. Dan itulah yang terjadi padaku.

 

Suami Melakukan Kekerasan

pasangan bertengkar
Ilustrasi/copyright shutterstock/shisu_ka

Di dalam pikiranku apakah pernikahan harus berakhir cepat? Bagaimana jika keluarga malu? Bagaimana jika nanti tidak seperti itu lagi? Dan pikiran-pikiran tersebut yang akhirnya membuat saya bertahan. Akhirnya ada anak, di situ kembali pikiran mendoktrin, "Kasihan anak-anak kalau ortu bercerai. Mungkin ada anak membuatnya berubah," dan membuat saya bertahan lagi.

Selama perjalanan perkawinan hampir tidak ada hari tanpa cacian makian pukulan kekhawatiran kecemasan. Bahkan di dalam pikiran saya sudah tercipta pemikiran bahwa apa yang dilakukan pria tersebut adalah karena mungkin saya yang salah sehingga dia marah. Karena orang-orang yang melakukan kekerasan fisik pada dasarnya juga melakukan kekerasan psikis.

Seperti yang saya alami. Saya didoktrin bahwa apa yang dia lakukan karena saya salah. Dia memukuli saya karena saya salah. Jika saya berani menggugat cerai saya akan berakhir jadi seorang pelacur. Saya tidak akan mampu hidup tanpa dia. Dan ketika hal tersebut berulang tiap hari saya seperti mengiyakan membenarkan apa kata dia.

Saya tidak sadar bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga yang sakit dan saya coba pertahankan membawa pengaruh jiwa pada anak-anak saya. Mereka semakin besar. Mereka tahu ibunya seperti apa. Mereka tidak rela ibunya diperlakukan seperti itu tapi mereka tidak berani melawan bapaknya untuk membela ibunya.

 

Meninggalkan Pernikahan yang Tidak Sehat

pasangan bertengkar
ilustrasi/copyright by takayuki (Shutterstock)

Sebenarnya pernah suatu ketika anak saya membela saya tapi malah menjadi ribut besar yang menurut saya membahayakan anak saya. Hingga pada suatu masa anak-anak saya berkata pada saya bahwa saya harus tinggal bapak mereka karena mereka mengkhawatirkan hidup saya. Dan jika mereka tidak boleh ketemu saya itu hanya sementara karena mereka akan tumbuh besar dan tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk bertemu saya.

Dengan kekuatan dan izin dari anak saya maka ketika suatu hari saya dipukuli saya tinggalkan rumah dan anak-anak. Dan sekarang anak-anak saya ikut dengan saya. Hidup saya lebih bahagia karena ketika dulu setiap hari hanya ada ketakutan dan tidak diizinkan untuk bersosialisasi dengan siapa pun bahkan dengan keluarga sekarang saya bisa berteman bekerja kumpul keluarga dan terpenting anak-anak memilih hidup dengan saya.

Pria tersebut tetap menyalahkan saya dan menjelek-jelekkan saya di depan anak-anak ketika mereka bertemu sehingga membuat anak-anak saya marah dan memutuskan tidak mau ketemu bapaknya. Dan sejak pertama anak-anak memilih ikut saya pria tersebut tidak mau bertanggungjawab atas hidup anak saya apa pun itu bentuknya. Tapi tidak apa-apa karena saya punya Allah SWT yang siap membantu saya.

Dengan kekuatan dan pertolongan dari Allah SWT saya bisa menyekolahkan anak-anak saya kuliah dan SMP. Ketakutan yang dulu saya rasakan ketika diancam jika saya mengajukan pisah maka hidup saya lebih sengsara tidak terbukti.

Saya lebih bahagia. Saya bisa semangat hidup. Dari cerita saya, saya ingin membuka mata hati wanita-wanita kuat. Jika ada kekerasan dalam rumah tangga walau sekali terjadi dan kita tidak melakukan kesalahan fatal maka berikan pelajaran pada pria untuk tidak mengulangi jika mengulangi lagi segera tinggalkan.

Jangan takut tidak bisa hidup tanpa mereka karena kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Kita berhak untuk bahagia. Karena mempertahankan perkawinan yang toxic membahayakan jiwa psikis anak-anak kita. Kasihan anak-anak kita jika hanya kita sebagai orangtuanya berikan tekanan jiwa pada mereka. Tetap semangat dan jangan takut. Tuhan akan bantu tiap hamba-Nya yang tersakiti. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela