Di Usia 19 Tahun, Aku Menikah dengan Pria Berusia 42 Tahun

Endah Wijayanti19 Jun 2022, 07:45 WIB
Diperbarui 19 Jun 2022, 07:45 WIB
menikah beda 14 tahun

Fimela.com, Jakarta Di bulan Juni ini, Fimela mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

***

Oleh: Ida Rz

Perkenalkan saya seorang ibu rumah tangga juga seorang guru di sekolah negeri (PNS) dan juga seorang wiraswasta. Di sini saya ingin membagi kisah tentang keluarga kecil kami.

Ya, keluarga kami (saya, suami, si sulung, anak gadis dan si bungsu). Sebenarnya kami punya 4 momongan, cuma Fathir Al-Kautsar anak kami yang ke dua sudah meninggal di usia 37 hari (semoga jadi penghuni surga). 

Saya menikah di usia 19 tahun dan suami usia 42 tahun. Kok bisa? Kalian pasti bertanya-tanya kok saya mau berumah tangga dengan laki-laki yang cukup dewasa yang cocoknya sebagai ayah saya.

Ya, sebenarnya kami jumpa pun tidak sengaja, rupanya suami waktu pertama jumpa sama saya langsung jatuh cinta. Saya waktu itu biasa kan ABG yang beranjak dewasa sedang kuliah juga, kepikiran untuk dekat denganny saja tidak ada apalagi sampai berumah tangga.

Singkat cerita, saya memang punya seorang pacar yang berstatus PNS di kantor bupati Bireun yang usia kami terpaut 5 tahun. Saya dan pacar saya pulang pergi ngampus selalu bareng, kebetulan sang pacar (mantan) kuliah kita sama cuma beda jurusan.

Saya sudah dikenalkan ke keluarganya juga sampai nenek dan tantenya juga sudah kenal. Dan saya juga sudah memperkenalkan dia ke keluarga saya tapi ibu saya kurang setuju jika saya berhubungan dengan pacar soalnya beliau takut mengingat kami keluarga kurang mampu (takut kalau saya dibuat kecewa oleh dia).

 

 

Pria yang Disukai Ibu

bridezilla dan dispensasi  menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/sonjachnyj

Suami saya waktu itu masih orang asing bertamu ke rumah saya dan mengutarakan kalau dia suka sama saya sama ibu saya dan ibu saya langsung suka. Sebenarnya saya juga heran kok ibu suka sedangkan pacar saya secara usia masih muda, cocoklah dengan usia saya, terus sudah mapan juga.

Sedangkan suami saya waktu itu hanya kerja serabutan. Saya sebenarnya keberatan dengan perjodohan ini dan saya juga tidak tega menolak permintaan ibu saya. Hingga akhirnya hari pernikahan kami ditetapkan. Waktu itu saya paling kasihan cowok saya yang selalu lewat di depan rumah kami. 

Setelah ijab kabul saya masih menganggap suami saya orang asing hingga ibu saya ngomong secara gamblang bahwa saya harus ajak suami ke kamar, yang mana kamar saya juga kamar suami juga. Kami tidak langsung bulan madu seperti orang lain, ngomong aja seperlunya.

Suami sangat pengertian dia tidak memaksa dan dia juga selalu support saya untuk kuliah juga honor waktu itu masih honorer di SD negeri. Hingga sebulan kemudian kami melakukan hubungan tapi kami sudah sepakat untuk tidak punya momongan dulu mengingat saya masih kuliah semester 3.

Oya, suami waktu itu merupakan perangkat desa yaitu sekdes yang otomatis dia lebih banyak di desanya ketimbang di rumah saya. Saya juga sangat sibuk, pagi bekerja sebagai pegawai honorer, siang kuliah hingga magrib. Begitu seterusnya hingga usia pernikahan kami 4 bulan. Ibu saya uring-uringan melihat keadaan rumah tangga kami yang belum ada kata saling mencintai tapi saya terpaksa malayani suami. 

Ibi kemudian berinisiatif untuk menyewa rumah untuk kami di desa suami agar kami bisa saling bersama, agar kami bisa berdua  dan makin saling kenal. Singkat cerita setelah kami tinggal bersama yang ada hanya kami berdua, rupanya saya mulai sayang sama suami, suami yang sangat perhatian juga pengertian dan pastinya begitu mencintai saya.

Menjalani Pernikahan

bridezilla dan restu mertua
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/tawanlubfah

Tahun pun berlalu saya akhirnya memutuskan memberi suami momongan mengingat usia yang tidak lagi muda waktu itu saya semester 5. Akhirnya saya hamil.

Alhamdulillah tanggal 9 September 2010 lahirlah putra pertama kami yang kami beri nama Sultan qadryansyah. Oya, setelah pindah rumah dan hanya kami berdua saya sangat bergantung dengan suami.

Alhamdulillah tahun 2011 saya menyelesaikan S 1 saya dengan cepat dan dapat nilai cumlaude, yaitu 3,84. Kemudian, Mei 2013 lahir putra ke dua kami yaitu Fathir Al-Kautsar tapi hanya 38 hari di titipkan pada kami. Kami menerima dengan lapang dada.

Tanggal 1 September 2014 kami kembali diberi titipan seorang putri yaitu Balqis Malika putri. Dan 3 Maret kembali bukti cinta kami lahir kembali yang terakhir putra kami Awliya Asfar. 

Singkat kata dan cerita cinta dan kasih sayang itu tiba dengan sendirinya dengan kita pupuk dan siramo dengan kadarnya. Alhamdulillah sampai sekarang keluarga kami baik-baik saja tanpa pernah terjadi KDRT ataupun suami marahin saya, karena suami saya ketika saya melakukan kesalahan pasti negur saya dengan istilah atau perumpamaan tanpa langsung menghakimi saya. Saya pun langsung sadar dan minta maaf sekiranya saya salah. Akhir kata, saya begitu mencintai suami saya yang tidak akan pernah tergantikan. 

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela