5 Hal Penting yang Kupahami di 3 Tahun Pertama Pernikahan

Endah Wijayanti27 Jun 2022, 11:15 WIB
Diperbarui 27 Jun 2022, 11:15 WIB
seribu cinta dan akhirnya menikah

Fimela.com, Jakarta Di bulan Juni ini, Fimela mengajakmu untuk berbagi cerita tentang keluarga. Untuk kamu yang seorang ibu, anak, mertua, menantu, kakak, atau adik. Ceritakan apa yang selama ini ingin kamu sampaikan kepada keluarga. Meskipun cerita tak akan mengubah apa pun, tapi dengan bercerita kamu telah membagi bebanmu seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela dalam Lomba My Family Story: Berbagi Cerita tentang Sisi Lain Keluarga berikut ini.

***

Oleh: Yosi Mutiara Pertiwi

Kata orang di lima tahun pertama pernikahan adalah masa yang cukup berat untuk dilalui. Ini ceritaku dengan masa tiga tahun pertama pernikahan.

Aku terbilang cukup cepat mengambil keputusan menikah. Baru pertama kali bertemu di Maret 2019 karena kunjungan pekerjaan, kemudian kami mantap untuk bertaaruf di Juni 2019. Tidak butuh waktu lama, akhir Desember 2019 kami melangsungkan akad.

 

 

 

 

 

 

 

1. Memahami Perbedaan yang Ada

seribu cinta dan satu dekade
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Gumpanat

Pada tahun pertama pernikahan, apakah aku merasa bahagia? Ya, tentu saja. Namun setiap pernikahan tentunya memiliki ujiannya masing-masing.

Perkenalan kami yang begitu singkat membuat kami perlu banyak waktu untuk perkenalan dan penyesuaian. Belum lagi latar belakang kami jauh berbeda. Aku suku Sunda, suami suku Minang.

Keluargaku pun tidak seharmonis keluarga suami. Latar belakang keluargaku sebelumnya adalah keluarga yang tidak cukup hangat. Kami jarang sekali berdiskusi. Segala macam keputusanku sering kuambil sendiri.

Aku pun tadinya juga merupakan tulang punggung keluarga. Bertemu dengan keluarga suami yang luarbiasa harmonisnya. Bukan hanya antara hubungan orangtua dan anak yang dekat, tapi dengan seluruh keluarga besarnya seperti dengan om-tantenya.

Aku butuh waktu untuk memproses segala yang terjadi sering kali harus melalui tahap "diskusi keluarga". Aku tidak menyalahkan pihak keluarga suami, aku sadar betul ini semua terjadi karena latar belakang yang berbeda.

2. Berdamai dengan Hal yang Sudah Berlalu

seribu cinta dan mencintai sahabat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81

Di awal pernikahan aku justru sempat menahan tangis ketika kumpul keluarga, karena keluarga suami benar-benar terasa hangat. Bersyukur pastinya karena aku merasa diterima bagai anak sendiri oleh mertua. Begitupun dengan adik ipar, kami bisa dengan cepat menjadi akrab. Tahun pertama penyesuaian mungkin terasa lebih berat dan canggung bagi suami untuk mengenal keluargaku.

Oh iya di tahun pertama ini juga aku melewati proses kehamilan pertamaku. Maha Baik Allah kami diberi kesempatan memiliki anak dengan cepat.

Pada tahun kedua pernikahan, kami sempat berkonflik karena aku merasa risih sosial mediaku masih dipantau oleh mantan kekasihnya suami. Iya kalian tidak salah baca, mantan kekasihnya suami yang stalking aku, tapi aku yang marah pada suami padahal dia tidak ada stalking mantan kekasihnya tersebut.

Aku berulang kali menanyakan "Apa kalian sudah selesai?" Padahal waktu itu lagu Joji - Glimpse of Us belum terkenal, bisa-bisa aku galau dan ribut berkepanjangan kalau lagu itu naik daun kala kami awal menikah. 

Dari suami tentu saja menghela napas mendengar pertanyaanku yang menurutnya konyol. Dia merasa tidak pernah mencari tahu kabar mantan pacarnya tersebut, tidak juga berkomunikasi. Lantas mengapa aku bertanya hal yang tidak perlu? Dengan menikahiku seharusnya itu adalah bukti bahwa aku pemenangnya dan tidak perlu meributkan masalalu yang tidak ada hubungannya lagi.

3. Berkompromi dengan Sejumlah Perubahan

seribu cinta dan kekerasan verbal
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/SunnyVMD

Aku saat itu memang masih kaget mengalami peralihan dari ibu bekerja tiba-tiba menjadi ibu rumah tangga. Sehari-hari aku yang biasa direpotkan urusan pekerjaan kini berubah hanya dengan bayi saja yang banyak sekali aku bingung dan tidak tahunya.

Ternyata perubahan mendadak itu membuatku sempat hilang arah dan merasa insecure dengan diri sendiri. Alhasil banyak hal yang tidak perlu dibesar-besarkan, diributkan justru aku membuatnya jadi ramai.

Seperti persoalan media sosialku yang di stalking mantan kekasihnya suami salah satunya. Dengan sabar suami menjelaskan mungkin mantan kekasihnya itu hanya penasaran saja karena tiba-tiba kami menikah, tanpa ada upload kebersamaan kami seperti orang pacaran lainnya sebelumnya.

Lama-lama aku pun berdamai dengan diri sendiri. Aku menemukan aktivitas lain agar tetap produktif sehingga kepalaku tidak dipenuhi hal-hal negatif. Aku bergabung dengan beberapa komunitas ibu-ibu baru agar bisa sama-sama sharing permasalahan dan kegundahan kami.

Kemudian aku lebih memilih mempercayai suamiku dan meyakini bahwa Allah SWT adalah sebaik-baiknya penjagaan, kutitipkan saja sudah padaNya segalanya. Aku berdoa memohon ketenangan hati, dan jika memang mantan kekasihnya belum move on agar segera diselesaikan dan ditenangkan hatinya. Jika sudah move on dan hanya kepo saja, aku pun tetap mendoakan yang terbaik untuk segala kebahagiaannya, mungkin memang aku yang terlalu terbawa perasaan.

4. Harus Selalu Siap Menyikapi Hal Tak Terduga

seribu cinta dan menanti momongan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/LightField+Studios

Menuju tahun ketiga pernikahan ada kejutan tidak terduga. Aku hamil anak kedua, padahal rencanaku hamil lagi ketika anakku sudah sekitar usia 3 tahun saja. Bahagia, bingung, gelisah, takut menjadi satu.

Aku merasa belum siap. Aku takut nantinya kehamilan keduaku membuatku terbatasi dalam menyayangi putri pertamaku. Suami menguatkanku, bahwa dengan dititipkannya anak kedua itu berarti kami dipercaya akan sanggup mengurus keduanya bersamaan.

Menuju kehamilan 3 bulan aku mengalami flek dan kontraksi di perut saat menyusui anak pertamaku. Dokter kandungan menyatakan sebaiknya aku menyapih anak pertamaku karena membahayakan kehamilan keduaku.

Aku menangis berhari-hari. Aku tidak rela selesai mengASIHi anak pertamaku, tapi aku juga takut anak keduaku menjadi gugur karena memaksakan tetap memberikan ASI. Kami lagi-lagi berusaha pasrah dan meyakini yang terbaik menurut ahlinya (dokter kandungan dan dokter anak), aku akhirnya menyapih anakku di usia 15 bulan.

Selesai drama sapih menyapih, tiba-tiba suami terkena cut off pengurangan karyawan karena efek pandemi covid. Kaget iya, tapi kami berusaha tetap tenang menyikapinya. Tabungan dana darurat kami syukurnya masih ada dan mencukupi keberlangsungan hidup kami.

5. Untuk Bisa Bertahan, Perlu Kerjasama yang Kuat dengan Suami

seribu cinta dan tepat waktu
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Meogia

Salah satu keputusan yang harus kami buat akhirnya adalah memilih kembali pulang ke kampung halaman suami. Tinggal satu atap kembali dengan ayah mertua kami. Ternyata tidak mudah tinggal satu atap dengan mertua setelah ada anak ini.

Tidak, kami tidak berkelahi ataupun berdebat lainnya. Hanya saja berbeda pola pengasuhan kepada anak yang sering kali membuatku terkadang kesal dan menangis sendiri. Aku yakin sekali maksud mertuaku baik, ingin memberikan apa saja kepada cucunya yang tersayang. Hanya saja beberapa hal sudah tidak sesuai dengan perkembangan anak zaman sekarang.

Yang terjadi di anakku adalah semenjak pindah kota dia sulit sekali untuk makan. Aku dan suami sama-sama mengusut akar permasalahannya. Ternyata selain jadwal makan yang berubah, hal ini juga dipengaruhi oleh Ayah mertua yang kerap memberikan buah, roti ataupun snack manis lainnya mendekati jam makan yang mengakibatkan anak tidak mau makan ketika memasuki jam makan berat. Sementara dari sudut pandang ayah mertua anakku tidak mau makan karena aku membiarkannya makan sendiri (tidak kusuapi). Padahal sebelum kami pindah anakku memang terbiasa makan sendiri dan berat badannya pun aman.

Hal ini terjadi berulang-ulang kali selama 3 bulan pertama kami kembali ke kota ini. Alhasil berat badan anak semakin jauh tertinggal dari yang seharusnya. Demi anak, kami sama-sama mengatur strategi. Kami berkomunikasi lagi dengan lebih baik agar pesannya sampai dan tidak menyakiti hati mertua.

Kami menerapkan rules ayah mertua diperbolehkan memberikan apapun itu pada cucunya dengan 1 syarat, harus setelah anakku melewati jam makan beratnya. Jangan sebelumnya. Harapannya agar gizi dan makanan lengkap (Karbo, protein dan lemaknya bisa masuk lebih banyak). Pelan-pelan anakku mengejar kembali berat badannya.

Setelah beberapa kali interview kerja, suami belum mendapat panggilan kerja juga. Akhirnya kami memutuskan untuk membuka usaha saja. Aku pun kondisinya sedang hamil anak kedua, jadi daripada tabungan yang ada terus habis tanpa terputar kami memutuskan untuk mencoba berwirausaha.

Konflik di awal pernikahan kembali muncul. Di mana aku dari latar belakang yang terbiasa apa-apa dibiarkan sendiri oleh orangtuaku. Aku didewasakan atau mungkin tepatnya dipaksa mandiri oleh kehidupan, bertemu keluarga suami (yang sebenarnya baik sekali) tapi aku merasa malu sekali karena ayah mertua mau membantu modal untuk usaha kami.

Aku merasa sombong dan berlagak kami ini sudah berkeluarga. Biarlah kami menentukan sendiri akan berlabuh kemana dan seperti apa perjalanan kami. Kasarnya, aku benar-benar tidak ingin melibatkan siapa-siapa selain keluarga inti kami.

Suami pun kembali menjelaskan bagaimana posisinya ia dan ayahnya. Ia menjelaskan bahwa ayah mertua bukan ingin ikut campur, bukan juga tidak mempercayai kami yang sudah membangun rumah tangga. Tapi segala kebaikannya adalah bentuk cinta dan sayangnya ayah mertua pada kami. Ayah mertua ingin men-support kami selagi ia masih bisa.

Setelah dipikir-pikir sekarang, harusnya aku bersyukur karena mendapat berkat dan privillige yang tidak semua orang miliki. Seharusnya kebaikan-kebaikan dari mertua tidak disalah artikan olehku. Sekarang kami masih terus menata diri dan kehidupan, kami masih merintis usaha dan sebentar lagi anak kedua kami akan lahir. Kali ini seorang putra.

Tiga tahun pernikahan kami kali ini akan dilengkapi menjadi keluarga dengan 1 putri dan 1 putra, bukankah ternyata Allah SWT ini Maha Baik sekali?

Kata orang memang ujian di 5 tahun pertama pernikahan itu seringkali terasa berat. Kami baru menjalani 3 tahun pertamanya, dan masih ada bertahun-tahun lagi ke depannya.

Semoga kami senantiasa diberikan kemampuan bersikap saling menghargai, terbuka, dan jujur dalam berkomunikasi. Semoga juga kami selalu ingat untuk melibatkan Sang Pencipta dalam melalui segala proses kehidupan ini.

Saran pribadi dariku untuk yang belum menikah, kenali diri kalian sendiri, jangan sangkal luka-luka pengasuhan (inner child) yang mungkin ada pada dirimu. Perbedaan itu wajar dan bukan untuk diributkan, sesekali coba ubah sudut pandang jika kita berada diposisi berseberangan, insya Allah akan lebih dimudahkan untuk mengerti. Jangan malu juga untuk mencari bantuan profesional jika memang membutuhkannya.

#WomenforWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela