Cek 5 Hal Ini Sebelum Putuskan Sudahi Hubungan Cinta

Vinsensia Dianawanti19 Sep 2022, 13:30 WIB
Diperbarui 19 Sep 2022, 13:30 WIB
pasangan bertengkar

Fimela.com, Jakarta Pertimbangan untuk mengakhiri sebuah hubungan cinta memang terkadang menjadi dilema tersendiri. Apalagi jika hubungan tersebut telah berlangsung lama sehingga sudah begitu banyak memori yang tercipta.

Dilema ini kerap muncul pada hubungan cinta yang toxic, LDR, adanya perselingkuhan, dan merasa lebih sering bertengkar daripada bersenang-senang bersama. Seorang psikoterapis menyebut banyak kliennya selalu berpegang pada kalimat, seperti "Mungkin jika saya memberikannya beberapa bulan lagi, segalanya akan berubah" dan "Mungkin kita hanya butuh ruang" membuat seseorang tidak bisa keluar dari hubungan tersebut.

Merasa dilema tentang mengakhiri sebuah hubungan cinta adalah hal yang masuk akal. Apalagi jika kamu telah menginvestasikan banyak hal dan pikiran untuk menjadi lajang kemudian bertemu orang baru adalah hal menakutkan.

Menurut studi di 2017 yang diterbitkan dalam Journal of Social Psychological and Personality Science, 49% peserta melaporkan adanya motivasi tinggi untuk ingin tinggal dan meninggalkan hubungan romantis mereka. Lantas bagaimana kamu tahu kapan hubungan cinta tersebut memang harus berakhir? Coba cek dengan lima hal berikut ini.

 

1. Apakah ada kekerasan dalam hubungan?

pasangan bertengkar tidak akur
ilustrasi cemburu bertengkar/Dragana Gordic/Shutterstock

Hubungan yang melibatkan penganiayaan fisik dan mental menjadi pertimbangan apakah kamu harus mengakhiri hubungan tersebut. Kekerasan dalam hubungan biasanya akan diakhiri dengan penyesalan pasangan yang melakukan kekerasan dan berjanji tidak akan mengulanginya. Pertanyaannya, apakah kamu yakin dia tidak akan mengulanginya?

Jika kamu tidak yakin sepenuhnya, segera cari bantuan sebelum mengakhiri hubungan cinta. Karena akan sulit untuk keluar dari hubungan yang ada kekerasan di dalamnya tanpa adanya bantuan dari pihak luar. Memiliki bantuan terlebih dahulu akan mempermudah kamu keluar dari hubungan kekerasan.

 

2. Apakah hubungan tersebut berpengaruh pada kesehatan mental?

Sangat sulit untuk mengetahui apakah hubungan yang kamu jalani memberikan pengaruh signifikan pada kesehatan mental. Namun satu tanda yang mungkin bisa menjadi petunjuk adalah adanya perasaan atau pikiran bahwa tidak ada orang lain yang bisa mencintai kamu, itu sudah menunjukkan tanda depresi.

Depresi yang kamu alami bisa membuat gelap mata tentang hubungan cinta yang dijalani. Bisa berujung pada pengambilan keputusan yang salah seperti hubungan yang sebenarnya layak dipertahankan, begitu pula sebaliknya.

 

3. Bertahan karena cinta atau kewajiban?

Menurut terapis pasangan Esther Perel, cinta bukanlah kewajiban melainkan hadiah. Jika kamu tetap bersama pasangan karena merasa kewajiban, seperti mendukung hingga lulus atau adanya hutang budi, akan membuat kamu tertahan dalam hubungan tersebut yang akhirnya menimbulkan sifat ketergantungan bersama.

Ini tidak sepenuhnya salah dan bisa menjadi hubungan ketergantungan yang sehat jika keduanya bisa saling mengkomunikasikan kebutuhan masing-masing. Sehingga keterlibatan kamu dan pasangan dalam hubungan bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

 

4. Pahami kebutuhan dan nilai diri

Bicara soal apa yang terbaik untuk diri sendiri tidak harus dengan alasan yang baik untuk mengakhiri sesuatu. Melalui terapi, jurnal, dan berbicara dengan teman akan membuat kamu paham lebih dalam tentang mengapa beberapa hal tidak berhasil dan apa yang mungkin kamu cari sebagai gantinya.

Secara umum, jika kamu merasa kesal karena tidak dihargai atau karena adanya kebutuhan tertentu tidak terpenuhi, coba evaluasi diri terlebih dahulu dari nilai-nilai mendasar. Mengenali situasi secara menyeluruh dapat membantu kamu memutuskan apakah konflik ini dapat diselesaikan.

 

5. Ada perbedaan yang benar-

benar tidak bisa ditolerirSetiap hubungan cinta penting untuk mengidentifikasi sesuatu yang menurutmu penting. Bagi beberapa pasangan, punya nilai-nilai yang berbeda bisa berhasil dalam hubungan. Namun ketika ada perbedaan yang memicu konflik, harus diidentifikasi dengan betul apakah perbedaan itu masih bisa ditolerir atau tidak.

Menurut konselor pasangan Laurie Watson, alasan terbesar kegagalan sebuah hubungan adalah karena pasangan melihat konflik mereka sebagai pertengkaran satu kali. Tanpa menyadari adanya pola dalam konflik mereka. Ketika kamu terus bertengkar dengan alasan dan argumen yang sama, itu artinya kamu dan pasangan tidak mentolerir perbedaan yang ada.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela