Kisah Hend Zaza, Atlet Termuda Olimpiade Tokyo Berlatih di Tengah Perang Suriah

Hilda Irach28 Jul 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 28 Jul 2021, 10:00 WIB
Kisah Hend Zaza, Atlet Termuda Olimpiade Tokyo Berlatih di Tengah Perang Suriah

Fimela.com, Jakarta Hend Abdul Rauf Zaza atau Hend Zaza mencatat sejarah sebagai atlet termuda dalam Olimpiade Tokyo 2020. Turun di cabang olahraga tenis meja, atlet asal Suriah ini baru berusia 12 tahun.

Sayangnya, kiprah Zaza di Olimpiade Tokyo 2020 hanya seumur jagung. Gadis berparas jelita ini langsung tersingkir pada babak pembuka, Sabtu (24/07/2021).

Dalam laga pertama Olimpiade Tokyo 2020, Zaza berhadapan dengan lawan yang usianya jauh lebih dewasa, yakni Liu Jia dari Austria berusia 39 tahun. Zaza kalah dengan skor 0-4.

Meskipun kalah, Zaza tidak menunjukkan tanda-tanda gugup, dia berhasil mempertahankan ketenangannya meski bermain dalam tekanan lawan.

Berlatih di tengah kondisi perang

Kisah Hend Zaza, Atlet Termuda Olimpiade Tokyo Berlatih di Tengah Perang Suriah
Atlet tenis meja Olimpiade Tokyo 2020 Hend Zaza menceritakan bagaimana perjuangannya berlatih di tengah suasana mencekam akibat perang Suriah. (FOTO: Instagram/mohd.shammaa).

Sang pelatih, Adham Jamaan mengatakan bahwa Zaza hanya perlu terus berlatih. Kekalahan akan menjadi pelajaran. Sebab, perjuangan Zaza untuk mencapai Olimpiade Tokyo tidaklah mudah.

Zaza memiliki keterbatasan berlatih karena kondisi Suriah yang sedang dilanda perang saudara. Dia hanya dapat berlatih sesekali pada siang hari akibat pemadaman listrik dengan suasana mencekam yang terjadi di tengah kondisi perang.

Ada kalanya, Zaza berjuang untuk menemukan raket dan bola saat dia berlatih di lantai beton dan meja usang.

Kesempatan bertanding terbatas

Kisah Hend Zaza, Atlet Termuda Olimpiade Tokyo Berlatih di Tengah Perang Suriah
Atlet tenis meja Olimpiade Tokyo 2020 Hend Zaza menceritakan bagaimana perjuangannya berlatih di tengah suasana mencekam akibat perang Suriah. (FOTO: Instagram/olympicsgames_tokyo).

Selain itu, Zaza hanya bisa berpartisipasi dalam dua atau tiga pertandingan eksternal setahun karena perang saudara Suriah. Penundaan pendanaan akibat kondisi perang juga menghambatnya melakukan perjalanan ke kompetisi Internasional.  

Meski begitu, kondisi ini tak mematahkan semangat Zaza untuk mencapai impiannya. “Selama lima tahun terakhir, aku telah melalui banyak pengalaman berbeda, terutama dengan perang yang terjadi di seluruh negeri dan penundaan pendanaan untuk Olimpiade,” kata Zaza, dikutip dari The Guardian.

“Ini sangat sulit, tetapi aku harus berjuang untuk itu. Dan ini menjadi pesanku kepada semua orang yang berada dalam situasi yang sama. Berjuanglah untuk impianmu. Tetaplah berusaha keras terlepas dari kesulitan yang kamu alami. Dengan begitu impianmu akan tercapai,” sambungnya.

Melansir dari Olympics, Zaza lahir di Hama, Suriah pada 1 Januari 2009. Sejak berusia 5 tahun, Zaza sudah menekuni ketertarikannya pada olahraga tenis meja. Zaza pun menjadi atlet termuda kelima yang tercatat dalam sejarah Olimpiade.

Motivasinya menjadi atlet tenis meja adalah didorong oleh sang kakak, Obaida yang merupakan juara nasional. Berkat dedikasinya, Zaza sudah mengantongi banyak piala kejuaraan di usianya yang belia hingga membawanya sampai ke Olimpiade Tokyo 2020.

 

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela