FIMELA FEST 2019: 3 Faktor Seseorang Melakukan Beauty Bullying, Ini Kata Psikolog

Anisha Saktian Putri19 Sep 2019, 15:00 WIB
Beauty Bullying di Instagram

Fimela.com, Jakarta Disadari atau tanpa disadari, cyber bullying kerap terjadi pada seseorang. Apalagi bagi perempuan yang selalu menerima social beauty bullying.

Berdasarkan data dari The Cybersmile Foundation, social beauty bullying telah menjadi permasalahan mainstream yang dialami lebih dari 45 juta perempuan di dunia. Ironisnya, tindakan tersebut kerap kali datang dari sesama perempuan, baik dari keluarga, kerabat, rekan sekantor ataupun teman yang dapat mempengaruhi sisi psikologis dari perempuan tersebut.

Psikolog klinis, Nauran Abdat mengatakan ada beragam faktor yang menyebabkan seseorang melakukan beauty bullying. Apa saja?

1. Budaya Patriaki

Menurut Nauran, banyak perempuan zaman dahulu yang tidak memiliki pemahaman tentang kompetisi. Karena pemikiran perempuan dahulu prialah yang lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan.

Banyak perempuan juga berfikir jika, nilai dirinya terdapat pada penampilan luar, bukan berasal dari dalam diri atau yang kita sebut inner beauty.

"Perempuan zaman dahulu kurang diberi ruang untuk menempatkan atau mengeluarkan agresi dirinya. Jadi emosi dipendam, dari situlah mereka mencari perhatian. Namun mencari perhatian tidak tepat dengan melakukan penghinaan terhadap orang lain," ujar Nauran saat ditemui Fimela.com, beberapa waktu lalu.

 

2. Bersaing

Beauty Bullying di Instagram
Ilustrasi Beauty Bullying di Instagram. (Foto: Tommy Huang/ Pexels)

Beauty bullying juga timbul karena adanya pemahaman mengenai cara bersaing yang keliru. Hal ini disebut Nuran sebagai bentuk defense mechanism. Dalam kondisi seperti itu, ketika seseorang butuh pembuktian untuk meningkatkan self value yang dibutuh mereka jadi cenderung menjatuhkan orang lain dengan berkomentar negatif.

3. Sering mendapat sindiran

Selain itu, bully terjadi karena seseorang kerap kali mendapat sindiran, sering sekali mendapat kata-kata negatif itu yang akhirnya membentuk pola pikir yg negatif, jadi berpikir berkomentar negatif hal biasa.

“Jadi banyak orang yang tidak mengerti dan sadar bahwa hal itu membuat orang sakit hati atau tersinggung. Jadi budaya nyinyir itu akhirnya biasa dilakukan. Perkembangan background kita dahulu penting, seperti lingkungan keluarga dan teman sering melakukan kata-kata negatif atau tidak atau sering mengalami intimidasi,” paparnya.

"Beauty bullying juga bisa terjadi karena keluarga ataua pasangannya selalu melontarkan komentar negatif. Alhasil, yang mengalami hal tersebut akan membalasnya dengan berkomentar negatif seperti beauty bullying pada orang lain," tutupnya.

Untuk memahami lebih dalam tentang beauty bullying, yuk, daftarkan diri kamu di sini dan raih kesempatan untuk menghadiri FIMELA FEST 2019.

#GrowFearless with Fimela

Simak video berikut

Lanjutkan Membaca ↓