Sukses

Entertainment

Anggun dan Variasi Hidupnya Kini

Next

Anggun

Arti “Echoes” untuknya.

Album ini menjadi sangat penting buatku karena aku baru punya label, April Earth, dan menjadi album hasil pertama yang dibawah label April Earth. Itu simbolik sekali, karena setiap album aku buat personal, tapi yang ini jadi lebih dalam lagi karena aku nggak hanya terlibat dalam proses kreatif, tapi juga dalam sisi bisnis, ya walaupun nggak terlalu mengerti bisnis. Buat aku penting sekali kebebasan dalam berkarya, biar nggak sering berantem sama record label.

Apa sensasinya mengerjakan album secara utuh?

Aku merasa segala sesuatu jadi lebih sensitif karena ini semuanya bergantung pada aku, dan namanya sebagai seniman aku ingin sukses, walaupun sebenarnya suksesnya sudah, karena kemarin waktu albumku keluar, ada beberapa fans yang bilang, “Mbak, aku senang banget karena abum ini bikin aku mikir.” Ini yang menjadi salah satu kesuksesan dan benar-benar sanjungan yang bikin aku senang banget, karena menulis lirik-lirik di album ini benar-benar makan waktu yang lama, kepikiran sampai tidur, bangun tidur nulis lagi dan seterusnya. Itu karena di album ini aku nggak mau ngomongin sekadar tentang cinta, walapun semua titik awalnya dari cinta, tapi aku lebih ingin lebih lebar, berbicara tentang kehidupan. Seperti lagu “Buy Me Happiness”, tentang seseorang yang kaya, yang bisa punyai 600 pasang sepatu Louboutin, tapi sadar bahwa kebahagiaan nggak ada di materi, uang yang dia punya nggak bisa memberikannya kebahagiaan.

Album ini menjadi cerminan betapa Anggun lebih dewasa memandang hidup

Dengan umur sudah mencapai 37 tahun dan punya 1 putri, aku bisa mengapresiasi dan melihat bahwa hidup itu ternyata banyak sisinya, nggak hanya 1 angle. Aku sering baca buku-buku yang kasih pedoman karena itu penting. Dan dulu ada aku pernah baca, kalau aku lagi bimbang, listen to the voice inside, tapi yang mana? Suara yang mana? Kemauan hati sama kemauan kepala kan beda, bisa nggak kompak. Dari situ aku nulis lagu judulnya “Cold War”, karena memang semacam menjadi perang dingin antara kepala dan hati. Apalagi dalam hidup selalu ada kontradiksi, harus beradaptasi, dan kompromi pasti ada. Tapi bagaimana caranya supaya hasil kompromi yang kita lakukan nggak kita sesali.

Publik Asia atau Eropa, untuk siapa album “Echoes” ditujukan?

Publik Eropa menarik karena input-nya banyak, karena banyak bahasa, jadi banyak kultur, jadi banyak masukan. Walhasil, mereka jadi lebih kritis, lebih apresiatif, sementara publik Amerika lebih segmented. Untuk sekarang, ketika aku menulis lagu ada semacam regime yang harus aku lakukan, yaitu nggak boleh sama sekali mikirin pasaran. Bahkan, aku sempat seperti puasa musik supaya nggak kena polusi.  Makanya, ada yang tanya kenapa aku malah bikin album yang pakai musisi beneran, sementara  sekarang trennya lagi house atau club. Sebenarnya aku udah lama banget nggak bikin album yang total musiknya dimainkan oleh manusia beneran. Memakan waktunya memang lebih lama, karena biasanya satu hari di studio bisa dapat 3-4 lagu, di album ini untuk satu lagu  bisa 3-4 hari. Dan bahkan, di beberapa lagu aku masukkan unsur orkestra dan menghabiskan waktu seminggu. Tapi, rasanya lebih sreg, mungin karena memang pas untuk di album ini. Dengan lirik dan musik yang seperti ini, inginnya memang dimainkan dengan cara yang seperti ini. Sepintar apapun programmer-nya, nggak bisa mengalahkan pemain aslinya.

Anggun adalah contoh sukses sebuah keberanian bernama go international. Seperti apa go international yang dijalaninya?

Pokoknya beradaptasi dengan sesuatu yang baru, nggak cuma bahasa, kultur, dan lingkungan. Segala sesuatu yang tadinya aku tahu di sini, di sana bakal diubah. Bagaimana caranya menerapkan, menghayati, atau belajar sesuatu yang baru, tanpa melupakan diri sendiri dan ciri khas. Itu yang selalu kuperjuangkan dan itu yang susah sebenarnya. Karena, kebanyakan orang kalau sudah sampai di sana melupakan sebelumnya seperti apa, itu yang aku sayangkan, dan aku nggak mau. Ya yang seperti dulu dibilang, no pain no gain.

Pernahkah putus asa?

Nggak pernah. Sebagai orang yang berbintang Taurus, aku keras kepala, namun justru kekerasan kepalaku ini yang sangat membantu. Gengsiku tinggi, kalau aku sudah memutuskan untuk pergi, pulang harus sudah sukses. Ini yang menjadi motor. Buatku, memotivasi diri sendiri susahnya setengah mati, yang gampang itu kalau jatuh sedih terus-terusan sampai depresi. Untuk berjuang membangkitkan diri itu yang susah. Dan, justru itu yang membuatku sadar kita hidup untuk siapa, kita lahir dan hidup untuk siapa? Bukan untuk orangtua, tapi untuk diri sendiri. Orangtua dan teman-teman nanti bisa ikut bangga, mudah-mudahan, tapi yang ngalamin semua siapa? Kan diri sendiri. Jadi, mau nggak mau motivasi itu harus datang dari dalam. Kita bisa dapat inspirasi dari buku-buku, kata-kata, tapi kalau kita nggak mau? Percuma.

Pernahkah Anggun menangis?

Aku menangis bukan karena ini itu, tapi untuk sesuatu yang bikin aku takut, yaitu  ada sesuatu yang menimpa keluarga atau orang-orang yang kusayangi, apakah itu sakit parah atau kematian.

 

Next

Anggun

 

Rasa penasaran publik akan keputusannya untuk mengganti kewarganegaraan masih saja terus dipertanyakan. Anggun punya jawabannya sendiri.

Mengganti paspor atau baju batik hanya atribut.

Nasionalisme terletak dalam bahasa. Aku prihatin sekali saat tahun lalu baca artikel di “Jakarta Post” yang menulis bahwa banyak anak kecil di Indonesia, di Jakarta terutama, yang nggak bisa bahasa Indonesia karena orangtuanya menyekolahkan di sekolah internasional, yang walhasil malah anak itu jadi nggak terlalu sosial karena hanya bisa bergaul dengan orang yang bisa Bahasa Inggris atau anak-anak kecil di sekolah tersebut. Itu buatku sangat disayangkan. Bahasa adalah identitas, ini sisi nasionalisme yang benar, apa yang bisa diberikan kepada negara, dan terus terang aku ganti paspor sudah 11 tahun. Anakku ngomong ke aku saja bahasa Indonesia. Aku darah daging Indonesia, cuma aku tinggal di Prancis, pasporku warnanya lain karena untuk kemudahan kerja. Aku nggak makan nasi saja masih lapar.

Keterlibatannya sebagai Duta Kemiskininan PBB adalah panggilan hati.

Buatku, kepekaan sosial adalah semacam tugas untuk semua orang. Aku pengennya nggak jadi goodwill ambassador untuk program ini atau juru bicara untuk program itu, tapi itu kan utopia, itu artinya kita hidup di dunia sempurna. Salah satu pelajarannya melakukan ini adalah menjadi suatu reminder yang selalu ingetin bahwa kita benar-benar nggak hidup sendiri, kita butuh orang lain. Aku beruntung dan bersyukur sekali setiap malam sudah dikasih semuanya dan kesempatan oleh Allah. Buatku, ketenaran fungsinya hanya untuk memberi suara kepada mereka yang nggak punya.

 

Next

Anggun

 

Dan, berlanjut membicarakan perubahan penampilannya sekarang yang chic dan seksi dari sebelumnya menjadi seorang rocker tomboi.

Transisi Anggun dari seorang lady rocker menjadi perempuan seksi seperti sekarang. Susahkah?

Aku hanya mengikuti hidup yang segala sesuatunya berbeda, mulai dari makan, baca buku, sampai tempat tinggal, semua itu kebutuhannya berbeda. Aku belajar mendengarkan kebutuhan diri sendiri, seperti mendengarkan hari ini kita mau makan apa. Sama halnya, aku mendengarkan diri sendiri hari ini mau pakai baju apa. Karena, aku yakin dan tahu bahwa fashion adalah sesuatu yang powerful. Cara kita berpakaian mengubah attitude. Kalau aku bangun pagi dan merasa malas, aku pakai baju yang super dressed up. Makanya, setiap hari aku pakai high heels karena itu seperti memberi allure.

Namun jangan salah, Anggun tetap saja memerlukan bantuan untuk urusan fashion.

Denise Ong, temanku orang Indonesia yang tinggal di Paris, membantu aku mencari-cari baju dan tampilan yang cocok dan dia sangat jujur. Kalau aku bilang bagus tapi menurut dia jelek, dia akan bilang jelek dan harus dicopot, makanya kita sering berantem.

Terakhir, ia menyebutkan apa yang ia banggakan dari tubuhnya.

Rambut, sebagai mahkota seorang perempuan, apalagi aku orang Jawa. Lalu, mata yang adalah jendelanya seseorang dan kulit yang adanya seperti ini dan kujaga dengan tanning. Dan, semakin berumur, seharusnya semain kurang yang kita taruh di muka. Keriput? Saya nggak takut, karena itu adalah saksi sejarah kehidupan. Tapi aku mengerti dengan orang-orang yang melakukan bedah plastik atau praktek yang less invasive seperti suntik Botox. Menurutku lakukan saja, karena apapun yang harus dilakukan sebagai perempuan untuk memberikan kepercayaan diri atau membuat bahagia, jangan pikirin yang orang lain pikir.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading