Sukses

Entertainment

Tragedi Amy Winehouse: Kisah Sebelum Kematiannya

Next

Amy Winehouse

2006

Di akhir tahun ini, muncul seorang penyanyi perempuan, bertubuh kurus, dengan tatanan rambut sekilas mengingatkan dengan karakter Marge Simpson, dan selalu disertai dengan riasan mata smokey eyes yang dramatis. Dialah Amy Winehouse, seorang penyanyi yang menyanyikan kehidupan pribadinya lewat album rekamannya berjudul “Back to Black”. Single “Rehab” yang menjadi lagu jagoan, menceritakan tentang penolakannya dibantu dan masuk rehabilitasi untuk mengatasi masalah adiksi dengan alkohol, obat-obatan, dan pesta, Ternyata, lagu depresif itu malah mengantarkannya ke posisi penyanyi jazz yang diperhitungkan, dan pada penyelenggaraan Grammy Awards ke-50 pada Februari 2008, album ini menjadi puncak kemenangannya karena ia sekaligus menyabet 5 penghargaan.

2007

Nama Amy Winehouse bukan lagi seorang penyanyi yang cuma mampu berjaya di sekitar Inggris saja, namun sudah berhasil menjajajaki tangga lagu dunia. Setelah debut album pertamanya, “Frank” dan disusul dengan “Back to Black”, kesuksesan internasionalnya menghidupkan kembali musik khas tahun 50-60’an yang berpadu pas dengan karakter vokal contralto yang powerful. Seiring dengan itu, perhatian publik juga ikut tertuju pada apa yang dilakukan dan menempel di dirinya. Penampilannya yang klasik, selalu diikuti dengan gaya tubuh yang setengah sadar, sehingga itu menguatkan bahwa Amy memang adalah seorang pecandu alkohol dan obat-obatan. Sempat ada penyangkalan dari pihak Amy tentang gaya hidupnya, namun itu sulit dibuktikan karena banyaknya konser dan jadwal tampilnya yang dibatalkan, dan itu membuatnya diprediksikan akan berkarier pendek. Tapi, prediksi itu nggak langsung terbukti benar, karena pujian dikirimkan untuknya dari Jay-Z, rapper dan produser musik ternama, yang dengan senang hati me-remixlagu-lagunya, sehingga kawasan pendengar Amy pun semakin meluas, nggak terbatas hanya hanya pada penikmat jazz. Kesuksesannya lalu beralih ke berita penangkapannya atas kepemilikan mariyuana, masalah domestik rumah tangganya dengan suami kontroversial,  Blake Fielder-Civil, dan problem kesulitan  mendapatkan Visa, serta masalah kesehatan, yang membuat jadwal konsernya menjadi susah dipegang ketepatannya.

2008

Tahun ini menjadi tahun perjuangan untuk Amy. Di satu sisi, image-nya sebagai figur publik pemadat semakin terbukti nyata dengan peredaran videonya di bulan Januari yang sedang menghisap kokain, kasus penyerangan di bulan April, dan penangkapan dirinya terkait obat-obatan terlarang di bulan Mei, sementara ia juga semakin diperhitungkan sebagai musisi yang berbakat. “Grand Prize” dari Grammy Award di tahun ini (dan nggak bisa dihadiri karena pengajuan visa-nya ditolak) memilih albumnya sebagai “Record of the Year”, diikuti dengan tingginya permintaan untuk melihatnya menyanyi, yang sayangnya menjadi sebuah “bencana” untuknya karena ia dinyatakan positif mengidap penyakit emphysema stadium 1 yang membuat nafasnya pendek akibat kecanduan rokok yang terhitung serius dan itu sangat mengganggu performa menyanyinya. Tercatat, di tahun ini ia sempat tampil menyanyi di konser pesta ulang tahun Nelson Mandela yang ke-90 tahun di Hyde Park, London, dan Bestifal, sebuah festival musik 3 hari di Robin Hill, Inggris, dengan keterlambatan berjam-jam sehingga waktu tampilnya dipotong setengah jam, namun nggak mengurangi sambutan meriah dari penggemarnya.

 

Next

Amy Winehouse

 

2009

Hidup nggak semakin mudah untuk Amy di tahun ini. Pemberitaan media massa semakin tertuju dengan naik turun hubungan dengan suaminya, yang diwarnai dengan aksi kekerasan, namun Amy nggak mau menceraikannya karena menganggap bahwa Fielder-Civil adalah versi laki-laki dirinya yang kepribadian dan keanehannya sangat cocok dengannya. Amy juga harus membatalkan jadwal tampilnya di festival musik Coachella karena masih terkait dengan kasus hukumnya yang belum tuntas di tahun sebelumnya. Isu kesehatan juga menjadi sorotan untuknya di tahun ini, namun nggak menyurutkan semangatnya untuk tampil di acara-acara musik, walapun akhirnya selalu dibatalkan olehnya, seperti di V Festival pada bulan Agustus. Menutup tahun, Amy kembali bersinggungan dengan kasus hukum, kali ini adalah tuntutan penyerangan kepada seorang theater manager, Richard Pound, yang mengadukan ke polisi bahwa Amy menjambak rambut, meninju, dan menendangnya, karena Richard meminta Amy untuk bergeser kursi di acara pementasan “Cinderella” di sebuah teater di Inggris. Anger management memang juga menjadi salah satu masalah Amy yang sulit dikendalikan.

2010

Nggak banyak yang dilakukan Amy di tahun ini. Ia terdengar mempunyai proyek mengerjakan single “It’s My Party” milik Lesley Gore untuk album tribute Quincy Jones dengan Mark Ronson, seorang musisi dan produser musik asal Inggris. Bersama Mark juga merancang album ketiganya, namun beberapa kali terhambat akibat kesulitannya untuk bepergian dengan penolakan Visa yang terus berlanjut, sehingga membuatnya ingkar janji kepada semua penggemarnya tentang album baru yang sebelumnya sudah dijanjikannya tahun ini. Di tahun ini, Amy juga terlihat tampil dalam sebuah acara musik bersama Mark Ronson, namun mengacaukan sendiri penampilannya saat menyanyikan track “Valerie”, dimana liriknya kacau balau, dan setelah itu ia terlihat minum dan rusuh di belakang panggung.

2011

Tahun ini bisa dibilang adalah tahun kemunduran untuk Amy. Beberapa penampilannya di atas panggung, bukannya mengundang tepuk tangan, malah menuai sorakan kekecewaan dari penonton atas aksi panggungnya yang memburuk. Di bulan Februari, ia tampil di Dubai dengan hasil mengecewakan karena tampil dalam keadaan mabuk, begitu pula saat ia menggelar konser keliling Eropa, dimana saat tampil di Belgrade ia benar-benar buruk karena (kembali) tampil dalam keadaan mabuk, yang membuatnya lupa sedang berada di kota apa, lupa nama-nama anggota bandnya saat ingin memperkenalkan mereka ke penonton, lupa lirik lagu, dan finalnya adalah menjatuhkan microphone. Setelah itu, jadwal konsernya pun banyak yang dibatalkan. Tahun ini juga diwarnai dengan agendanya keluar masuk rehabilitasi, namun nggak berhasil membuatnya bersih. Akhirnya, perempuan yang menambah deretan nama musisi yang meninggal di usia 27 tahun ini, dinyatakan meninggal di apartemennya di London hari Sabtu kemarin dengan sebab kematian yang belum jelas, karena baru Senin ini ia dijadwalkan akan diotopsi. Di balik masalahnya yang bertubi-tubi, para figur publik dunia nggak sedikit yang menyampaikan bela sungkawa dan kekaguman mereka atas bakat dan pengaruh musik yang dibawakan oleh perempuan biseksual ini. Finally she checked into rehab.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading