Bicara soal feminisme, Meghan Markle gunakan kalung bersejarah

Vinsensia Dianawanti29 Okt 2018, 13:00 WIB
Bicara soal feminisme, Meghan Markle gunakan kalung bersejarah

Fimela.com, Jakarta Perjalanan tur kerajaan Pangeran Harry dan Meghan Markle masih berlanjut hingga akhirnya mereka tiba di New Zealand. Sejak tiba di New Zealand, Pangeran Harry dan Meghan Markle langsung melakukan sejumlah kegiatan seperti mengunjungi Pukeahu National War Memorial Park dan Goverment House untuk sebuah acara yang diselenggarakan oleh Gubernur Jenderal Selandia Baru.

Di sana, Meghan Markle melakukan pidato dan ini yang menjadi yang ketiga sepanjang tur kerajaan. Ia berbicara soal pemberdayaan perempuan dan pentingnya feminisme bagi perempuan.

Berbicara di hadapan para tamu yang hadir soal feminisme, Meghan Markle juga mengenakan kalung yang memiliki makna khusus. Kalung ini memberikan aksen glamor pada penampilan Meghan Markle yang mengenakan gaun hitam rancangan Gabriela Hearst. Tak hanya itu, sebenarnya kalung ini merupakan penghargaan bagi Selandia Baru.

Kalung ini merupakan rancangan desainer kelahiran Selandia Baru, Jessica McCormack yang menjadikan kalung ini cukup bersejarah. Kalung ini terinspirasi dari tattoo pendant dengan berlian yang disusun spiral mirip seperti daun pakis menandakan kerendahan hati. Menurut tradisi Maori ini disebut Ta Moko yang berarti seni menandai kulit seseorang secara permanen.

 

Makna khusus kalung Meghan Markle bagi sejarah Selandia Baru

Seni Ta Moko sendiri menjadi penciptaan tato pribadi yang menggabungkan tempat kelahiran dan leluhur untuk status sosial dan pankat. Sementara koru merupakan nama pakis yanng ditemukan di Selandia Baru. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan lingkaran tidak pernah kusut.

Jessica McCormack merupakan seorang desainer perhiasan yang suka menggunakan simbol ikonik khas Selandia Baru. Ia ingin memberi penghormatan pada Selandia Baru dan orang-orang tinggal di sana.

Lanjutkan Membaca ↓