Mengulik Cara Hidup Masyarakat NTT dari Koleksi Terbaru Happa

Annissa Wulan11 Feb 2019, 08:00 WIB
Happa

Fimela.com, Jakarta Beberapa waktu belakangan, NTT menjadi satu kawasan di Indonesia yang sangat digandrungi oleh masyarakat lokal, maupun mancanegara, terutama untuk alasan wisata. NTT memiliki budaya yang menjadikan adat istiadat sebagai penunjuk jalan (Hulu Laran) atau cara hidup keseharian yang penting dalam kehidupan sosial berbagi suku di sana.

Dalam koleksi yang bertajuk Hulu Haran Resort 2019 kali ini, Happa terinspirasi untuk mengangkat kisah Sang Penyair dari timur dan Tari Caci dari barat sebagai inspirasi koleksi terbarunya. Yang pertama adalah cerita leluhur "Wato Wele-Lia Nurat," tradisi lisan penyair sastra dari suku Lamaholot, NTT.

Para penyair ini adalah orang pilihan yang dipercaya mendapat anugerah untuk bersyair dari Bintang Jatuh (Mnuno Buno.) Ketika sang penyair sedang bertutur, ia didatangi dan didampingi oleh Sili Gokok, burung elang yang juga diyakini memberikan sang penyair kemampuan bersastra.

Syair yang dilantunkan biasanya mengandung fungsi sosial atas kekuasaan di daerah tersebut, dituturkan dalam ritual pernikahan, upacara penguburan, pembukaan ladang, dan panen. Melalui koleksinya, Happa merepresentasikan kisah sang penyair dalam bentuk bordir dan print di kain.

Sastra lama suku Lamaholot, NTT terlihat pada aksen bordir yang diaplikasikan secara detail. Ilustrasi print pada kanvas linen dan katun juga mengadaptasi simbol-simbol pemberi kekuatan sang penyair, seperti bintang jatuh, burung elang, dan perumpamaan sang penyair itu sendiri.

 

Happa
Mengulik budaya masyarakat NTT dalam koleksi Hulu Haran dari Happa. Sumber foto: Akun instagram @happaofficial.
2 of 2

Koleksi Hulu Haran dari Happa

Happa
Mengulik budaya masyarakat NTT dalam koleksi Hulu Haran dari Happa. Sumber foto: Akun instagram @happaofficial.

Kisah lainnya adalah Tari Caci, kesenian daerah suku Manggarai, tari perang antara dua orang penari pria. Mereka akan bertarung memperebutkan kesempatan menggunakan cambuk dan perisai.

Adanya pihak menang dan kalah berfungsi untuk mengajarkan kedamaian dan sportivitas. Tarian ini biasanya dilakukan sebagai ritual untuk bersyukur di saat musim panen, tahun baru, dan upacara adat lainnya.

Desain dan warna dalam koleksi Happa kali ini merupakan interpretasi modern dari kostum tradisional Tari Caci, seperti biru, kuning mustard, merah marun, hijau tosca, dan hitam. Sedangkan padu padan busana tumpuk diadaptasi dari gaya pakaian tradisional masyarakat NTT.

Lanjutkan Membaca ↓