Tren Tie Dye, Dedari Hadirkan Busana Premium dengan Motif Khas Bali

Karla Farhana02 Des 2020, 11:30 WIB
Diperbarui 02 Des 2020, 11:30 WIB
tie dye

Fimela.com, Jakarta Fashion busana memang selalu berkembang pesat. Tak jarang, tren busana lawas bisa kembali menjadi hype, seperti yang dialami model tie dye.

Corak busana tie dye sedianya sudah populer pada 2010 silam, saat desainer Dian Pelangi sukses mencuri perhatian pasar. Kini, busana dengan teknik pewarnaan bahannya menggunakan metode ikat celup itu pun kembali digemari masyarakat dengan berbagai model pakaian.

Melihat tren ini, Atika Nurina, pegiat UMKM dari Bali menjual busana bercorak tie dye dengan brand Dedari di akun @dedaribali. Dia mengakui jika belakangan busana bermotif tie dye kembali mendapat banyak peminat. Ia yang sudah mulai berbisnis secara online sejak 2010 lalu itu pun merasakan dampak atas kembalinya tren corak ini di masyarakat.

"Alhamdulillah usaha lancar. Ya namanya usaha kadang naik kadang turun. Jadi saya pilih (jualan) tie dye ini karena waktu itu booming Dian Pelangi, sampai sekarang tetap di Tie Dye," kata Atika Nurina.

Saat ini, Dedari sendiri sudah mampu memproduksi sendiri motif-motif tie dye yang sesuai dengan permintaan para pelanggannya. Atika selaku owner pun sudah lama bekerjasama dengan para pengrajin lokal di Bali untuk membuat motif tie dye yang berkualitas dan memiliki ciri khas tersendiri.

Piyama

tie dye
tie dye Dedari Bali | instagram.com/dedaribali

Selain tie dye, piyama yang sekarang sedang ramai peminat, Dedari juga memproduksi beberapa item lain seperti kerudung, mukena, dan busana muslim untuk digunakan di berbagai kegiatan. Bahkan, dengan pengalamannya hampir 10 tahun menggeluti bisnis busana bercorak ini, Atika pun sudah mau menerima pesanan motif tertentu.

"Saya sekarang sudah produksi sendiri, jadi saya juga terima custom order motif. Dalam bentuk kain juga ada beberapa brand custom ke saya motif tie dye-nya," paparnya.

"Saya juga ada tukang batik sendiri yang langganan yang mau mengerjakan motif yang saya kasih, karena beberapa orang yang kerjasama untuk motif Tie Dye tuh nggak mau karena prosesnya lama, rumit karena tekniknya beda-beda," lanjut Atika.

Meski sudah terbilang mapan dalam usahanya bermain di busana motif tie dye dalam kurun waktu 10 tahun belakangan, namun nyatanya sampai saat ini Atika Nurina mengaku belum memiliki niatan membuka toko secara offline. Kemajuan teknologi dan luasnya pasar yang bisa dijangkau saat berjualan online membuatnya lebih nyaman menjadi ibu rumah tangga sambil mengurus bisnis melalui gadget.

"Saya lebih suka fokus di digital marketing. Saya lebih suka menambah di produksi sambil meningkatkan digital marketingnya. Jadi belum kepikiran buka toko, paling kalau orang mau datang bisa ke workshop," pungkasnya.

#Changemaker

Simak Video Berikut

Lanjutkan Membaca ↓