Sukses

Fashion

[Vemale's Review] Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991 -Pidi Baiq

Judul: Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Penyunting naskah: Andika dan Moemoe
Penyunting ilustrasi: Pidi Baiq
Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Febti Sribagusdadi Rahayu
Layout sampul dan seting isi: Tim pracetak dan Deni Sopian
Cetakan XII, Juni 2016
Diterbitkan oleh Pastel Books, Anggota Ikapi, PT Mizan Pustaka

Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah bisa karena berpisah.
- Pidi Baiq (1972-2098)

Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991, novel ini masih bercerita soal kisah Milea dan Dilan. Masih juga diceritakan dengan sudut pandang Milea. Hanya saja bedanya, kalau di Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 sebelumnya bercerita tentang kisah pdkt Dilan pada Milea yang unik hingga akhirnya jadian, Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991 ini menceritakan lika-liku perjalanan cinta mereka berdua. Konfliknya menurut saya lebih banyak dan beneran deh bikin ikutan nyesek waktu bacanya. Tapi tetap akan dibuat ketawa dengan gaya bercanda Dilan yang kadang garing juga absurd.

Dilan masih aktif sebagai anggota geng motor, bahkan ia adalah seorang Panglima Tempur. Sesuatu yang sebenarnya tak disukai Milea. Namun, Milea punya alasan sendiri kenapa mau jadian dengan Dilan. Bagi Milea, Dilan selalu bisa membuatnya merasa istimewa dengan berbagai kejutan hingga pola pemikirannya yang berbeda dari orang kebanyakan. Menyimak obrolan Milea dan Dilan (baik saat tatap muka atau via telepon) selalu seru meski ya kadang agak garing juga.

Foto: copyright Vemale/nda

Paras yang cantik membuat Milea gampang didekati kumbang. Sebut saja Kang Adi, mahasiswa ITB yang juga menjadi guru lesnya setiap minggu dan Pak Dedi, calon guru magang di sekolah Milea. Tapi, hatinya tak goyah, cintanya masih tetap untuk Dilan semata.

”Aku hanya ingin Dilan, meskipun semua orang akan bilang aku bodoh karena memilihnya, tapi aku ingin bersama orang yang selalu bisa membuat aku merasa senang dengan apa yang dia katakan. Aku ingin bersama orang yang bisa membuat aku suka dengan apa yang dia ucapkan! Aku ingin bersama orang yang bisa membawa hal baru, yang lain dari umum dan menyenangkan, sehingga rasanya semakin lama duduk dengannya malah semakin ingin ditambah lagi waktunya.”
(hlm. 61-62)

Tapi kisah cinta Milea dan Dilan juga tak serta merta berjalan mulus. Mulai dari Dilan yang akhirnya harus pindah sekolah, permasalahan dengan Anhar yang sempat bikin Bunda (Ibu Dilan) ikut naik pitam saat dihampiri Ibu Anhar, hingga kematian Akew (sahabat Dilan). Pertemuan Milea kembali dengan Yugo, Yugo yang melakukan tindakan di luar batas pada Milea, Dilan yang tak menuruti peringatan Milea, Dilan yang ditangkap polisi, Dilan yang nekat menginap di rumah Burhan, sampai ketika Bunda memarahi Dilan di depan Milea. Juga soal munculnya sosok Mas Herdi di kehidupan Milea.

Sebuah keputusan berat akhirnya harus diambil Milea dan Dilan. Tampaknya ketakutan untuk kembali saling menyakiti membuat mereka mengambil keputusan tersebut. Meski sebenarnya kalau mereka mau, segala sesuatunya bisa diperbaiki. Ah, jadi ikutan galau, deh.

Bayangkan, di saat kita sedang mencintai seseorang, pasti kita akan cenderung untuk bisa memberikan perasaan kita sepenuhnya, dan manakala seseorang itu pergi, rasanya seperti bagian dari kita telah lenyap.
(hlm. 319)

Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, kukira itu sudah bagus. Mari biarkan.
(hlm. 342)

Salah satu sosok yang paling saya kagumi di sini adalah Bunda (Ibu Dilan). Rasanya wanita manapun akan beruntung kalau bisa jadi menantu Bunda. Bunda yang begitu perhatian dan begitu sayang. Tak pernah menghakimi, malah selalu berusaha mengayomi. Tidak mengekang Dilan tapi justru membebaskannya dengan memberinya tanggung jawab. Dan selera humornya itu juga unik (ketahuan deh Dilan mewarisi sifat siapa).

Foto: copyright Vemale/nda

Di novel ini, kita juga diajak bernostalgia dengan berbagai hal menarik yang pernah ngetren di tahun 90an. Seperti soal potongan rambut ala Demi Moore dan permen karet Yosan. Generasi 90an pasti dulu waktu kecil juga pernah kena imbas tren tersebut.

Kisah Dilan dan Milea memang bukan kisah yang luar biasa. Kisahnya sederhana tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Apalagi dengan latar tahun 90an, kita seakan dibawa ke lorong waktu ke zaman yang mungkin tak pernah kita rasakan sebelumnya. Di kota Bandung yang nggak macet dan masih sejuk. Tak ada ponsel apalagi media sosial. Waktu terasa berjalan lambat tapi bersahaja dengan kenangan-kenangan tak terlupakan.

 

 

 

(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading