Dualisme Kehidupan Menjelma dalam Koleksi Terbaru SVH Juxtaposition Fall Winter 21/22

Hilda Irach04 Des 2021, 09:24 WIB
Diperbarui 04 Des 2021, 09:24 WIB
Dualisme Kehidupan Menjelma dalam Koleksi Terbaru SVH Juxtaposition Fall Winter 21/22

Fimela.com, Jakarta Brand lokal SVH meluncurkan koleksi terbaru mereka yang bertajuk "Juxtaposition" Fall Winter 2021/22. Koleksi ini terinspirasi dari dualisme dalam kehidupan, dua konsep yang berdampingan dan saling bertolak belakang.  

Creative Director SVH, Bengki mengangkat dua konsep utama dalam koleksi Juxtaposition ini, yakni denial (penolakan) dan acceptance (penerimaan). Kepada Fimela Bengki menjelaskan, konsep ini hadir terinspirasi dari kondisi yang terjadi selama pandemi Covid-19. Awalnya masyarakat melakukan penolakan dalam dirinya pada situasi pandemi, namun kemudian perlahan mulai menerima kondisi tersebut.

Fase kehidupan manusia berupa denial dan acceptance ini kemudian diterjemahkan dalam sebuah ilustrasi kain khusus yang menjadi benang merah dari koleksi ini. Fase kehidupan inilah yang menginpirasi Bengki untuk menerjemahkannya ke dalam 40 look untuk koleksi busana Juxtaposition.

“Juxtaposition adalah selebrasi kehidupan yang di dalamnya terdapat fase-fase dalam kehidupan kita. Tapi aku ambil dua, yaitu denail (penolakan) dan acceptance (penerimaan),” ujar Creative Director SVH, Bengki saat dijumpai Fimela di pop-up stor SVH di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (3/12/2021).

 

Elemen-elemen denial

Dualisme Kehidupan Menjelma dalam Koleksi Terbaru SVH Juxtaposition Fall Winter 21/22
Brand lokal SVH meluncurkan koleksi terbaru bertajuk Juxtaposition Fall Winter 21/22. (Doc/SVH).

Dalam konsep denial, Bengki menghadirkan elemen ilustrasi berupa burung gagak, jarum jam, dan segitiga yang mengarah keluar. Setiap elemen ini memiliki filosofi yang mendalam.

Burung gagak yang diartikan sebagai pengingat waktu bagi manusia, jarum jam yang menggambarkan perjalanan hidup manusia, hingga segitiga yang mengarah keluar yang diartikan sebagai penolakan.

“Selain itu, pemilihan palet warna dalam busana konsep denial ini juga warna gelap. Karena denial itu sejatinya fase yang menggambarkan keterpurukan manusia dan tidak bisa menerima (keadaan). Jadi mereka in the dark place, oleh karena itu saya pilih warna gelap," tutur Bengki.

 

Elemen-elemen acceptance

Dualisme Kehidupan Menjelma dalam Koleksi Terbaru SVH Juxtaposition Fall Winter 21/22
Brand lokal SVH meluncurkan koleksi terbaru bertajuk Juxtaposition Fall Winter 21/22. (Doc/SVH).

Berkebalikan dengan denial, untuk konsep acceptance Bengki menerjemahkannya dalam palet warna yang cerah seperti abu-abu, oranye, dan kuning. Adapun elemen ilustrasi yang digunakan adalah berupa kunci, burung royal fly catcher, buah jeruk, dan buah delima yang memiliki arti berdamai diri sendiri, bersinar kembali, dan obat. Dua konsep busana ini paling ditonjolkan dalam koleksi Juxtaposition.

Berbeda dari koleksi SVH sebelumnya yang cenderung wild, baik dari segi warna maupun styling. Kali ini dalam koleksi Juxtaposition, Bengki menciptakan koleksi busana yang mature, namun tetap tidak menghilangkan DNA SVH yang versatile, unisex, dan playful. Terlihat dalam crop blazer yang dipadukan dengan cargo pants warna biru tosca. Cocok untuk kaum urban yang aktif dan menginginkan tampilan yang simple namun tetap tampil dalam nuansa city look.

Daya tarik lainnya adalah cocktail dress warna stabilo dengan material nylon yang dirancang dalam teknik quilt. Adapula blazer dengan material tweed yang tengah menjadi tren di pasaran. Beberapa item lainnya hadir dalam koleksi Juxtaposition ini, mulai dari jaket, celana, hingga oversized fluffy coats.

 

Usung konsep slow fashion

Dualisme Kehidupan Menjelma dalam Koleksi Terbaru SVH Juxtaposition Fall Winter 21/22
Brand lokal SVH meluncurkan koleksi terbaru bertajuk Juxtaposition Fall Winter 21/22. (Doc/SVH).

Brand yang telah berdiri sejak tahun 2017 ini juga menunjukkan kontribusinya bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan menerapkan konsep slow fashion. Bengki menuturkan alasan menerapkan konsep ini adalah agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. 

Dalam hal ini, SVH berkomitmen untuk memprioritaskan hal-hal penting danmemberikan kesan yang baik terhadap keberlangsungan planet Bumi. A celebration of youth,vibrance and creativity in a form of fashion.

“Kami support slow fashion. Kontribusi setiap orang untuk lingkungan tentu berbeda-beda, namun untuk SVH kami menerapkan slow fashion, yaitu menciptakan baju yang awet dan bisa digunakan dalam jangka waktu lebih lama sehingga orang tidak harus terus membeli baju. Selain itu, koleksi ini juga unisex sehingga bisa digunakan oleh baik pria maupun wanita," timpal Bengki.

“Nah, ini juga menjadi alasan mengapa baju SVH rata-rata oversized, agar bisa dikenakan turun menurun seperti dari kakak kemudian ke adik. Selain itu, buat beberapa orang baju ada memorinya,” kata Bengki. 

SVH adalah brand lokal asal Bandung  dengan memperkenalkan konsep desain genderless dan versatile dalam setiap karya yang diciptakan. Setiap desain rancangan SVH seakan memberi kebebasan bagi para penggunanya untuk bereksplorasi.

Koleksi Juxtaposition dari SVH dibanderol mulai dari Rp300 ribu hingga Rp2 juta. Koleksi ini bisa diperoleh di laman resmi SVH, platform e-commerce, ataupun datang langsung ke Pop Up Store perdana SVH di Wijaya Grand Centre Jakarta hingga tanggal 6 Desember 2021 mendatang.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela