Lady Boss: Berkreasi Kembangkan Hijab Simple Ala Ria Miranda

Nizar ZulmiSyifa Ismalia24 Mei 2022, 10:00 WIB
Diperbarui 02 Jun 2022, 20:58 WIB
Lady Boss: Ria Miranda

Fimela.com, Jakarta Nama Ria Miranda sudah tidak asing didengar publik sebagai desainer kebanggaan Tanah Air. Lewat sentuhan tangan kreatifnya, busana hijab brand RiaMiranda selalu menjadi incaran banyak orang, khususnya perempuan Muslim.

Namun di balik reputasinya yang harum sebagai seorang desainer terdapat perjalanan yang tak mudah. Apalagi di awal karier, ia sempat tak mendapat restu orang tua untuk meniti karier sebagai desainer. Kala itu profesi tersebut dianggap kurang menjanjikan.

Kendati begitu, perempuan keturunan Minang ini tak pantang menyerah dan selalu berusaha membujuk kedua orang tua untuk merestui mimpinya menjadi seorang desainer. Pada akhirnya, kedua orang tuanya luluh dan mengizinkannya merantau ke Jakarta demi melanjutkan sekolah fashion desain.

"Terus setelah lulus, aku izin ke orang tua buat sekolah di ESMOD Jakarta ambil jurusan fashion desain. Setelah lulus, sempat juga jadi fashion stylist di salah satu majalah, jadi asisten desainer juga. Perjalanannya memang cukup panjang untuk brand ini. Tahun 2009 memantapkan diri membuat brand Ria Miranda," tutur Ria Miranda saat wawancara eksklusif dengan FIMELA.

Berbicara mengenai bisnis RiaMiranda, dia mengaku semua berawal dari kebutuhan pribadinya di tahun 2005. Di mana saat itu, dia sempat kesulitan mencari baju dan hijab sesuai dengan kepribadiannya.

Lady Boss: Ria Miranda
Lady Boss: Ria Miranda (Foto: Adrian Putra, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

"Dimulai dari kebutuhan pribadi, aku kan baru mulai hijab dan kesulitan nyari baju yang sesuai dengan personality aku. Terus aku mikir gimana ya. Terus style yang aku suka ini, aku posting di blogspot. Dari situ banyak yang tertarik dan nanya ini dijual atau tidak. Setelah itu akhirnya aku jual dan produksi mungkin 12 pcs," ujarnya.

"Aku bikin pola dan jahit sendiri. Kalau ingat perjuangan dulu memang panjang ceritanya. Sampai ada artis yang tertarik, terus dipakai dan berkembang dari situ, banyak yang lihat, order dan alhamdulillah sekarang ada beberapa cabang butik dari Sabang sampai Marauke," tambahnya.

Saking banyaknya orang yang suka dengan karyanya, Ria Miranda mengaku sangat senang. Namun di titik itu bukan berarti tak ada tantangan. Perempuan 36 tahun ini sempat merasa sedih lantaran ada sebagian orang yang meniru desain dan dijual di pasaran.

"Dari situ semangat lagi, mencoba bangkit lagi, buat sesuatu yang baru. Dan semua nggak selesai sampai di situ saja. Kita bikin print, mulai ide baru, eh nggak lama ada di pasaran. Dijual meteran di satu toko kain. Itu juga idenya sulit," tambahnya.

Awalnya, Ria Miranda tidak terima dengan apa yang terjadi saat itu. Namun seiring berjalannya waktu, dia mencoba berdamai dan mengikhlaskan semuanya. Ria memilih tetap semangat mencari ide baru untuk karya-karyanya berikutnya.

Buah Inspirasi dan Konsistensi

Ria Miranda
Lady Boss: Ria Miranda (Foto: Adrian Putra, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Dikenal sebagai desainer hijab Indonesia yang selalu menampilkan sesuatu yang simple dengan pemilihan warna pastel, rupanya Ria Miranda terinspirasi dari sang ibu yang sudah lebih dulu memakai hijab dengan gaya-gaya simple.

Brand RiaMiranda terkenal dengan hijabnya simple, apakah itu merupakan style Anda?

Aku memang senang banget yang simple. Mama juga sudah berhijab saat itu. Aku lihat mama kok simple nggak kayak yang lain. Dari situ aku mikir aku juga bisa nih hijab simple kayak gini. Jadi inspirasi utama ya style mama waktu itu.

Model hijab simple dulu kan jarang, reaksi perempuan saat itu seperti apa?

Tahun 2010, aku bikin komunitas hijabers community, ada Dian Pelangi, Jenahara, bikin lah komunitas karena nggak banyak teman untuk bahas hijab. Waktu itu posting blogspot dan alhamdulillah teman blogger hadir di satu acara dan ketemu di situ dan terbentuklah hijabers community. Secara nggak langsung membentuk trend baru, awalnya cukup kontroversi karena orang nggak biasa dengan style hijab. Dulu abaya, terus style nya terlihat tua. Dari membuat hijabers community akhirnya membuat style baru, struggling juga awalnya saat memperkenalkan ke masyarakat. Banyak hatersnya. Kita memastikan kalau style hijab nggak menghilangkan pakem berhijab tapi nge twist sedikit gimana caranya yang berhijab bisa tampil stylish.

Bagaimana awal mula ide membuat komunitas?

Membentuk komunitas karena awalnya nggak punya teman soal style, agama, dsb. Hijab kok gini aja, kita pengin sesuatu yang seru. Di situ ketemu teman yang satu frekuensi dan bikin komunitas dan banyak acara, ada pengajian, cooking class, fashion show. Jadi penarik hijabers community.

Sudah banyak angkatannya kalau sekarang, hehe. Kalau hijabers community, me-maintain-nya sesama 30 orang, di situ banyak kegiatan untuk para member, sampai sekarang masih solid, silaturahmi terus.

Ria Miranda
Lady Boss: Ria Miranda (Foto: Adrian Putra, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Bagaimana cara Anda berinovasi menggaet customer baru?

Inovasi menggaet customer baru itu pasti ada. Karena yang sekarang dijaga bisa bikin customer baru bikin inovasi baru dari desain RiaMiranda. Kita buat yang basic, kalau biasanya kan ada yang simple dll. Nanti akan ada beberapa koleksi tahun ini ada yang baru. Kayak polosan, baju polosan karena biasanya print. Pemakaian bahan lebih nyaman.

Menurut Anda lebih penting buat trend baru atau justru ngikutin trend yang sudah ada?

Kalau aku sebisa mungkin buat sesuatu yang baru. Sebelumnya kita pernah ngikutin, tapi kok jadi sama semua. Ok, kita ikutin tapi ada personality dan touch dari brand ini. Warna pastel, feminin, aku suka sekali ada ethnic modern, kayak motif Minang yang setiap tahun selalu kita produksi.

Seperti apa cara untuk konsisten dalam berbisnis?

Ingat goals pertama, aku pengin bikin anak muda yang tadinya mikir saat jadi orang tua baru berhijab, mindsetnya seperti itu, ketika 2005, belum banyak pertemanan yang berhijab. Dari situ mikir, biar anak muda tertarik, dari nggak minat, sampai lihat dulu fashionnya dan mantap berhijab.

Apa momen yang paling membahagiakan selama karier?

Momen yang membahagiakan itu saat kita bikin satu exhibition, tepat 10 tahun brand ini, RiaMiranda Dekade. Jadi kita bikin perayaan exhibition selama 1 bulan di Senayan City, kita bikin banyak acara, special collection terus ending nya pun kita bikin annual show. Nah di situ kayak ya Allah perjuangan kita, kita buka lagi pola dan desain lama, terus kita display 10 desain yang aku suka. Yang story nya cukup mengena di hati aku. Di situ sih, rasanya senang, puas dan ending-nya ada annual show mengenai trend 2020, di situ aku merasa momen paling menyenangkan merintis karier ini. Ternyata perjuangan itu dimulai di tahun ke-10.

Momen terberat selama menjalani bisnis?

13 tahun paling berat, saat pandemic ini, perubahan pekerjaan dari offline jadi online. Customer juga pilih baju mana yang dipakai, penjualan menurun. Struggling 3 tahun ini. Di situ momen, yang alhamdulillah tim nggak ada yang dirumahkan. Gimana caranya mereka tetap di sini tanpa dikurangkan. Dari situ semangat cari cara bertahan, ada pelanggan setia, Ria Miranda Loyal Customer (RMLC), mereka selalu sharing yang dibutuhkan saat pandemi lewat zoom. Jadi semangat baru, akhirnya bikin koleksi pandemic, bangkit dan semangat, bikin konten seru, jadi sedihnya terobati.

Refleksi Perjalanan Bisnis

Ria Miranda
Lady Boss: Ria Miranda (Foto: Adrian Putra, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Desainer Ria Miranda memiliki pelanggan setia yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Perkumpulannya disebut Ria Miranda Loyal Customer (RMLC). Mereka kerap bertemu dan berkumpul bersama.

Selain Hijabers Community, apakah Anda memiliki komunitas lainnya?

Ada komunitas lagi yang support brand Ria Miranda yaitu Ria Miranda Loyal Customer. Kalau komunitas ini dimulai dari customer ku sendiri. Kayak mereka belanja di butik, terus ketemu satu sama lain, mungkin ngerasa nyambung, cocok ngobrolnya. Pas launching baju baru lagi, mereka ketemu lagi di butik. Alhamdulillah ini komunitas terbentuknya secara organik. Mereka cocok, jadi akhirnya nggak cuma berteman karena brand saja dan akhirnya ada yang jadi bisnis bareng, sahabat, keluarga. Jadi komunitas nggak melulu baju RiaMiranda tapi mereka dapat keluarga baru lewat brand ini.

Bagaimana cara membangun Ria Miranda Loyal Customer?

Biasanya ketemu langsung sama aku, bikin event bareng, atau dinner bareng atau buat satu kegiatan fashion show. Alhamdulillah semangat lagi tahun ini. Aku juga sudah ke luar kota, seperti ke Pangkal Pinang, Makassar, Yogyakarta, Semarang. Insya Allah keadaan akan membaik dan bisa ketemu lagi.

Bagaimana menurut Anda tentang stigma perempuan pekerja?

Tentang perempuan berkarier tergantung masing-masing pribadi juga menurut aku. Menurut aku gimana bagi waktu dan ballance antara kerjaan dan keluarga. Saat sampai kantor profesional kerja, saat di rumah harus bisa jadi ibu. Itu yang selalu aku lakukan dari awal karier.

Pernah mendapat perlakuan sebelah mata karena kerja?

Di industri ini karena banyak pemainnya adalah kaum wanita, jadi nggak pernah ngerasain sih. Kita justru support satu sama lain. Sharing keadaan kita. Justru kita sama, wanita pekerja, di rumah normal, sebagai orang tua.

 

Ria Miranda
Lady Boss: Ria Miranda (Foto: Adrian Putra, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Siapa sosok yang berperan besar dari awal karier?

Peran yang paling penting pasti orang tua, papa yang modalin, mama doain. Terus 2011 ketemu suami, mas Pandu yang jadi partner sampai sekarang. Itulah yang sangat mempengaruhi karierku.

Apa yang membuat Anda semangat karier sampai sekarang?

Saat 2019, tepat 10 tahun, justru aku galau. Awalnya senang tapi ada pertanyaan, apa ya yang sudah dikasih ke masyarakat selama 10 tahun. Aku sama mas Pandu bilang gimana ya karyawan kita, sudah bahagia belum ya dengan brand ini. Kita bahkan sampai konsultasi ke senior apa yang dijalankan apakah sudah sesuai atau belum ya. Justru deg-degan 10 tahun ke depan lagi. Karena sudah melalui 10 tahun lalu. Jadi apa lagi nih yang bakal dilalui. Dan prinsip itu, ketika ngobrol dengan satu orang, kita dikasih tahu memberi nilai yang kita bikin, karena sayang mengerjakan sesuatu kalau tidak ada nilainya. Ntah untuk keluarga atau apapun. Niat lillahi taala. Jangan sampai apapun yang dikerjakan sia-sia. Jadi aku selalu mengingatkan ke tim, agar apa yang dilakukan berkah.

Ria Miranda dikenal sebagai perempuan yang sukses, ada pesan untuk perempuan yang masih merintis karier?

Untuk teman yang sudah memulai atau baru berbisnis apapun, mau fashion atau yang lain. Yang penting semangat terus jangan takut salah. Dicoba, kalau jatuh, bangun lagi. Nanti insya allah akan ada jalannya, dikasih kemudahan ketika ada effort mengejar mimpi kita. Jadi semangat terus ya.

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela