Diary Fimela: Kisah Perjuangan Merintis Bisnis Produk Eco Friendly, Tri Upcycle

angela marici20 Sep 2022, 12:30 WIB
Diperbarui 20 Sep 2022, 12:30 WIB
Anisa Fauziah

Fimela.com, Jakarta Pandemi Covid-19 membawa dampak terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat, salah satunya perekonomian. Hal inilah yang dirasakan juga oleh Annisa Fauziah, founder Tri Upcycle yang mengalami pasang surut saat menjual produk ramah lingkungan atau eco-friendly sejak 2016.

Pada awal merintis Tri Upcycle, Annisa selalu tertarik pada isu lingkungan, sampai pada akhirnya saat magang di Bali ia bertemu salah satu murid yang memiliki project sekolah untuk memberantas isu lingkungan dengan menjual sapu tangan. Melalui pertemuan tersebut membuat Annisa belajar bahwa isu yang dihadapi kini bukan hanya pemanasan global melainkan rusaknya ekosistem laut.

Produk yang pertama kali dijual oleh Tri Upcycle adalah sapu tangan. Produk tersebut dijual untuk mengurangi penggunaan tisu yang berasal dari pohon, dengan tisu tersebut Annisa ingin menyampaikan pesan mengajak dan mengatasi isu lingkungan dengan melakukan perubahan melalui produk sapu tangan. 

Referensi dari budaya

Tri Upcycle merupakan produk eco-friendly, sehingga produksinya pun menggunakan bahan daur ulang yang ramah lingkungan. Dalam mengembangkan Tri Upcycle Annisa mengambil referensi dari keanekaragaman budaya Indonesia, salah satunya tentang keindahan alam flora dan fauna. 

Setiap desain produk yang dibuat memiliki detail khusus yang memberikan makna tersendiri bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan flora dan faunanya. Di pulau Sumatera tepatnya di Hutan Leuser, Aceh menjadi satu-satunya tempat di mana empat jenis satwa langka hidup bersama-sama yaitu orang utan, gajah, badak, dan harimau. 

Mostly desainnya terinspirasi dari kekayaan sendiri. Ada makna dalam setiap gambarannya untuk mengedukasi mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia.” ungkap Annisa. 

Bangkit dari pandemi

sapu tangan
Sapu tangan jadi produk pertama yang dijual oleh Tri Upcycle.

Kehadiran pandemi Covid-19 sangat memberikan pengaruh bagi kelancaran bisnis Tri Upcycle. Saat itu pandemi berimbas pada pemasukan yang membuat Annisa memutuskan untuk vakum karena tidak mampu membayar karyawan serta biaya toko offline. Hal ini juga terjadi karena target market dari Tri Upcycle adalah turis-turis asing yang datang ke Bali, sehingga dengan adanya pandemi membuat pemasukan Annisa turun drastis. 

Namun efek pandemi tidak melulu harus dipandang negatif, ada juga sisi positif dari pandemi. Menurut Annisa pandemi memaksa orang untuk di rumah aja, sehingga produksi sampah atau limbah mulai reda. Wanita berambut pendek ini pun tidak diam saja, ia merasa perlu melakukan sesuatu agar bumi menjadi lebih baik lagi. Salah satunya dengan hire anak-anak magang untuk kembali membangun Tri Upcycle.

Awal Tri Upcycle bangkit kembali tentu sangat berbeda dengan sebelum dan sesudah pandemi. Jika sebelum pandemi Annisa hanya berfokus pada pasar offline seperti titip di toko-toko dan mengikuti bazar, kini ia mulai bangkit dengan mencoba target market yang baru. Penjualannya saat ini tidak hanya berfokus pada wisatawan asing, melainkan anak muda di Indonesia. 

Mengikuti workshop Grab

Swap party
Swap party atau kegiatan tukar barang yang dilakukan oleh Tri Upcycle.

Sebelum menghidupkan kembali Tri Upcycle, Annisa sempat bingung untuk memulai dari mana sampai akhirnya ia mengikuti beberapa workshop yang diadakan. Salah satunya mengikuti program workshop #PerempuanSemua dari Grab Indonesia, melalui workshop ini Annisa juga mendapatkan mentorship dari pemimpin Grab dan Ovo. 

Mentorship #PerempuanSemua merupakan program yang dikhususkkan untuk UMKM yang pesertanya perempuan semua. Tujuannya adalah menghadirkan program pelatihan mentorship yang mempertemukan pengusaha dan mentor bisnis perempuan untuk membuka akses yang lebih luas untuk mengembangkan bisnis dan bertukar informasi. Selain itu, melalui program ini para peserta dapat memilih sendiri mentor dan topik yang ingin dibahas sehingga dapat menjawab tantangan yang sedang dihadapi para pengusaha perempuan. 

“Kalo dari grab sendiri dari awal fokusnya UMKM karena kalau di Indonesia sendiri kita juga tahu bahwa hampir dari data Kemenkeu itu 52% platform adalah perempuan di Indonesia, dan juga itu di Grab Indonesia hampir sebagian besar yang tergabung dalam platform kami itu adalah perempuan.” kata Dewi Nuraini, Head Corporate & Policy Communications of Grab Indonesia.  

Dari ratusan peserta yang mendaftar program ini Grab Indonesia melakukan seleksi hingga mendapatkan 3 peserta, salah satunya Annisa Fauziah founder Tri Upcycle yang memilih fokus pelatihan mengenai strategi branding, value proposition dari sebuah produk, dan cara untuk meningkatkan penjualan di media sosial. 

Setelah mendapatkan berbagai pelatihanl Annisa juga mengungkapkan bahwa ia akan melakukan re-branding menjadi Tri Cycle. Hal ini dilakukan nama sebelumnya yaitu Tri Upcycle hanya berfokus pada barang atau material bekas yang susah didapat, sehingga ia mencoba untuk menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan seperti cotton organik dan kain yang didaur ulang dari plastik botol bekas (polyester) yang melahirkan nama Tri Cycle.

 

Penulis: Angela Marici

#Women for Women

Lanjutkan Membaca ↓