Mengenal Filosofi Tumpeng, Lengkap Beserta Sejarah dan Resepnya

Imelda Rahma27 Mei 2022, 09:33 WIB
Diperbarui 27 Mei 2022, 09:34 WIB
tumpeng

Fimela.com, Jakarta Membuat tumpeng pada hari atau acara yang spesial dan penting sepertinya sudah menjadi budaya tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Hidangan khas Indonesia yang satu ini, disajikan dengan cara dan teknik yang unik, lho. 

Tumpeng disajikan dengan meletakkan nasi berbentuk kerucut di bagian tengah, kemudian dikelilingi lauk-pauk dan sayuran. Umumnya jenis nasi yang digunakan untuk membuat tumpeng adalah nasi kuning yang dilengkapi dengan tempe orek, telur balado, ayam goreng, lalapan, dan masih banyak lagi sesuai selera. 

Tahukah kamu, tumpeng ternyata tidak hanya sekedar hidangan biasa, di dalam sajian tumpeng ternyata tersimpan filosofi dan sejarah yang punya makna mendalam. Wah, apa ya kira-kira filosofi yang tersembunyi di dalam tumpeng? Penasaran? 

Berikut ini Fimela.com akan mengulas filosofi tumpeng beserta sejarah dan resepnya. Dilansir dari beragam sumber, simak ulasan selengkapnya di bawah ini. 

Memahami Sejarah Tumpeng

Sejarah Nasi Tumpeng
Ilustrasi nasi tumpeng/credit: Liputan6.com/indochili.com

Dirujuk dari sejarahnya, diketahui bahwa sajian tumpeng sudah ada sejak zaman nenek moyang. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa tradisi menyajikan nasi tumpeng tidak terlepas dari jejak nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun temurun. Menariknya, tradisi ini tidak lekang oleh waktu, alias masih tetap dilakukan hingga saat ini. 

Berdasarkan beberapa sumber menyebutkan bahwa tumpeng pada awalnya merupakan tradisi untuk memuliakan gunung-gunung yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya para Hyang atau arwah leluhur. Saat penyebaran agama Hindu mulai masif di Pulau Jawa, bentuk tumpeng dibuat mengerucut seperti Gunung Mahameru yang dianggap sebagai tempat suci bersemayamnya para dewi-dewi. 

Namun, setelah agama Islam masuk ke Pulau Jawa, makna pembuatan tumpeng pun bergeser, yakni yang pada awalnya dibuat untuk memuliakan gunung, lalu berubah menjadi wujud syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tumpeng sendiri umumnya disajikan selepas pengajian Al-Qur'an lalu dibagikan dan dimakan bersama-sama. 

Memahami Filosofi Tumpeng

Memahami Filosofi Tumpeng
Ilustrasi tumpeng/credit: dream.co.id

Secara umum, filosofi tumpeng lekat kaitannya dengan perwujudan nilai toleransi, keikhlasan, kebesaran jiwa, dan kekaguman atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Jika diperhatikan, bentuk tumpeng yang mengerucut dan dikelilingi lauk-pauk serta sayuran menggambarkan simbol ekosistem kehidupan.

Sementara itu, bentuk nasi yang mengerucut dan menjulang tinggi melambangkan keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta. Aneka lauk pauk dan sayuran di sekeliling nasi menjadi simbol isi alam.

Selain itu, warna nasi tumpeng yang didominasi oleh warna kuning dan putih, kedunya punya makna yang berbeda pula. Warna putih pada nasi tumpeng melambangkan kesucian, sedangkan warna kuning lebih pada kekayaan dan moral yang luhur.

Tidak ketinggalan juga dengan filosofi lauk pauk yang ada didalam sajian tumpeng seperti, ikan asin yang menggambarkan kebiasaan gotong royong. Telur rebus yang bermakna kebulatan tekad serta daging ayam yang menjadi simbol patuh terhadap Sang Pencipta. 

Resep Nasi Tumpeng

Resep Nasi Tumpeng
Ilustrasi tumpeng/credit: pixabay.com

Bahan-bahan:

  • 3 liter beras
  • 1 liter beras ketan
  • Perbandingan beras dengan beras ketan adalah 3:1
  • 4 liter santan kental dari 4 butir kelapa ukuran besar
  • 6 ruas jari kunyit ukuran besar
  • 4 ruas jari jahe ukuran besar, memarkan
  • 1 sdt cengkih
  • 2 batang kayu manis
  • 5 batang sereh ukuran besar, memarkan
  • 10 lembar daun salam
  • 2 butir biji pala, pecahkan
  • secukupnya garam

Cara membuat tumpeng: 

  1. Pertama, cucilah dahulu beras hingga bersih lalu rendam bersama dengan beras ketan selama satu jam. Jika sudah, tiriskan.
  2. Kemudian kukus beras yang sudah di rendam dalam panci yang airnya sudah mendidih selama 30 menit hingga aron.
  3. Selagi menunggu kukusan beras, blenderlah kunyit dengan segelas santan hingga larut.
  4. Campurkan juga larutan santan dan kunyit beserta sisa santan lalu godok bersama dengan bumbu lain dan garam hingga mendidih.
  5. Setelah berasmu aron, pindahkan ke wdah lain dan siram dengan godokan santan yang mendidih. Lakukan sambil diaduk rata dan emudian diamkan hingga santan menyerap sempurna.
  6. Kukus kembal nasi aron hingga 30 menit dan tumpengmu akhirnya pun jadi. 

Sajikanlah bersama dengan menu lain seperti ayam gireng, tempe kering,telur, perkedel, dan lain sebagainya. Selamat mencoba!

Lanjutkan Membaca ↓
1
What's On Fimela