Nyeri Leher Bisa Menyerang Siapa Saja, Yuk Ketahui Solusi Penanganan Minimal Invasif di RS EMC Tangerang

Wuri Anggarini10 Agu 2021, 00:01 WIB
Diperbarui 10 Agu 2021, 00:01 WIB
Nyeri Leher Bisa Menyerang Siapa Saja, Yuk Ketahui Solusi Penanganan Minimal Invasif di RS EMC Tangerang

Fimela.com, Jakarta Terlalu banyak bekerja di depan komputer, salah posisi tidur, atau mengangkat benda berat bisa jadi beberapa faktor yang menyebabkan nyeri di bagian leher. Selain menyebabkan rasa tidak nyaman, kondisi nyeri tersebut juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari karena rentang bergerak jadi berkurang, konsentrasi terganggu, dan masih banyak lagi. Risiko nyeri leher juga bisa dialami siapa saja. Bahkan, 15% orang dewasa di negara maju mengalami masalah kesehatan yang satu ini.

Perawatan Diri untuk Meminimalisir Nyeri Leher

Nyeri Leher Bisa Menyerang Siapa Saja, Yuk Ketahui Solusi Penanganan Minimal Invasif di RS EMC Tangerang
(c) Shutterstock

Rasa nyeri pada leher bisa berkembang secara tiba-tiba. Jika tidak melemahkan fungsi organ yang lain atau tidak disebabkan oleh trauma, ada beberapa cara perawatan diri yang dapat meringankan rasa sakit pada nyeri leher.

Yang pertama adalah mengistirahatkan sejenak leher dan badan dari aktivitas berat atau gerakan yang bisa memperburuk nyeri. Kedua, bisa juga melakukan terapi es atau panas di daerah yang nyeri selama 15-20 menit dengan jeda 2 jam di antaranya untuk memberikan waktu kulit mengalami pemulihan. Cara yang ketiga adalah lewat peregangan ringan. Beberapa nyeri leher atau ketegangan otot berkurang dengan melakukan peregangan rentang gerak yang ringan. Jika gerakan atau peregangan tertentu memperburuk rasa sakit, coba hentikan dan lakukan gerakan lain sebagai gantinya.

Kalau masih terasa nyeri, artinya kamu memerlukan perawatan medis dengan obat-obatan, fisioterapi, atau terapi injeksi. Nah, pada dasarnya kondisi nyeri bisa dibedakan atas 3 kelompok.

1. Nyeri Akut: Nyeri yang berlangsung kurang dari 4 minggu

2. Nyeri Sub-Akut: nyeri yang berlangsung 4-12 minggu

3. Nyeri Kronis: nyeri yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih

Seperti Apa Ciri Nyeri yang Harus Segera Ditangani?

Nyeri Leher Bisa Menyerang Siapa Saja, Yuk Ketahui Solusi Penanganan Minimal Invasif di RS EMC Tangerang
(c) Shutterstock

Ada beberapa kondisi yang membuat nyeri leher harus ditangani secara medis. Jika mengalami beberapa hal berikut, tandanya mungkin sudah waktunya konsultasi ke ahli medis. Apa saja sih kriteria nyeri yang harus segera ditangani?

Segera periksakan diri saat nyeri menjalar ke kedua lengan atau kaki (nyeri myelopathy). Begitu pun saat mengalami mati rasa, kesemutan, atau kelemahan pada lengan atau kaki. Masalah dengan keseimbangan atau koordinasi juga perlu diwaspadai.

Jika nyeri mempengaruhi kehilangan kontrol usus atau kandung kemih seperti tidak dapat mengontrol buang air, sudah seharusnya segera memeriksakan diri ke dokter. Penurunan berat badan yang tidak disengaja, demam atau kedinginan, hingga sakit kepala parah dengan leher kaku menjadi pertanda wajib memeriksakan kondisi dengan segera.

Beberapa tindakan medis yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan fisioterapi, akupuntur medis, obat-obatan sesuai anjuran dokter, hingga terapi injeksi (Radiofrequency ablation, Cervical epidural streroid injection). Jika tindakan ini tidak menurunkan rasa nyeri, maka operasi harus dijalankan.

Mengenal Metode Anterior Cervical Discetomy and Fusion (ACDF)

Nyeri Leher Bisa Menyerang Siapa Saja, Yuk Ketahui Solusi Penanganan Minimal Invasif di RS EMC Tangerang
(c) Shutterstock

Sering mengalami rasa nyeri leher karena faktor degeneratif pada tulang belakang? Kabar baik nih, seiring dengan kemajuan teknologi operasi tulang belakang (spine surgery), kini bisa ditangani dengan metode ACDF.

Teknik yang satu ini menjadi pilihan yang bijak saat obat-obatan, fisioterapi, atau injeksi belum memberikan hasil yang sesuai harapan. Tindakan tersebut bertujuan untuk membebaskan saraf yang terjepit, mengeluarkan disk yang rusak, dan menstabilkan tulang leher (cervical).

Saat melakukan teknik ini, dokter melakukan sayatan minimal dari depan atau belakang dengan instrumen khusus yang dirancang untuk menghindari pemotongan jaringan lunak di tulang belakang leher. Ada beberapa keuntungan dari metode ACDF, yaitu dengan risiko minimal, angka keberhasilan tinggi mulai dari 93% hingga 100%, minim sayatan dan nyeri, serta proses pemulihan yang lebih cepat sehingga pasien bisa kembali beraktivitas.

Agar hasil yang diperoleh pasien lebih maksimal, penegakan diagnosa yang didukung peralatan penunjang medis yang canggih dan rehabilitasi medis wajib dilakukan setelah operasi. Menunda tindakan ACDF tentu tidak akan membuat kondisi pasien membaik, terlebih jika upaya non operasi nggak berhasil dilakukan.

Tertarik untuk melakukan tindakan ACDF? Saatnya konsultasi terlebih dahulu dengan ahlinya dr. Harmantya Mahadhipta, Sp.OT (K) Spine yang bisa ditemui di RS EMC Tangerang. Jadwal praktik dr. Harmantya sendiri adalah setiap hari Senin (15.00 - 17.00 WIB) dan Rabu (13.00 - 15.00 WIB), Untuk informasi dan pendaftaran bisa langsung menghubungi Ekha K. Sembiring di nomor 0878 8989 0102.

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela