Angka Positif Terus Menurun, WHO Sebut Akhir Pandemi COVID-19 Sudah di Depan Mata

Fimela Reporter03 Okt 2022, 18:30 WIB
Diperbarui 03 Okt 2022, 18:30 WIB
COVId-19

Fimela.com, Jakarta Jumlah kasus positif dan kasus kematian COVID-19 yang terjadi sejak Maret 2020, kini terus menurun bahkan sampai ke level terendah tiap minggunya. Menanggapi hal ini, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pada hari Rabu (14/9/2022) bahwa akhir pandemi COVID-19 sudah di depan mata.

"Kami tidak pernah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengakhiri pandemi," ujar Tedros kepada wartawan selama konferensi pers mingguan regulernya seperti yang dilansir dari Liputan6.com yang mengutip dari United Nations News. Namun, Direktur Jenderal Badan Kesehatan PBB menjelaskan keadaan dunia belum sampai pada tahap tersebut.

"Seorang pelari marathon tidak berhenti ketika garis finis sudah terlihat. Dia berlari lebih keras, dengan semua energi yang tersisa. Jadi kita harus seperti itu. Kita bisa melihat garis finis. Kami dalam posisi menang. Tapi sekarang adalah waktu terburuk untuk berhenti berlari," tegasnya.

Tedros juga menyampaikan bahwa dunia harus segera mengambil tindakan dalam kesempatan yang ada sekarang ini, karena jika tidak, maka resiko yang kelak datang akan lebih banyak lagi seperti lebih banyak varian, kematian, gangguan, dan ketidakpastian.

Bersamaan dengan desakannya kepada dunia untuk segera bergerak, WHO juga merilis enam ringkasan kebijakan singkat yang menguraikan tentang tindakan utama yang harus diambil oleh seluruh pemerintah di dunia untuk menyelesaikan "perlombaan" waktu dengan pandemi COVID-19.

Ringkasan kebijakan WHO

Ilustrasi WHO
Jumlah kasus positif dan kematian COVID-19 terus menurun tiap minggunya. WHO sebut akhir dari pandemi ini sudah di depan mata. (pexels.com/Polina Tankilevitch).

COVID-19 berisi uraian tentang hal terbaik yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan nyawa, melindung sistem kesehatan, serta menghindari gangguan sosial dan ekonomi. Uraian tersebut didasarkan pada bukti dan pengalaman pandemi COVID-19 selama 32 bulan terakhir.

"[Mereka] adalah seruan mendesak bagi pemerintah untuk mencermati kebijakan mereka dan memperkuatnya untuk COVID-19 dan patogen masa depan dengan potensi pandemi," Tedros menjelaskan seperti yang dikutip dari Liputan6.com.

Dokumen-dokumen tersebut tersedia secara online yang berisi mengenai hal-hal penting soal COVID-19 seperti rekomendasi mengenai vaksinasi kelompok paling berisiko, pengujian lanjutan dan pengurutan virus SARS-CoV-2, dan pengintegrasian pengobatan yang efektiv untuk COVID-19 ke dalam sistem perawatan kesehatan primer.

Selain itu, WHO juga medesak pihak berwenang untuk memiliki rencana lonjakan di masa depan, termasuk pengamanan pasokan, peralatan, dan tambahan pekerja kesehatan. Ringkasan tersebut juga berisi saran komunikasi seperti melatih petugas kesehatan untuk mengidentifikasi dan mengatasi informasi yang salah, serta membuat materi informatif berkualitas tinggi.

Komitmen untuk masa depan

Vaksin COVID-19
Jumlah kasus positif dan kematian COVID-19 terus menurun tiap minggunya. WHO sebut akhir dari pandemi ini sudah di depan mata. (pexels.com/Polina Tankilevitch).

Melansir dari Liputan6.com, Tedros menegaskan bahwa WHO telah bekerja keras dalam berupaya untuk memerangi pandemi COVID-19 sejak malam tahun baru 2019 dan akan terus melanjutkan upaya tersebut sampai pandemi ini benar-benar berakhir.

"Kita dapat mengakhiri pandemi ini bersama-sama, tetapi hanya jika semua negara, produsen, komunitas, dan individu melangkah dan memanfaatkan peluang ini," ujar Tedros.

Selain itu, Dr. Maria Van Kerkhove selaku Pimpinan Teknis WHO untuk COVID-19, menyampaikan bahwa virus COVID-19 masih beredar secara intens di seluruh dunia, ia dan pihaknya juga percaya jika jumlah kasus positif dan kematian atas COVID-19 yang dilaporkan terlalu rendah.

"Kami berharap akan ada gelombang infeksi di masa depan, berpotensi pada titik waktu yang berbeda di seluruh dunia yang disebabkan oleh subvarian Omicron yang berbeda atau bahkan varian yang berbeda dari kekhawatiran," ungkapnya.

Meskipun begitu, gelombang masa depan yang dimaksud ini bukan merupakan gelombang parah yang sampai menyebabkan tingginya tingkat kematian. Hal ini dikarenakan sudah adanya alat yang efektif untuk melawan virus ini seperti vaksin dan antivirus untuk COVID-19.

 

*Penulis: Frida Anggi Pratasya.

#Women for Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela