Kemunculan Varian Baru dari COVID-19 Bisa Terjadi Bila Lengah dalam Prokes

Fimela Reporter06 Des 2022, 21:00 WIB
Diperbarui 07 Des 2022, 13:15 WIB
Kemunculan Varian Baru dari COVID-19 Bisa Terjadi Bila Lengah dalam Prokes

Fimela.com, Jakarta COVID-19 masih menjadi perbicangan hangat di setiap belahan dunia. COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2, yaitu virus jenis baru dari Coronavirus (kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan) dan bisa menginfeksi siapa saja. Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah sebagai upaya pencegahan COVID-19, mulai dari pengadaan vaksin sampai PPKM. Seperti yang kita ketahui, sebelumnya WHO menyebutkan bahwa sinyal masa kritis pandemi COVID-19 dapat berakhir tahun ini, dengan beberapa catatan agar endemi bisa terlaksana.

Dilansir dari liputan6.com, Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (2/12) mengatakan bahwa kesenjangan strategi untuk mengatasi COVID-19 pada tahun ini terus menciptakan kondisi yang sempurna untuk memunculkan varian baru yang lebih mematikan. Beberapa bagian China mengalami peningkatan infeksi tersebut. Tedros mengatakan hal itu hanya beberapa bulan setelah dia berpendapat dunia tidak pernah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengakhiri pandemi.

"Kami semakin dekat untuk mengatakan bahwa fase darurat pandemi telah berakhir, tetapi kami belum sampai di sana. Kesenjangan dalam pengujian dan vaksinasi terus menciptakan kondisi sempurna untuk munculnya varian baru yang dapat menyebabkan kematian yang signifikan " kata Tedros pada Jumat (2/12), dikutip dari liputan6.com

Berdasarkan perkiraan dari WHO, sekitar 90 persen populasi dunia sekarang memiliki tingkat kekebalan tertentu terhadap SARS-COV-2, baik karena infeksi atau melalui vaksinasi. Infeksi COVID-19 telah mencapai rekor tertinggi di China dan mulai meningkat lagi di beberapa bagian Inggris setelah beberapa bulan sempat menurun.

Fokus pada orang rentan

Kemunculan Varian Baru dari COVID-19 Bisa Terjadi Bila Lengah dalam Prokes
Pemerintah di seluruh dunia didesak oleh WHO untuk fokus pada orang yang rentan dan berisiko tinggi terinfesi virus corona. Credit: pexels.com/Andrea

Beberapa kota di China menyambut dengan campuran kelegaan dan kekhawatiran pada hari Jumat setelah diadakannya pelonggaran lebih lanjut dari persyaratan pengujian COVID-19 dan aturan karantina. Ratusan juta orang di negara ini menunggu perubahan kebijakan pemerintah tentang cara menangani virus corona setelah kerusuhan sosial semakin meluas di negara ini.

"Sementara COVID-19 dan flu dapat menjadi infeksi ringan bagi banyak orang, kita tidak boleh lupa bahwa mereka dapat menyebabkan penyakit parah atau bahkan kematian bagi mereka yang paling rentan di komunitas kita," kata Mary Ramsay, Direktur Program Kesehatan Masyarakat di Badan Keamanan Kesehatan Inggris, dikutip dari liputan6.com

Pemerintah di seluruh dunia didesak oleh WHO untuk fokus pada orang yang rentan dan berisiko tinggi terinfesi virus corona, seperti orang yang berusia di atas 60 tahun dan mereka yang memiliki kondisi yang masuk dalam kategori berisiko, untuk segera mendapatkan vaksinasi sebagai upaya pencegahan COVID-19.

Data positivity rate

Kemunculan Varian Baru dari COVID-19 Bisa Terjadi Bila Lengah dalam Prokes
Positivity rate menjadi tolak ukur karena tidak semua orang melakukan tes COVID-19 dan melapor bila positif terpapar Virus Corona. (unsplash.com/Annie Spratt)

Pada 1 Desember 2022 di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengumumkan kabar terbaru terkait kasus COVID-19. Budi mengatakan gelombang COVID-19 telah mencapai puncaknya saat ini.

Budi menyampaikan hal ini karena berdasarkan data positivity rate (proporsi orang positif dari keseluruhan orang yang dites COVID-19) di Indonesia. Positivity rate menjadi tolak ukur karena tidak semua orang melakukan tes COVID-19 dan melapor bila positif terpapar Virus Corona.

"Positivity rate, kalau tes sedikit kelihatan positivity rate-nya tinggi, makanya kita lihat dari angka itu. Sekarang positivity rate kita turun di seluruh Indonesia dan provinsi besar seharusnya seminggu dua minggu turun. Secara saintifik, ini turun karena portofolio dari varian baru," jelas Budi, dikutip dari liputan6.com.

Mengikuti pernyataan Budi, mengenai kasus COVID-19 yang sudah melewati puncaknya sehingga kasusnya menurun. Namun jika melihat data dari kawasan Asia Tenggara, peningkatan kasus di Indonesia masih tertinggi untuk periode 21-27 November 2022.

Menurut data yang diterbitkan oleh COVID-19 Weekly Epidemiological Update Edition 120 pada 30 November 2022, penambahan kasus di Indonesia tertinggi. Jumlah kasus baru sebanyak 41.877 atau 15,3 kasus baru per 100.000 penduduk. Terjadi penurunan sebanyak 11 persen dibanding minggu sebelumnya. Namun hal ini tetap jadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di Asia Tenggara.

Thailand dan India menjadi negara tepat dibawah Indonesia. Penambahan kasus terbaru terjadi antara 21-27 November 2022. Rincian kenaikan kasus di kedua negara tersebut adalah:

- Thailand melaporkan 4.914 kasus baru, atau 7 kasus baru per 100.000 orang, meningkat 24 persen.

- India melaporkan 2.547 kasus baru, atau kurang dari satu kasus baru per 100.000, berkurang 3 persen.

 

*Penulis: Sri Widyastuti

#WomenForWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela