Sukses

Health

Dari AS-Korsel, Begini Cara Amoeba Pemakan Otak Menginfeksi Manusia

Fimela.com, Jakarta Akhir-akhir ini, media Korea Selatan dan dunia digemparkan dengan penemuan kasus amoeba pemakan otak yang menewaskan satu orang pria setelah dirinya berkunjung ke Thailand selama 4 bulan. Amoeba pemakan otak ini memiliki nama ilmiah Naegleria fowleri yang tidak hanya ada di Thailand, melainkan bersarang di air sungai atau danau di berbagai negara.

Melansir dari Liputan6.com, amoeba pemakan otak ini masuk ke tubuh manusia melalui hidung kemudian mencapai otak dan merusak jaringan-jaringannya. Kasus amoeba pemakan otak di Korea Selatan memang merupakan yang pertama kali di Negeri Gingseng tersebut, namun bukan yang pertama kali di dunia. Kasus ini pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 1937.

Korea Disease shoppingmode Control and Prevention Agency (KDCA) mengatakan bahwa potensi penularan infeksi amoeba pemakan otak antar-manusia tergolong rendah, tetapi tetap meminta agar warga lokal menghindari berenang di tempat-tempat yang memicu penyakit ini. Sejak 2018, terdapat 381 kasus Naegleria fowleri yang tercatat di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat, India, dan Thailand.

Cenderung ditemukan di perairan hangat, kolam renang juga berpotensi terjangkit amoeba pemakan otak ini. CDC menyarankan agar menghindari masuknya air ke hidung ketika mandi atau berenang. Selain itu disarankan juga untuk tidak langsung lompat masuk ke air, melainkan berjalan saja dan memantau anak-anak agar air tidak masuk ke dalam hidung mereka. Naegleria fowleri sangat berbahaya karena bisa menyebabkan amebi meningoencephalitis (PAM) yang menginfeksi sistem syaraf pusat.

Hampir semua kondisi PAM berakibat fatal. Meskipun demikian, masih belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi penyakit akibat amoeba pemakan otak ini karena termasuk ke dalam kategori langka di Amerika Serikat.

Kasus Amoeba Pemakan Otak di Texas

Melansir dari Liputan6.com, negara bagian Texas di AS mengeluarkan status bencana setelah kematian anak laki-laki berusia enam tahun akibat infeksi amoeba pemakan otak pada 2020 lalu. Status darurat tersebut dikeluarkan oleh Gubernur Texas yakni Greg Abbott pada 27 September 2020 di Brazoria County, yang mencakup Lake Jackson.

Anak laki-laki bernama Josiah McIntyre tersebut diketahui meninggal pada 8 September 2020 setelah terinfeksi amoeba pemakan otak yang ditemukan di selang keran taman dekat rumah bocah tersebut. Tak hanya itu, amoeba serupa juga ditemukan di air mancur di pusat kota dan di hidran kebakaran di kota yang hanya berjarak satu jam dari Kota Houston.

Kakek dan nenek dari Josiah juga menerangkan kepada Houston Chronicle bahwa sang cucu kemungkinan terpapar air yang terkontaminasi saat ia bermain di taman percikan di pusat kota, tak lama sebelum jatuh sakit. Saat ini, peringatan itu telah dicabut namun warga setempat masih dianjurkan untuk merebus air sebelum digunakan. 

Kasus Amoeba Pemakan Otak di Korea Selatan

Kasus terbaru amoeba pemakan otak dilaporkan di Korea Selatan. Pasien meninggal tersebut dilaporkan kembali ke Korea Selatan pada 10 Desember 2022 setelah empat bulan bertugas di Thailand. KDCA melakukan tes genetik pada tiga jenis patogen yang menjadi penyebab Naegleria fowleri dan menemukan gen sebanyak 99,6% mirip dengan yang ditemukan pada pasien meningitis yang dilaporkan di luar negeri.

Kasus ini menjadi kasus amoeba pemakan otak atau Naegleria fowleri yang pertama kali di Korea Selatan. Naegleria fowleri adalah jenis amoeba atau organisme bersel tunggal yang hidup di tanah dan air tawar hangat, seperti sumber mata air panas, danau, dan sungai di seluruh dunia. Amoeba ini menginfeksi manusia melalui hidung lalu berjalan ke otak.

KDCA menyebutkan gejala awal yang ditunjukkan setelah terinfeksi amoeba pemakan otak adalah sakit kepala, demam, mual atau muntah, dan gejala selanjutnya dapat menyebabkan sakit kepala parah, demam, muntah, dan leher kaku.

Masa Inkubasi Naegleria fowleri

Melansir dari Liputan6.com, masa inkubasi amoeba pemakan otak atau Naegleria fowleri biasanya 2 hingga 3 hari dan paling banyak hingga 15 hari. Meskipun penularan Naegleria fowleri dari manusia ke manusia tidak mungkin terjadi, KDCA meminta warga untuk tidak berenang di daerah dan lingkungan di mana penyakit itu menyebar. Ditambahkan bahwa risiko infeksi tidak tinggi, tetapi sebagian besar kasus dimulai dengan berenang.

"Untuk mencegah infeksi Naegleria fowleri, kami merekomendasikan untuk menghindari aktivitas berenang dan rekreasi dan menggunakan air bersih saat bepergian ke daerah di mana kasus telah dilaporkan," kata Jee Young-mee selaku Kepala KDCA melalui siaran pers.

 

Penulis: Frida Anggi Pratasya

#Women for Women

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading