Sukses

Health

Waspada Efek Samping dari Operasi Bariatrik

Fimela.com, Jakarta Memiliki tubuh gemuk memanglah menyiksa, mulai dari sulit bergerak, mudah lelah, hingga sulit menemukan pakaian yang muat. Bersusah payah diet menurunkan berat badan tetapi hasilnya yang tidak terlalu signifikan. Baru-baru ini, sedang ramai perbincangan cara penurunan berat badan dengan cepat melalui operasi bariatrik. Apa itu?

Operasi bariatrik dikatakan sebagai jalan pintas untuk turunkan berat badan. Prosedur ini akan dilakukan dengan cara mengecilkan sistem pencernaan untuk membatasi asupan makanan yang masuk dan mengurangi penyerapan nutrisi pada usus. Biasanya, dilakukan oleh pengidap obesitas yang belum berhasil menurunkan berat badan dengan cara diet dan olahraga. Selain itu, operasi bariatrik juga dilakukan oleh seseorang dengan kondisi kesehatan buruk terkait berat badan. Nantinya, mereka hanya boleh makan dalam porsi tertentu dan cenderung rendah dalam rasa lapar.

Tak hanya untuk membantu mengatasi obesitas, dengan melakukan operasi bariatrik juga bisa mengurangi risiko penyakit metabolik. Ini termasuk diabetes, kolesterol, hingga penyakit jantung. Mereka akan memberikan pengobatan berkepanjangan yang didampingi dengan gaya hidup sehat.

Kendati demikian, tidak semua orang bisa dan boleh untuk melakukan operasi ini. Ada ketentuan-ketentuan tertentu dan efek samping yang harus dipertimbangkan. Baca selengkapnya di bawah ini. 

Hal-hal yang harus dipertimbangkan

Pada dasarnya, operasi bariatrik adalah operasi penurunan berat badan untuk membantu para penderita obesitas. Pasalnya, yang namanya prosedur operasi pasti semuanya ada risiko dan efek samping tersendiri. Bisa hanya level ringan, atau bahkan kondisi serius. Setelah menjalani operasi pun tidak langsung langsing dalam sekejap, butuh dorongan dari perubahan gaya hidup dan pola makan diatur sesuai dengan kondisi sistem pencernaan yang baru.

Ini bukanlah jalur penurunan berat badan yang sembarangan. Dalam banyak kasus pihak medis hanya membolehkan seseorang mendapatkan operasi bariatrik jika kondisi mereka sudah tak lagi bisa teratasi dengan sendirinya. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan apakah orang tersebut masuk dalam persyaratan atau tidak. 

Namanya saja operasi, jadi sudah pasti biayanya sangat mahal. Pastikan untuk mempersiapkan sejumlah uang untuk melakukan operasi dan masa pemulihan di kemudian hari. 

Kriteria yang diperbolehkan menjalani operasi bariatrik

Melansir dari Mayo Clinic, seseorang telah dikatakan obesitas ekstrem jika Body Mass Index (BMI) mereka menginjak angka 40. Dikatakan sebagai obesitas apabila memiliki BMI 35 sampai 39,9 dan mengidap beberapa masalah kesehatan seperti diabetes tipe 2, hipertensi, ataupun apnea tidur yang kronis. Jika kamu merupakan salah satu dari tipe tersebut, maka kamu berkesempatan tinggi untuk bisa mendapatkan operasi bariatrik. Namun pihak medis juga akan tetap melakukan penyaringan ketat untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. 

Jenis-jenis operasi bariatrik

Masing-masing jenis operasi bariatrik menuai pro dan kontra tersendiri. Jenis yang terbaik bergantung pada kondisi kesehatan seseorang. Dokter akan mempertimbangkan beberapa hal, seperti BMI, riwayat penyakit, pola makan, hingga risiko terkait prosedur.

Gastric Bypass 

Gastric Bypass atau bypass lambung menjadi prosedur operasi bariatrik yang paling umum dilakukan. Metode ini bekerja dengan memotong lambung menjadi dua, berukuran besar dan kecil. Lalu dokter bedah juga akan sedikit memotong usus kecil yang di mana akan disambungkan ke bagian lambung kecil yang sudah dipotong di awal. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir porsi makanan yang masuk serta mengurangi penyerapan nutrisi yang terjadi di usus halus.

Sleeve Gastrectomy

Disebut juga dengan gastrektomi lengan. Berbeda dengan jenis sebelumnya, Sleeve Gastrectomy tidak akan melakukan pemindahan rute antar sistem pencernaan. Dokter bedah akan memotong sekitar 80% bagian lambung kamu dan tersisa seperti kantong panjang layaknya tabung. Hal ini dilakukan untuk mengurangi tempat penampungan makanan serta menghasilkan hormon penafsu makan yang lebih sedikit. Nantinya, orang tersebut akan merasakan kekenyangan lebih cepat karena kondisi lambungnya yang sudah mengecil.

Gastric Band

Gastric Band atau operasi pita lambung merupakan salah satu prosedur operasi bariatrik yang bisa disesuaikan dan dibalik. Akan melibatkan pita lambung dari silikon yang akan ditempatkan di sekitar bagian atas perut untuk membentuk seperti cincin. Melansir dari laman Cleveland Clinic, penempatan pita lambung ini dilakukan untuk mengurangi kapasitas perut dan mengecilkan saluran jalannya makanan masuk. Sehingga, kamu akan terlatih makan dalam porsi yang lebih kecil serta lebih cepat terasa kenyang.

Hati-hati dengan efek sampingnya

Sama halnya seperti operasi pada umumnya,  operasi penurunan berat badan juga memiliki risiko baik yang ringan maupun yang berbahaya. Walaupun tidak semua orang mengalami risiko tersebut, tetap perlu waspada agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Beberapa risiko komplikasi yang bisa terjadi, antara lain:

  • Pendarahan yang berlebihan
  • Infeksi
  • Reaksi alergi terhadap anestesi ketika prosedur
  • Pembekuan darah di kaki atau paru-paru
  • Masalah paru-paru atau pernapasan
  • Pita lambung terlepas, ini bisa membuat makanan bocor di sambungan lambung dan usus kecil.
  • Pembentukan batu empedu

Nah, pentingnya selalu berkomunikasi dengan dokter mengenai semua keluhan atau rasa tidak nyaman yang terjadi usai melakukan prosedur operasi bariatrik. Perlu diingat pula ini bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai badan ideal, utamakan untuk menerapkan gaya hidup sehat dan pola makan teratur.

 

*Penulis: Balqis Dhia.

#Breaking Boundaries

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading