Tuai Kritik Paksa Tunarungu Berbicara, Berikut Klarifikasi Mensos Risma

Nabila Mecadinisa03 Des 2021, 12:30 WIB
Diperbarui 03 Des 2021, 12:58 WIB
Mensos Risma

Fimela.com, Jakarta Menteri Sosial Tri Risma kembali tuai kritik atas tudingan dirinya memaksa penyandang disabilitas tunarungu untuk berbicara. Akibat tudingan tersebut, Risma telah mengklarifikasi tindakannya. Risma menyebutkan jika ia berniat tulus untuk berinteraksi dengan penyandang disabilitas Stefanus dalam rangkaian peringatah Hari Disabilitas Internasional (HDI). 

ia merangkul Stefanus untuk memastikan alat bantu dengarnya berfungsi dengan baik. Ia juga memotivasi mereka untuk memaksimalkan kemampuan telinga dan mulutnya. Risma memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas rungu untuk mencoba merespon komunikasi.

 "Saya ingin memastikan bahwa alat bantu dengar itu berfungsi dengan baik. Karena kalau dia tidak bisa merespon, itu bisa merugikan dia," kata Risma melalui keterangan tertulis, Jumat (3/12/2021). 

Tidak ingin penyandang disabilitas mengalami hal buruk dan sulit untuk minta tolong

Mensos Risma
Mensos Risma (Istimewa)

Dirinya mengungkapkan pengalaman yang sangat memprihatinkan, saat menjadi Wali Kota Surabaya. 

Saat itu, ada disabilitas rungu yang tertabrak kereta api dan ada juga yang harus kehilangan jiwa karena bencana.

"Jadi begini yah, saya menyampaikan yang pertama bahwa setiap kekurangan pasti diberikan kelebihan. Kemudian saya pengin tahu apakah alat yang saya bantu bisa berfungsi maksimal. Saya juga kan pengin tahu," kata Risma, Kamis (2/12/2021) malam.

"Kedua, apakah sebetulnya dia memang hanya tunarungu atau tunawicara atau dua-duanya," lanjut Mensos.

Menurut Risma, hal itu juga demi melatih Aldi untuk berbicara. Bukan tanpa sebab Risma ingin mereka dapat berbicara. Belajar dari pengalaman saat dirinya menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, Risma menjelaskan bahwa dirinya pernah menemui tunarungu yang diperkosa.

Ingin mengoptimalkan kemampuan

Mensos Risma
Menteri Sosial Tri Rismaharini.

"Dia nggak bisa teriak, dan itu setelah saya ceritakan di sini, bu betul. Bahkan pemerkosa itu bebas karena dia nggak bisa menjelaskan. Itulah PR yang terus terang bagaimana mereka bisa survive di kondisi apa pun, minimal dia bisa minta tolong atau teriak minta tolong," papar dia.

Bukan hanya itu, Risma melanjutkan, pernah juga kejadian saat banjir seorang tunarungu tidak bisa teriak, akhirnya dia tenggelam karena tidak ada yg bisa menolong.

"Jadi itulah saya sampaikan saya ingin mengoptimalkan kemampuan dia kalau memang dia bisa bicara, itu pilihan setelah itu dia mau bicara atau tidak. Tapi bagi saya saat dia kondisi terdesak dia bisa melakukan sesuatu untuk pengamanan dirinya itu yang paling penting bagi saya," tegas Risma.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela