Menkes Budi Beri Penjelasan Terkait Kematian Akibat Gagal Ginjal Akut yang Masih Terjadi

angela marici22 Nov 2022, 11:00 WIB
Diperbarui 22 Nov 2022, 11:00 WIB
Anak Sakit

Fimela.com, Jakarta Kematian kasus gagal ginjal akut masih terus terjadi hingga sekarang, meskipun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa tidak ada lagi penambahan kasus. Berdasarkan data dari Kemenkes per 18 November 2022, tercatat jumlah kematian bertambah menjadi 200 pasien meninggal dunia.

Dilansir dari liputan6.com Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan alasan kenaikan angka kematian tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi ginjal pasien yang dirawat sudah mengalami kerusakan dan fungsi ginjalnya sudah tidak bisa diperbaiki.

"Kematian masih ada dua hari atau tiga hari yang lalu. Karena sudah terlampau rusak ginjalnya," jelasnya dikutip dari liputan6.com

Oleh karena itu, pasien yang meninggal merupakan pasien kasus lama yang telah dirawat selama 35 hari di rumah sakit, dan 40 hari di rawat sehingga ginjalnya sudah tidak bisa diperbaiki kembali.

Kemenkes juga sudah menyimpulkan, kasus gagal ginjal akut di Indonesia terjadi karena adanya cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) yang terkandung dalam obat sirup. Kandungan tersebut melebihi ambang batas sehingga menyebabkan kerusakan ginjal pada anak.

Sementara terkait dengan penanganan obat sirup, Menkes mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan wewenang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI untuk melakukan pengecekan dan pemeriksaan.

"Kalau Kemenkes kan tugasnya menjaga kesehatan masyarakat. Kami mengurus dokter, apotek (yang menjual obat-obatan). Kalau (pengecekan dan pemeriksaan) obat-obatannya sendiri memang wewenangnya ada di BPOM," pungkasnya.

 

 

Penambahan Satu Kasus Kematian

anak sakit
Ilustrasi anak dirawat karena penyakit gagal ginjal akut/copyright shutterstock.com/Eakphum

Berdasarkan laporan dari Kemenkes diketahui bahwa jumlah kasus kesematian gagal ginjal akut di Indonesia mencapai 200 kasus per hari Jumat, 18 November 2022. Melalui penambahan kasus kematian tersebut berarti menunjukkan terdapat satu laporan kasus kematian yang tercatat.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Jubir Kemenkes) RI Mohammad Syahril menyampaikan, penambahan satu kasus kematian merupakan pasien yang telah menjalani perawatan dan sudah dalam kondisi stadium lanjut atau 3.

"Saat ini yang sembuh sudah ada, kami masih tercatat dari 27 provinsi dan saat ini yang dirawat tinggal 13. Sementara total kematian ada 200 orang dan yang sembuh ada 111 orang," ujarnya dalam acara 'Tea time IDI Menjawab soal Update Terkini Gangguan Ginjal Akut pada Anak, Jumat (18/11/2022) dikutip dari liputan6.com.

"Tapi memang yang meninggal itu karena yang dirawat. Yang dirawat itu lama-lama lho, ada yang satu bulan, satu bulan setengah."

Syahril juga menyebut sepanjang November 2022, kasus gangguan ginjal akut di Indonesia mengalami tren penurunan, bahkan nihil penambahan kasus konfirmasi baru dalam dua pekan terakhir.

"Dalam dua minggu terakhir ini tidak ada penambahan kasus," lanjutnya.

 

DKI Jakarta Pemegang Kasus Terbanyak

Gejala Penyakit Gagal Ginjal
Ilustrasi anak dirawat karena gagal ginjal akut. Credit: pexels.com/Anna

Berdasarkan data Kemenkes per 18 November 2022, temuan ratusan kasus gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak dilaporkan dari 27 provinsi di Indonesia. Saat ini, masih terdapat 13 pasien anak yang masih menjalani perawatan intensif di Ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Syahril menyebutkan provinsi DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan pemegang kasus terbanyak, yakni ber jumlah 324 kasus.

"Jumlah kasus ada 324. Kasus yang terbanyak dari DKI Jakarta," imbuh Mohammad Syahril.

Lebih lanjut, Syahril mengatakan, kasus gagal ginjal akut mulai mengalami pelandaian sejak Kemenkes mengambil langkah konservatif dengan menyetop seluruh penggunaan obat sirup pada 18 Oktober 2022.

Selain itu, ia mengungkapkan obat antidotum Fomepizole efektif digunakan pada pasien ginjal akut yang belum telat mendapatkan penanganan kasus.

Meski perkembangan kasus ginjal akut sudah membaik, Syahril tetap meminta seluruh pihak untuk waspada. Ia pun mewanti-wanti agar orangtua lebih waspada dengan dengan cara terus memantau jumlah dan warna urine yang pekat atau kecokelatan pada anak.

 

Penulis: Angela Marici

#Women for Women

Lanjutkan Membaca ↓