Sukses

Info

5 Penyakit yang Diderita Para Korban Gempa Cianjur

Fimela.com, Jakarta Gempa yang mengguncang di Kapubaten Cianjur, Jawa Barat dengan kekuatan magnitudo (M) 5,6 yang berpusat di darat dengan kedalaman 10 KM pada Senin, 21 November 2022, masih meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia, hingga saat ini korban jiwa masih terus bertambah.

Gempa Cianjur terjadi akibat adanya pergeseran Sesar Cimandiri, meskipun gempa yang terjadi berskala sedang namun mengakibatkan daya rusak yang luar biasa yang meluluhlantakkan kota dan membuat banyak bangunan ambruk. Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami karena lokasi pusat gempa bumi terletak di darat.

Selain itu, wilayah DKI Jakarta, Sukabumi, Bogor, Bandung, dan Depok juga ikut merasakan guncangan gempa yang terjadi di Cianjur. Hingga saat ini (28/11), guncangan susulan di Cianjur tercatat mencapai 296 kali. Kekuatan gempa susulan bervariasi mulai dari yang terkecil M1,2 hingga yang terbesar M4,1.

Dilansir dari liputan6.com, korban dari gempa Cianjur memiliki lima jenis penyakit yang muncul pasca terjadinya gempa di Cianjur, Jawa Barat, hal ini diungkapkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Sumarjaya.

Ada lima jenis penyakit yang muncul. Yang pertama tentu ISPA akibat cuaca panas, dan hujan. Yang kedua gastritis, yang ketiga hipertensi, yang keempat diare, dan yang kelima diabetes.

ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut merupakan infeksi yang terjadi pada salah satu atau lebih bagian saluran pernapasan. Infeksi tersebut dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri yang bisa menyerang siapa saja di segala usia dan umum terjadi.

Namun, Jaya mengklaim tren kasus kelima penyakit tersebut mengalami penurunan. Misalnya, pada 23 November ISPA memiliki 744 kasus, namun turun menjadi 600 kasus pada 24 November. Jaya mengatakan, pada minggu pertama pascabencana, pihaknya fokus dalam penanganan penyakit trauma, seperti patah tulang atau luka. Pada minggu kedua atau besok, penyakit nontrauma dikendalikan oleh pihaknya.

 

Layanan Trauma Healing

Selain menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Efek gempa yang terjadi juga berakibat pada korban-korban selamat yang saat ini berada ditempat penampungan. Salah satunya adalah gangguan kejiwaan pascabencana yang merupakan hal lazim di tengah bencana dan sesudahnya.

Bencana alam seperti gempa memang diketahui dapat berisiko menyebabkan dampak psikologis, yaitu trauma. Trauma gempa yang terjadi dapat menyerang siapa pun, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan sejumlah gejala ketika seseorang terpicu. Misalnya seperti keringat dingin, meningkatnya detak jantung, susah berkonsentrasi, terganggunya pola tidur normal. Maupun kecemasan pikiran, perasaan, hingga stres yang mengakibatkan masalah fisik.

Jaya mengatakan bahwa korban dampak gempa juga perlu mendapatkan layanan trauma healing atau dukungan kesehatan jiwa psikososial untuk membantu para penyintas untuk memulihkan trauma pasca bencana yang terjadi, karena hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

 

*Penulis: Sri Widyastuti

#WomenForWomen

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading