Jika Ia Tak Menepati Janjinya Lagi, Persiapkan Dirimu untuk Menjauh Darinya

Fimela21 Jul 2018, 10:00 WIB

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Setahun yang lalu aku dikenalkan oleh temanku dengan seorang pemuda. Awalnya aku tidak menganggap serius tentang perkenalan itu, aku berpikir bahwa perkenalan itu pasti akan berujung pada basa-basi seperti biasanya.

Sebelumnya aku kenalkan dulu tentang siapa pemuda itu, pemuda itu berusia 22 tahun d awal perkenalan kami, dan tentunya sekarang ia telah berusia 23 tahun. Ia keturunan Jawa setengah Madura. Alias percampuran antara keduanya. Awalnya ia adalah penduduk asli Pulau Jawa. Namun, karena suatu alasan akhirnya ia bersama dengan keluarganya kini menetap di Nusa Tenggara Barat.

Komunikasi pertama sangat datar, dan layaknya komunikasi pada teman cowokku yang lainnya. Terlebih aku adalah orang yang sangat cuek dan susah bergaul, mungkin hanya beberapa orang saja yang bisa beradaptasi denganku hingga akhirnya menjadi teman dekatku. Sama halnya dengan pemuda itu, ia merasa baik-baik saja berkomunikasi denganku yang super cuek di awal. Seandainya ia sama dengan pemuda pada umumnya, berkomunikasi dengan wanita super cuek sepertiku pasti enggan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/chandra daru nusastiawan

Sekali dua kali hingga berkali-kali kami sering berkomunikasi, ya walaupun hanya lewat suara. Kami bercanda, cerita tentang pengalaman pribadi, masa kecil, tentang keluarga dan tentang dunia kampus kami masing-masing. Kebetulan kami sama-sama mahasiswa, hanya saja ia sudah selesai sidang skripsi waktu itu.

Waktu demi waktu terus berjalan, kami saling mengaku satu sama lain bahwa selama ini kami memiliki kenyamanan dan kecocokan dalam berkomunikasi. Hingga akhirnya kami saling mengakui bahwa memang ada rasa sayang yang sedang tumbuh di antara kami.

Mengingat usiaku yang bukan remaja lagi, aku tidak mau menutup-nutupi perasaan ini dari orangtuaku. Aku berbagi kisah bahwa aku sedang jatuh hati dengan seorang pemuda nan jauh di sana. Orangtuaku sangat antusias mendengarkan deskripsi tentang pemuda itu setiap kali aku pulang mengunjungi kampung halaman ketika libur kuliah. Dan mereka memberikan respon positif terhadap perkenalan kami.

Semakin hari rasa sayang itu semakin tumbuh, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang aku dapat darinya. Dari tutur kata dan caranya mengambil keputusan ketika aku meminta pendapat padanya, semakin membuat aku jatuh hati, bahkan semakin mantap memilihnya untuk menjadi yang terakhir dalam hidupku.

Namun, perjalanan menuju sesuatu yang dibayangkan akan indah sangatlah banyak cobaannya. Bahkan pertanyaan ekstrim mulai muncul dari orangtuaku ketika usia perkenalan kami sudah berjalan lama. Pertanyaan itu adalah, “Kapan dia akan main ke rumah?” Awalnya aku menjawabnya dengan santai, dengan alasan bahwa ia sedang sibuk bekerja di luar sana, sehingga belum bisa berkunjung dalam waktu dekat, sampai-sampai aku menjanjikan pada orangtuaku bahwa ia akan datang ketika hari raya Idulfitri, sesaat setelah aku bercerita pada pemuda itu bahwa orangtuaku sangat mengharapkan kedatangannya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/jonas weckschmied

Ternyata cobaan untuk orang yang berhubungan jarak jauh atau istilah populernya long distance relationship (LDR) tidak berhenti sampai di situ. Ketika hari raya telah tiba, pemuda yang aku janjikan pada orangtuaku berhalangan untuk datang ke rumah. Mengenai alasan mengapa ia membatalkan janjinya hanya aku yang tahu, bahkan orangtuaku tidak perlu tahu, karena aku yakin mereka tidak akan pernah mau memahami kondisi seseorang.  

Otomatis, perasaan kecewa dan ketidakpercayaan pada pemuda yang aku kenal mulai bersarang di benak orangtuaku, hingga lagi-lagi aku mendengar pertanyaan, “Lalu kapan lagi ia akan datang ke sini, padahal momen hari raya adalah momen yang pas untuk bersilaturahmi.” Beribu-ribu kali pertanyaan itu diulang. Hingga telingaku panas mendengarnya. Bukan hanya telinga saja yang panas, namun suasana hati juga semakin panas, karena orangtuaku tak mau mengerti sedikitpun tentang alasan pemuda itu membatalkan kunjungannya.

Aku sebagai wanita yang dekat dengan pemuda itu merasa kecewa sangatlah pasti, tapi aku lebih bisa mengerti kondisinya dibandingkan orangtuaku yang hanya melihat dan mendengar cerita dariku saja. Sementara aku bisa merasakan dan memaklumi bagaimana kondisinya.

Akhirnya, sekali lagi aku mendapat janji bahwa ia akan berkunjung ke rumahku bulan Oktober tahun ini. Antara senang dan khawatir. Senang karena orangtuaku setidaknya bisa diam sejenak dan tidak menanyakan tentang kapan kedatangannya lagi, dan khawatir akan rintangan yang tiba-tiba datang tak terduga hingga dapat berujung pada pembatalan yang kedua kalinya, karena aku telah mendapat ancaman dari orangtuaku bahwa, “Jika ia tidak menepati janjinya yang kedua ini, maka persiapkan dirimu untuk mulai menjauh darinya. Dan jangan jatuh cinta lagi padanya”. Semoga saja dilancarkan, dan sesuatu yang buruk tidak terjadi.

Ah, pernyataan yang begitu menyakitkan, sungguh. Kini aku sedang menunggu waktu terjawabnya pertanyaan, “Kapan pemuda itu akan datang?” di bulan Oktober nanti. Entah pertanyaan itu akan selesai dengan ia benar-benar datang ke rumah atau selesai dengan kata perpisahan dari orangtuaku.





(vem/nda)