Mengapa Perasaan Rindu Seringkali Menyesakkan Dada?

Mimi Rohmitriasih13 Jan 2019, 15:27 WIB
Rindu

Fimela.com, Jakarta Perasaan rindu bisa melanda siapa saja. Rasa rindu ini bahkan akan terasa begitu menyesakkan dada bagi mereka yang sedang jatuh cinta namun terpisah jarak dan waktu. Semakin lama rindu di tahan di dada, semakin menggebu rindu tersebut. Lantas apa obatnya?

Banyak yang bilang bahwa obat dari segala rindu adalah pertemuan. Namun benarkah seperti itu? Pertemuan memang bisa mengobati rindu dalam sesaat. Setelah itu, rindu bisa kembali muncul dengan volume yang lebih besar. Rindu juga bisa kembali muncul dengan cara lebih menggebu bahkan menyakitkan setelah perpisahan.

Melansir dari laman yourtango.com, perasaan rindu atau kangen adalah perasaan yang muncul bersamaan dengan rasa cinta. Para peneliti menemukan jika saat seseorang jatuh cinta, ini berhubungan erat dengan hormon dopamin dalam tubuh. Hormon dopamin sendiri memiliki pengaruh kuat terhadap rasa sakit, bahagia dan hasrat dalam diri.

Saat dilanda rindu atau cinta, hormon dopamin di tubuh pun akan meningkat dan membuat perasaan terasa sakit, bahagia juga tak karuan dalam waktu yang sama. Para ahli juga menemukan jika produksi dopamin berpengaruh besar terhadap hormon serotonin dalam tubuh. Hormon serotonin adalah hormon yang mengendalikan stres, suasana hati serta nasfu.

Bagi perempuan, perasaan rindu atau kangen juga dipengaruhi oleh aktivitas hormon. Gabrielle Lichterman dari Hormone Horoscope mengungkapkan jika siklus bulanan pada perempuan mempengaruhi hormonnya. Ini nantinya meningkatkan rasa rindu, kangen, cemas, cinta dan bahagia di waktu bersamaan. Siklus bulanan juga berpengaruh besar terhadap sensitivitas, suasana hati dan tingkat ketergantungannya pada seseorang.

Mengenai perasaan rindu ini, para ahli menyarankan agar kita bisa mengendalikan rindu sebaik mungkin. Jangan sampai perasaan rindu yang menggebu-gebu atau cenderung lebay justru menjadi boomerang bagi diri kita sendiri.