Mengawali Tahun Ini sebagai Pengangguran, Tapi Kuyakin Masih Adanya Harapan

Endah Wijayanti09 Jan 2019, 17:30 WIB
pengangguran

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Fitria Nur Umi H. - Jakarta

Hai, kenalkan namaku Fitria tapi banyak orang memanggilku Vivi atau Fifi, sama sajalah pengucapannya. Di tahun ini aku memiliki banyak sekali keinginan seperti di tahun-tahun sebelumnya tetapi, entah kenapa tahun ini adalah tahun keterpurukanku. Tahun ini aku adalah seorang pengangguran, kontrakku dengan perusahaan yang sebelumnya telah selesai, sekarang tinggal bagaimana aku memikirkan masa depanku yang terbilang abu-abu.

Bisa dikatakan aku merupakan fresh graduate. Mencoba melamar di mana pun aku lakukan. Bagaimana tidak, aku merupakan orang yang aktif dan sangat senang sekali menjadi wanita karier. Sempat dipanggil tapi penempatannya di luar kota bikin aku pusing tujuh keliling memikirkannya jika bekerja di tempat yang lumayan jauh menurutku. Berbisnis mungkin hebat tapi, aku belum yakin untuk terus condong dalam memulai usaha.

Kata orang aku rajin dan semangat. Menurutku itu saja tak cukup untuk menjadi apa yang aku inginkan. Aku mulai memikirkan tujuan apa yang akan aku harus capai tahun ini. Tentu saja, mendapatkan pekerjaan. Tidak hanya itu aku mulai giat mencari info lomba seperti lomba menulis dari Fimela ini.

 

 

pengangguran 1
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/verena yunita yapi

Aku merupakan orang yang memiliki ambisius dalam menginginkan sesuatu dan teman-temanku bilang aku merupakan orang yang kompetitif. Tapi tidak, aku bukan orang yang suka kompetisi. Kalau diingat-ingat sepanjang hidupku selalu ada kompetisi, contohnya dari hasil nilai ujian sampai dengan peringkat di kelas seakan-akan itu adalah sesuatu yang harus dicapai. Padahal nilai dan peringkat tidak akan menentukan kariermu.

Sudah dari rahasia Ilahi sepertinya manusia memang harus kompetitif untuk bertahan dalam mencapai apapun yang diinginkannya. Sifat suka dengan kompetisi ini baru aku sadari setelah melihat berbagai macam info lomba untuk aku ikuti. Ternyata memang benar kan manusia hidupnya harus berkompetisi seperti aku contohnya. Hal ini aku lakukan untuk mengisi waktu luang sebagai unemployed.

Aku bukan orang yang terlalu muluk dan suka neko-neko, kok. Aku hanya berharap aku dan keluargaku tidak kekurangan dalam hal apapun, selahu sehat dan dipenuhi rasa syukur karena aku mengerti dari banyaknya segala urusan dalam pikiran kita masih ada aja orang di luar sana yang jauh dari kata “beruntung” yang aku miliki sekarang. Maka dari itu hidup dengan penuh semangat dan tetap optimis harus aku genggam erat-erat dalam hidup.

pengangguran 2
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/yoel peterson

Buku resolusi tahun ini pun sudah aku buat, sudah ada 5 lembar tulisan yang aku tulis sebelumnya. 2 contohnya sudah aku sebutkan di atas, mencari kerja dan mencari lomba kemudian aku mulai mempelajari bahasa asing. Zaman sekarang mana ada sih bahasa asing yang tidak dibutuhin? Sekarang banyak banget perusahaan multinasional yang mebutuhkan karyawan yang bisa berbahasa asing. Sekarang aku mulai mempelajari bahasa Prancis dan Jepang. Semoga semangatku tidak luntur ya, sampai akhir tahun nanti.

Kemudian aku mulai banyak membaca buku-buku yang sudah aku letakan hingga berdebu itu untuk memperbanyak pengetahuanku yang masih minim pengalaman ini. Untungnya aku berterimakasih kepada perpustakaan nasional dan pemda DKI Jakarta karena mereka mempunyai perpustakaan elektronik yang bisa di download di Play Store gratis sehingga aku tidak perlu lagi membeli buku di toko buku.

Nah, selesai sudah sepenggal kisahku ini. Semoga bermanfaat buat aku dan jadi self reminder pada diriku sendiri untuk selalu berusaha dan bekerja cerdas diimbangi dengan optimis, semangat, dan doa. Terima kasih.