Filosofi Pangsit sebagai Makanan Khas Imlek, Kekayaan hingga Panjang Umur

Febi Anindya Kirana20 Jan 2019, 17:15 WIB
pangsit

Fimela.com, Jakarta Perayaan Imlek bukan hanya disambut dengan kebahagiaan dan keceriaan, namun juga sajian makanan yang melimpah. Dalam tradisi Tiongkok, makanan bukan hanya jadi penyenang perut namun juga memiliki makna filosofis yang diharapkan bisa membawa keberuntungan dalam perayaan Imlek.

Salah satunya adalah pangsit. Pangsit yang dikukus atau digoreng menjadi santapan wajib saat merayakan Tahun Baru Imlek karena memiliki pengertian yang tak bisa diabaikan.

Dilansir dari China Highlights, menurut sejarah, pangsit sudah disajikan lebih dari 1.800 tahun yang lalu sebagai makanan tradisional yang disantap saat Malam Tahun Baru Cina. Pangsit dibuat menyerupai batangan perak Cina yang pada saat itu berbentuk oval atau perahu. Ini adalah simbolisme dari harta kekayaan.

Bukan hanya bentuknya saja yang sengaja dibuat seperti batangan perak yang mahal, bahkan isian pangsit juga memiliki makna keberuntungan yang berbeda. Pangsit harus dibuat menggembung dan penuh, tak boleh tipis karena bisa membawa kemiskinan atau kurangnya keberuntungan.

Ada juga pangsit yang sengaja diisi dengan benang panjang dengan maksud supaya yang memakan memiliki kehidupan panjang umur, atau diisi koin supaya yang memakan bisa menjadi memiliki banyak uang dan bisa kaya raya.

Peletakannya di piring juga harus berjajar, tidak boleh melingkar. Ini dimaksudkan agar kehidupan tidak berputar di situ saja, supaya hidup memiliki arah tujuan dan berkembang. Semakin banyak pangsit yang dimakan, diharapkan bisa membawa lebih banyak rezeki dan kekayaan.

Jadi, jika ada makanan berupa pangsit saat Imlek, kini sahabat Fimela sudah tahu apa maknanya.