Apakah Menjadi Perempuan Dewasa Itu Susah?

Endah Wijayanti22 Jan 2019, 16:50 WIB
perempuan dewasa

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Ratna Junita - Pekanbaru

Aku ingin tersenyum, menyenangkan diri sendiri, berfikir dan bertindak positif dalam menjalani hidup.

Setiap orang pastinya memiliki harapan-harapan yang ingin dicapai, tak terkecuali aku, yang ingin bahagia, hidup sederhana dengan ambisi-ambisi gila. Dulu, cukup sulit bagiku untuk berpikir positif pada diri sendiri. Aku selalu membandingkan kemampuanku dengan teman-temanku. Aku tahu mereka tidak sebanding denganku, karena mereka melakukan hal yang lebih dibandingkan aku dan aku tahu seharusnya aku tidak bersikap seperti itu. Namun, aku tidak bisa. Aku gagal dalam memahamkan apa yang menjadi keinginanku, dan aku gagal dalam menjalani kehidupan yang bahagia. Karena terpaksa harus bekerja keras mendahulukan orang-orang dan mendeklarasikan bahwa aku bisa. Dan ternyata aku salah, aku sama sekali tidak bahagia.

Ketika sesorang menghadapi kegagalan, hal pertama yang disalahkannya ialah diri sendiri. Tak terkecuali aku, yang menyalahkan setiap kegagalan dari resolusi tahun lalu yang banyak tidak tercapai. Penyesalan yang berlarut-larut itulah yang membuat aku makin terlarut dalam kebencian terhadap diri sendiri.

Dulu, ketika masa SMA, aku sangat optimis menggenggam setiap mimpi dan berusaha untuk meraih lebih. Namun kini semangatku mulai kendor, aku menjadi pesimis. Sudah berkali-kali aku membaca motivasi dari motivator andalanku, namun hasilnya masih saja tetap sama, tak berubah. Aku ternyata lebih takut gagal ketimbang mencoba dan menerima nasib. Aku cenderung mempertanyakan kemampuan diri tanpa meningkatkan kualitas diri. Aku terlalu menyalahkan semua keadaan dan malahan diam tak bertindak apa-apa. Sementara, teman-teman seperjuanganku sudah maju sepuluh langkah dibandingkan aku.

Kini, menginjak usia yang hampir matang untuk bersikap dewasa, tak meski menjadikan aku piawai dalam bersembunyi di balik topeng kedewasaan. Aku menyukai diriku yang apa adanya. Aku adalah aku, itu kalimat yang sering aku katakan usai bercermin memperhatikan perubahan dari bentuk wajahku yang kini sudah lagi kekanak-kanakan.

 

 

perempuan dewasa 1
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku sering bertanya pada diri sendiri, "Apakah menjadi orang dewasa itu menyenangkan?" Dewasa menjadikan aku cukup kaku di segala situasi, dan aku dulu sempat membenci menjadi orang dewasa. Dan ternyata aku salah, proses menuju pendewasaan bukanlah proses yang memaksa untuk bersikap sesuai tuntutan, tapi sesuai sebagaimana kondisi dan waktunya. Menjadi dewasa bukanlah sesuatu yang mudah dan sulit dilakukan, cukup dengan berpikir dan bertindak apa yang semestinya dilakukan itu sudah dikatakan dewasa. Dewasa adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, ketika harus dilakukan maka lakukanlah, dan itu menurutku.

Sama halnya sesorang dinilai dewasa ketika mampu menyikapi kekhilafan atas dirinya mengenai resolusi yang tak kunjung tercapai. Apakah mampu menuliskan kembali resolusi tersebut atau hanya menyerah dan tidak melakukan apa-apa?

Resolusi selalu menjadi bagian terpenting dari seseorang untuk menjadikan diri lebih baik lagi di tahun sebelumnya. Masih banyak resolusiku yang belum tercapai. Banyak dari mimpi-mimpi masa kecilku yang belum teralisasikan, dulu aku terlalu serakah atas segala hal, tanpa mempertimbangkan kemampuanku untuk mecapai tujuan tersebut. Aku terlalu naif pada diri sendiri, mengatakan bisa dan mampu pada semua bidang, yang pada akhirnya justru menjerumuskan diriku sendiri. Terlalu naif akan hal yang kurang bisa ku geluti, dan malah justru meninggalkan peluang-peluang dari kesuksesanku.

ISTJ
Ilustrasi/Copyright pexels.com/@minan1398

Oleh karenanya di tahun ini, aku berkeyakinan untuk merubah motivasiku. Bahwa siapa lagi yang mengubah diri kita sendiri jika bukan kita yang memulainya dulu. Seseorang pernah berkata, “Kalian tidak akan pernah tau bagaimana aku berproses hingga sampai ketitik ini, jangan pandang dari bagaimana aku bisa seperti dia tapi pandang bagaimana caranya aku mengejar setiap mimpi-mimpi ku, padahal semua orang didunia ini memiliki mimpi dan kita hanyalah satu daripada salah satu pesaingnya." Tahun ini ada beberapa harapan baru yang ingin ku capai. Meski bukan 100 buah resolusi yang akan kutulis, hanya beberapa dan itu juga merupakan refleksi dari beberapa resolusi yang tidak tercapai di tahun lalu.

Kini yang aku inginkan ialah bahagia, menjalani kehidupan yang positif, menghargai kebaikan yang setiap hari dilakukan, memberikan penghargaan atas apa yang diraih, bahkan hal terkecilpun, dan menuliskan setiap hari kegiatan yang dilakukan agar aku tau bahwa diriku sedang baik-baik saja. Aku ingin merekam setiap momen dalam sebuah tulisan menjadikannya jurnal agar aku senantiasa menginggat setiap hal yang aku lakukan. Baik itu hal baik, buruk, kurang menyenangkan, tak terduga, kecewa, senang, biasa saja, bahkan marah dan benci. Aku ingin memberikan pemahaman terhadap diri bahwa aku sedang menyusun kembali puzzle yang dulunya aku paksakan tersusun, namun malah hancur dan berantakan. Aku ingin kembali menyusunnya tanpa ada satupun yang mendesaknya. Bahwa aku tahu setiap orang akan ada masa dan waktunya untuk menemukan kesuksesan.

Dan kini aku tahu bahwa kinilah waktu yang tepat untuk kembali menyusun puzzle kebahagiaan, meski berjalan perlahan namun pasti, sebab kini aku sudah menargetkan mimpi ku. Menjadi penulis di setiap negara yang kulewati, memotret setiap momen yang kunikmati, aku ingin menuliskan bagaimana kejadian yang sebenarnya pada sebuah sejarah yang dipalsukan. Tinggal bagaimana aku menyusun setiap visi dan misi agar setiap tujuan berjalan seperti yang diinginkan. Dan bahagia adalah salah satu caranya. Bahwa bukan seberapa cepat kita berjalan tapi seberapa besar kita mampu memahami bahkan pada bagian terkecilpun.