Satu Kebiasaan Sepele Bisa Berpengaruh Besar pada Karakter Diri

Endah Wijayanti24 Feb 2019, 10:30 WIB
Diperbarui 24 Feb 2019, 10:30 WIB
zodiak

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Hotmaida Nainggolan - Jakarta

 

“Tadi, Adek ambilnya dari mana?”

“Dari lemari kaca yang depan, Ma.”

“Ya, berarti Adek harus kembalikan ke tempat sebelumnya biar gampang nyarinya."

Saya umur 5 tahun ketika itu, Mama sudah mengajarkan saya tentang bagaimana caranya memperlakukan “sesuatu”. Sebetulnya Mama mengajarkan kedisplinan dan tanggung jawab sih, dan ini baru saya sadari ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, berlanjut sampai ke jenjang SMP, SMK bahkan sampai saat ini.

Pernah suatu kali di masa SMP, saya menggunakan gunting jahit Mama. Gunting itu adalah gunting kain, yang harusnya tidak boleh dipakai untuk menggunting plastik, kertas, atau apapun selain untuk menggunting kain. Waktu itu saya memasak mie instan dan tidak menemukan gunting yang biasa digunakan untuk membuka bungkus bumbu mie instan, dan akhirnya saya menggunakan gunting jahit Mama. Dan sialnya, saya lupa mengembalikan ke tempat peralatan jahit Mama. Sudah dapat dibayangkan apa yang terjadi?

“SIAPA YANG PAKAI GUNTING MAMA?” suara Mama terdengar sampai ke RT sebelah, dan saya langsung gemetar. Andai saya tidak lupa mengembalikan gunting Mama sepertinya saya tak perlu mendengarkan ceramah selama 5 menit. Hahaha.

Ternyata tanpa saya sadari, kebiasaan tersebut menempel pada diri saya, dan saya lebih saklek daripada Mama. Saya selalu menata seluruh barang pribadi saya dengan baik, tujuan sederhana agar saya mudah mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan tanpa waktu lama untuk mencari-cari. Buku yang selesai saya baca harus saya kembalikan ke rak buku dan barisan semula, spidol yang saya gunakan untuk menggambar saya kembalikan ke kotak semula. Alhasil, ketika saya ingin membaca kembali atau menggambar lagi, saya tidak akan repot mencari-cari.

Budaya itu pun berlanjut di ruang kerja. Kebiasaan ini mungkin biasa saja untuk orang lain, bahkan cenderung tidak penting. Saya pernah beradu argumen dengan rekan kerja saya karena meminjam stapler dan tidak mengembalikan ke tempat alat kantor saya. Beberapa waktu kemudian, saya kebingungan mencari stapler tersebut, teman saya bertanya, “Lo nyari apa sih Tet?” Saya pun menjawab, “Stapler gue. Biasanya gue taruh sini sih, kok nggak ada ya?” Dan dengan polos dia menjawab sambil mengangkat tangannya, “Nih, tadi gue pinjem." Terjadilah perdebatan dan berakhir dalam kalimat yang terucap dari bibir teman kerja saya, “YA UDAH SIH SEPELE!”

Mungkin untuk sebagian orang budaya ini adalah sepele, tapi tidak untuk saya. Saya kehilangan 5 menit hanya untuk mencari stapler dan menyebabkan orang yang membutuhkan dokumen di tangan saya menunggu. Setelah kejadian itu, teman saya pun menjadi tahu tentang kebiasaan sepele tersebut.

Dengan kebiasaan sepele tersebut ternyata menjadikan saya orang yang tepat waktu, disiplin, dan bahkan dipercaya sebagai Planning Control di kantor karena pekerjaan yang saya kerjakan selalu on track. Masih merasa budaya mengembalikan barang pada tempatnya itu sepele? Just put it back and it will return to you.