Bekerja di Mana Pun Sama Saja, Selalu Ada Konflik yang Nggak Bisa Dihindari

Endah Wijayanti22 Feb 2019, 13:15 WIB
Diperbarui 22 Feb 2019, 13:15 WIB
kerja mana pun

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Imas Tati Cahyati – Bandung

Tanggal 28 April 1999 adalah hari pertamaku masuk kerja. Semua serba asing, teman-teman baru, lingkungan baru, terasa membingungkan. Namun aku berusaha untuk beradaptasi dengan segalanya. Minggu-minggu pertama, tidak jarang aku pulang menangis. Atasan yang kurang ramah, teman yang cenderung selalu merasa benar padahal kami sama-sama pegawai baru, menjadi masalah yang seringkali kuadukan pada ayahku. Tapi komentar ayahku justru yang membuat aku bertahan sekian lama untuk berada di sini bahkan sampai hari ini menginjak masa kerjaku yang hampir 20 tahun.

“Nak, bekerja di manapun sama saja. Atasan itu memang begitu, kamu akan merasakan kebaikan dia kalau dia sudah tidak ada. Jangan tersingung dengan ucapan temanmu yang mengatakan kalau kamu kerjaannya mau kepakai sama atasanmu, ya iyalah, kalau tidak kepakai sama atasan sama siapa lagi. Atasan itu kalau bawahannya tidak becus ya tinggal pecat, nyari lagi, beres,” kata-kata yang masih terngiang sampai hari ini.

20 kurang 2 bulan tepatnya aku berada di sini. Aku bekerja sama dengan atasan yang pertama hanya 2 tahun, karena beliau pindah ke divisi lain. Namun meski cuma 2 tahun, di balik tampang judesnya beliau banyak mengajarkan ilmu baru, maklum bidang kerjaku tidak sesuai dengan ijazah yang kukantongi.  9 tahun kemudian aku berganti atasan sampai 3 kali. Sampai suatu hari aku dipanggil oleh Kepala Biro Pendidikan yang notabene orang yang pertama jadi atasanku.

“Bu Imas, saya mau ngajak ibu untuk kerjasama. Kenapa saya mengajak ibu, karena saya merasa ada chemistry sejak saya pertama kali kerja sama.”

Serasa di sambar petir, mau nangis tapi rasanya tidak dewasa. 11 tahun aku berada di tempat yang sama, dengan rekan kerja sudah seperti keluarga, sekarang harus pindah, berat rasanya.

“Bu, kenapa saya mau dimutasi ke sini, apa salah saya, tolong kasih tahu saya, supaya saya bisa memperbaiki.”

“Tidak ada yang salah. Ibu sudah terlalu lama di sana, 11 tahun. Seseorang kalau terlalu lama di zona nyaman akan sulit berkembang, Di sini ibu bisa belajar ilmu yang baru, penyegaran suasana kerja, dan yang lebih penting lagi, saya perlu seseorang yang membantu karena harus konsentrasi ke lembaga lain.”

Ada rasa sedih, merasa dibuang, merasa sengaja diposisikan ke tempat yang tidak nyaman, agar pada akhirnya aku bisa mundur teratur. Aku ingin menolaknya tapi sulit rasanya, karena sudah jelas tercantum dalam peraturan kepegawaian kalau kami harus siap dimutasi ke manapun sesuai kebijakan manajemen.

 

kerja mana pun 1
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@kristingroth2

Setelah berbincang lama dan mempertimbangkan segala hal akhirnya sampailah aku pada keputusan, “Baiklah, kalau memang ibu berpikir bahwa proses mutasi ini didasari oleh kompetensi yang saya miliki dan untuk pengembangan diri saya, saya terima. Tapi jika ini didasari oleh kesalahan saya, saya mohon sampaikan apa kesalahannya, agar saya bisa memperbaikinya.”

“Sekali lagi, tidak ada catatan apapun ataupun catatan tindakan indisipliner tentang ibu. Saya berpikir bahwa di sini ibu akan lebih berkembang, karena lingkup garapannya lebih luas, orang yang dihadapi lebih beragam dan itu akan banyak memberi pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga.”

Awal bulan berikutnya aku sudah bertengger di kantor baru. Selama dua bulan pertama kesibukanku lebih banyak membereskan arsip-arsip yang acak-acakan. Hari-hari selanjutnya aku banyak menerima tugas yang betul-betul baru dan ini menantangku untuk lebih banyak belajar. Hari-hariku banyak diisi dengan membaca tentang segala hal tentang manajemen, terlibat dalam pembuatan SOP-SOP, merevisi peraturan kepegawaian sampai pada terlibat dalam penyusunan skema penggajian.

Sekarang, 8 tahun sudah aku berada di tempat ini, menemani orang yang katanya judes dan galak. Tapi aku bisa bertahan karena kami punya cara berpikir dan mindset yang hampir sama dalam urusan manajemen. Bukan dalam hal pekerjaan saja atasanku ini banyak berpengaruh, bahkan dalam kehidupan pribadi pun demikian. Diskusi kami tidak melulu urusan pekerjaan tapi juga dalam urusan pendidikan anak yang secara sadar atau tidak aku juga banyak meniru dan mengaplikasikannya dalam pola pengasuhan anak-anakku.