Dilatih Berjualan Sejak Kecil Membawa Berkah Saat Dewasa

Endah Wijayanti25 Feb 2019, 16:02 WIB
Diperbarui 25 Feb 2019, 16:02 WIB
berjualan

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Fedelita - Surabaya

Jangan Pernah Meremehkan Hari Esok

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarokatuh,

Makhluk bumi mana yang tak ingin hidup dalam kenyamanan, ringan saat menghadapi segala hal serta lancar jaya ketika berseluncur menghadapi hari-harinya. Itu semua adalah ekspektasi nyata yang penuh harap akan selalu ingin kita perjuangkan. Beberapa orang ada pula yang memiliki mindset, apa yang terjadi esok, tak perlu lah kita terlalu ribet untuk memikirkannya hari ini. Mungkin ada sebagian dari para pembaca yang berpikir demikian, namun tidak dengan yang diajarkan oleh papa. Sosok idola sepanjang masa bagi anak perempuannya, cinta pertama yang takkan pernah menyakiti bahkan bertepuk sebelah tangan. Budaya China juga selalu beliau junjung dengan baik, aroma pengasuhan otoriter juga kental di keluarga kami.

Benar, awalnya sebagai sosok remaja pasti akan merasa terkekang dan kurang bebas dalam menyampaikan keinginan kita. Sejak kecil, papa melatih kami untuk selalu menyisihkan uang yang kami miliki dari hasil berjualan berbagai macam hal, entah stiker lucu pajangan kamar, donat titipan teman papa maupun sari kedelai home made beliau. Jiwa entrepreneurship telah ditekankan pada kami, hingga kami pun merasa tak pernah canggung jika menemui orang-orang baru.

Sejak dari SD, ajakan papa dan mama membuka mini café di depan rumah juga telah kujalani. Bukan tanpa alasan, adanya pemasukan tambahan juga sangat kami butuhkan kala itu untuk makan sehari-hari dan papa adalah korban PHK besar-besaran di tahun 1999 sehingga kehidupan 180 derajat berubah juga sempat kurasakan. Semua kami jalani bersama tanpa mengeluh satu sama lain dan kami kerjakan semua sekeluarga, bergantian jaga café hingga larut malam dan pagi pun sudah menjadi makanan sehari-hari. Rasa tanggung jawab dan penekanan sikap ego untuk selalu bisa berkumpul dengan keluarga setiap hari digaungkan papa selepas kami membereskan sisa-sisa gelas dan piring di café dari para pelanggan kami.

Berkali-kali beliau selalu mengatakan bahwa setidaknya lebih mudah hidup kita, jika kalian telah mempersiapkan diri dari sekarang. Jelas ini semua tanpa mengesampingkan ketentuan yang telah Tuhan berikan. Perang juga menjadi analogi yang beliau ajarkan, simplenya seorang prajurit yang akan maju ke medan perang, juga pasti akan mempersiapkan pedang dan tamengnya untuk menghadapi lawan saat bertempur.

 

 

 

berjualan 1
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@zun1412

Tak dipungkiri, seringkali kami cek cok, adu pendapat, dan argumentasi ringan di sela-sela obrolan. Beruntung, saat dewasa, semakin kulihat kerutan-kerutan nyata saat aku mulai meninggikan suara membuat hatiku semakin payah menatap haru mata beliau yang memaksakan sisa-sisa tenaga perjuangannya agar membuat anak-anaknya bahagia. Dari sana kembali dapat kita renungi, menjadi orangtua takkan mudah menyesuaikan diri mengahadapi rintangan karakter bersilang putra-putrinya yang beragam.

Tataran keras yang papa berikan pada kami, untuk selalu mempersiapkan diri sedini mungkin juga akan selalu kami camkan pada mindset dan berdampak pada perilaku kami. Langkah demi langkah yang kami jalani saat ini tak lepas dari peluh perjuangan mereka, tak afdol jika kita menutup mata dari proses yang telah dijalani semuanya. Terlalu munafik jika kita merasa unggul dan merasa semua terjadi hanya atas kerja keras kita sendiri. Kehidupan ini bagai pil obat yang kita paksa telan dengan sepenuh jiwa namun membawa kesembuhan dan berkah di masa depan.

Memang takkan ada yang dapat menjamin, bagaimana masa depan kita kelak. Namun, ada Tuhan dengan kekuasaan-Nya yang mengirimkan dua malaikat tak bersayap, menengadahkan tangannya dan berdoa dalam penantian panjang seumur hidupnya, menanti dan berharap kebahagiaan kita, tanpa berharap imbalan yang berarti.

Seperempat abad sudah berbagai pesan telah merasuk kedalam jiwa, tak ada sedikitpun rasa takut ketika menghadapi kejamnya dunia fana ini. Ingin kuungkapkan banyak hal kepada mereka, namun seolah-olah raga tak mampu bertutur banyaknya kata-kata melankolis yang tersimpan dalam relung hati. Biarlah pembuktian nyata saja yang mebuat mereka bangga akan kemampuan diri kita untuk selalu mandiri mengarungi berbagai masalah atas buah pengasuhan mereka yang menuntun kami untuk dapat selalu berkarya.