Kemandirian Bisa Terbentuk tanpa Didikan yang Terlalu Keras

Endah Wijayanti27 Feb 2019, 13:45 WIB
Diperbarui 27 Feb 2019, 13:45 WIB
infj

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: V - Cibubur

Terus terang saya akan selalu lupa akan apa yang orangtua katakan dan apa saja nasihat mereka. Saya bahkan hampir lupa tradisi khas apa yang kami sekeluarga (orangtua dan saudara-saudara saya) lakukan setiap momen penting. Karena mereka sudah tidak mendampingi saya (beserta saudara-saudara saya) lagi ketika saya menginjak sekolah menengah atas (SMA).

Saya hanya ingin berbagi sedikit cerita yang saya harap dengan menulis ini, akan menjadi pengingat saya. Biar saya tidak lupa betapa pentingnya mereka.

Di keluarga saya, khususnya bagi saya sebagai anak terakhir, orangtua lebih membebaskan saya mau jadi apa. Saya terus terang, bingung dengan maunya mereka terhadap saya apa. Sedangkan saudara-saudara yang lebih tua, sudah disarankan (diarahkan) kalau memang mereka belajarnya ke arah sini saja. Saya merasa, saya bingung, tidak tahu harus mengejar cita-cita apa.

Tapi, ternyata banyak sekali hal yang sebegitu kecil, tidak pernah diperhatikan, saya bagikan dua contoh yang bagi saya cukup mengena. Yakni cukup dengan ucapan, “Belajar," atau, “Besok kamu ke sekolah naik sepeda ya. Tidak usah diantar pake motor lagi (seperti biasanya).” Itu membentuk suatu karakter khas bagi saya ketika saya dewasa. Dan itu yang menurut saya menjunjung ke arah mana saya harus melangkah.

 

kelebihan infj
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/anthony tran

Hal pertama adalah tanggung jawab.

Saya ingat ketika saya menginjak ujian akhir sekolah menengah pertama (kelas sembilan). Malam hari saya kepergok menonton acara favorit, padahal besoknya ujian. Ayah saya marah besar sampai saya cemberut. Saya ngambek. Tapi ketika ayah saya tidur, saya lanjutkan menonton acara kesayangan saya, secara diam-diam. Tapi besoknya saya tetap siap sedia mengikuti ujian.

Tidak ada kata apapun, kamu harus tanggung jawab dengan perkataan dan tindakan. Tidak. Saya otomatis belajar sendiri dengan apa yang saya lakukan. Tanggung jawab dengan hasil ujian saya (dengan membagi waktu belajar dan tetap bisa menonton acara kesayangan saya).

Hal kedua, adalah kemandirian dan bersyukur.

Saat saya masih kecil, orangtua saya tidak pernah menceritakan masalah mereka kepada saya. Apalagi masalah keuangan. Ketika saya di sekolah dasar, biasanya saya diantarkan naik motor atau mobil tiap hari ke sekolah. Ada waktunya mobil dan motor dijual dan mereka hanya bisa membeli motor bekas dan mempertahankan sepeda yang pernah dipakai saudara saya.

Tidak ada ceramah ini itu, saya hanya didorong dengan perkataan seperti, “Besok kamu ke sekolah naik sepeda ya. Tidak usah diantar pake motor lagi (seperti biasanya)." Dan cocoknya saya, saya begitu suka aktivitas fisik seperti olahraga, ketika disuruh naik sepeda, saya malah senang sekali. Atau yang biasanya masak lauk tiga macam dalam sekali makan, besoknya hanya ada sayur dengan ikan goreng (yang kalau di tempat saya harganya sayur dan ikan adalah yang paling murah). Saya tidak ada keluhan.

Saya lupa mengapa saya begitu senang-senang saja. Apakah memang pikiran anak kecil di zaman itu memang senang seperti itu? Tidak ada keluhan?

Kemandirian saya dapatkan karena ketika naik sepeda, ada saja problema seperti ban bocor, rantai lepas, otomatis dengan sisa uang jajan (untung saja saya selalu lebihkan uang jajan ketika pulang sekolah) saya pun mencari bengkel. Atau setidaknya belajar sendiri bagaimana caranya memperbaiki sepeda sebelum dibawa ke bengkel.

Dengan makanan seadanya, saya dibiasakan mandiri untuk mensyukuri apa yang ada, tanpa keluhan. Sudah bisa makan tiga kali sehari sudah sangat bersyukur.

Semua ini, yang ajaibnya baru saya rasakan ketika mereka sudah tidak ada. Ketika saya menemui problem nyata di lingkungan. Ketika saya kuliah, ketika saya bekerja.

Tanpa ada mereka di sisi saya, tapi cara ini begitu membekas. Begitu banyak tradisi dan nasihat yang membekas bagi diri saya. Tapi untuk kehidupan sehari-hari, jika saya mengingat hari-hari saya menjalani masa kecil dan remaja saya seperti hal-hal kecil ini, malah itulah yang membentuk karakter kuat bagi saya.