Tradisi Sederhana Bisa Menghangatkan Keharmonisan Keluarga

Endah Wijayanti03 Mar 2019, 12:14 WIB
unfollow media sosial

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Mila Amalia - Bandung

Nasihatmu Terkenang Sepanjang Masa Jika tradisi keluarga masih erat dilaksanakan maka nasihat pun tetap jalan diberikan. Mengapa begitu? Karena dalam budaya terkandung nasihat indah yang bermakna dalam, contohnya saja nasihat orang tua dahulu, banyak sekali yang kita, sebagai cucunya tidak ketahui bahwa di balik semua nasihat itu terkandung banyak sekali makna yang tak akan lepas dalam kehidupan kita. Begitupun dengan tradisi, dalam sebuah wilayah ataupun dalam suatu keluarga tertentu pasti akan ada tradisi turun temurun dari nenek moyangnya. Kali ini, tema yang kuangkat adalah tradisi numpeng dalam keluarga saya beserta nasihat berharga yang selalu diucapkan sang nenek.

Aku lahir dari keluarga yang sederhana, dan nenekku masih sangat lekat dengan segala tradisi yang dulunya sering dilakukan orang tuanya terlebih dahulu. Karena rumah nenek dan rumah ibuku sangat dekat, maka akupun sering datang ke rumahnya.

Di suatu ketika saat aku sedang duduk santai sambil menonton TV, datanglah nenek membawa secangkir teh. Dari situ kami mulai berbincang-bincang. Di kala kesempatan itu nenek menasihati diri, beliau bilang, “Janganlah pernah merasa cukup dalam mencari ilmu, apalagi menyombongkannya." Karena kami kala itu sedang berbincang pelajaran di sekolahmu, yang aku mengeluhkannya. Awalnya aku mengabaikan saja perkataan itu, pikirku nenek tak pernah mengalami kurikulum sekolah sesudah diriku, karena mungkin dulu kurikulum nya mudah-mudah, lagian pula nenek hanya lulusan SD, maka akupun tak tersentuh akan na sehat itu.

Semakin hari ketika kumulai menerima pelajaran di sekolah semakin bosan, semakin sulit dipelajari, terkadang ada yang mudah namun aku hanya mempelajarinya sampai situ saja, tak mau kugali ilmu-ilmu lainnya. Suatu ketika guru bahasaku meminta diriku untuk mengikuti lomba puisi antar sekolah. Walau dengan rasa ragu akupun mengiyakan ajakan itu. Dari situ Bu Ira, guru bahasaku, mengajari diriku berbagai macam tentang puisi, mulai dari cara membuatnya hingga cara membacanya. Namun entah kenapa, hatiku merasa kurang, ilmu yang diberikan ibu, karena akupun ingin mencapai juara, walau tidak menempati peringkat satu, namun aku ingin mengharuskan nama sekolahku. Kucari kembali tentang puisi di Internet, kutanyakan pada kakak tentang puisi, hingga ku berkunjung ke salah satu saudara jauhku, yang dulunya pernah menjuarai lomba tersebut. Hari demi hari aku mulai menelaah semua ilmu itu. Tanpa kusadari lomba semakin mendekat. Dengan kesiapan yang sudah dirancang, aku mencoba mengikuti lomba itu.

 

 

menulis
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/hannah olinger

Hari lomba pun tiba. Satu persatu peserta mulai dipanggil untuk membacakan puisinya, hingga dipanggillah giliran diriku. Perlahan aku mulai maju, dengan keyakinan diriku serta dorongan dari guru-guru, aku mulai membacakannya. Dalam hati kuucap basmallah, tak terasa bait demi bait sudah kubaca hingga akhirnya selesai. Kututup dengan ucapan salam lalu aku turun dari panggung. Dari arah yang berlawanan ibu guru langsung memelukku sambil mengucapkan selamat atas keberanian diriku mengikuti lomba ini. Haru dan bahagia silih bercampur di hari itu walaupun keputusan pemenang belum diumumkan. Sambil menunggu keputusan, aku dan bu guru pergi ke sebuah tempat makan untuk mengisi perutku di siang hari. Sungguh lelah, hampir lupa waktu kalau diriku belum mengisi perut. Perbincangan kami ketika makan sangat bermakna hingga lupa waktu, dan ternyata pengumuman pemenang akan segera diumumkan. Kami pun langsung beranjak menuju tempat perlombaan.

Juri mulai mengumumkan pemenang dari urutan paling rendah. Kutunggu-tunggu namaku semoga masuk dalam sebutan itu, namun dari juara tiga dan dua bukanlah nama diriku yang terpanggil. Sempat putus harapan, namun ternyata ketika juri mengumumkan pemenang pertama, namaku lah yang dipanggil. Dengan kegirangan sambil k kupeluk ibu guru aku menangis bahagia di depannya.

Sambil mengusap air mata aku berjalan menuju panggung untuk mengambil penghargaan itu. Diberikannya penghargaan itu padaku, lalu kusunggingkan senyuman manisku pada kamera-kamera yang sedang mengabadikan momen ini. Dalam hati kuucapkan alhamdulillah atas segala kebahagiaan ini.

Setelah selesai acara itu, aku langsung pulang menuju rumahku. Tanpa salam kubuka pintu dan kuberitahu kabar gembira itu pada ibuku. Sontak ibu kaget, kenapa aku pontang panting cari ibu. “Bu, aku juara satu lomba puisi, Bu,” ucapku dengan sangat gembira. Ibupun langsung memeluk ku sambil mengucapkan selamat kepadaku. D

ari situ ibu mengajakku untuk numpeng. Ya, numpeng itu menjadi salah satu tradisi keluarga kami, di mana bila kami mendapat sebuah kebahagiaan biasanya selalu syukuran dengan numpeng ini. Dengan acara yang sangat sederhana, esok harinya kami mengadakan syukuran numpeng. Di situlah seluruh keluarga besar kami kumpul untuk sama-sama menikmati hidangan yang telah disediakan. Memang acara ini bukanlah acara yang sangat meriah, namun dengan tradisi ini kami bisa berkumpul dan berbincang hangat dengan saudara kami lainnya.

Dan sampai saat ini satu nasihat yang selalu aku ingat adalah, “Janganlah pernah merasa cukup ketika mencari ilmu, apalagi menyombongkannya."