Warisan Berharga dari Pesan Mama yang Sederhana

Endah Wijayanti01 Mar 2019, 16:20 WIB
Diperbarui 01 Mar 2019, 16:20 WIB
karier dan cinta

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Febi Intan Trianti - Cirebon

Rambutnya hitam, lurus sebahu. Wajahnya teduh memancarkan jiwa keibuannya. Suaranya lembut, mewakili sifat ke ramahtamahan dan elok pribadinya. Dialah ibuku, seorang perempuan yang rela bertaruh nyawa demi melihat aku terlahir dengan selamat ke dunia. Namun, sayang belum sempat perempuan itu melihat kami dewasa dan berumah tangga, Tuhan lebih dahulu memanggilnya.

Ada sebersit penyesalan saat harus melepas kepergiannya dari sisi kami, melepas kepergian seorang pejuang tangguh yang membesarkan aku selama 19 tahun. Ya, penyesalan karena belum sempat kami membuatnya bahagia walau sekejap. Ia telah begitu banyak mengalami penderitaan dan kesengsaraan hampir sepanjang jalan cerita hidup yang ia rajut selama desah napasnya.

Masih kuingat dengan jelas setiap jejak hidup yang ia ceritakan, layaknya dongeng penghantar tidur saat malam. Dia berasal dari keluarga sederhana di sebuah kota bernama Puwokerto, tetapi sebenarnya ia lahir di Solo. Diboyong oleh bapak ketika menikah ke kota Cirebon, sampai melahirkan anak pertamanya di kota tersebut. Keluarga kami ikut transmigrasi ketika tahun 1984 ke Bengkulu, dan di sanalah kakak kedua lahir.

Di kota Bengkulu, mereka mencoba bercocok tanam di atas lahan yang telah disediakan oleh pemerintah. Jauh dari penerangan dan dikelilingi hutan juga bukit bahkan beberapa kali bapak menjumpai seekor harimau. Kami hanya tinggal selama dua tahun di Bengkulu, karena saudara mamah mengusulkan mereka pindah ke Kalimantan. Atas ajakan itulah kami pindah ke sana. Namun, sesampainya di Kalimantan keluarga saudara dari mamah ternyata punya kesibukan tersendiri. Akhirnya dengan kebaikan dari seseorang, kami tinggal di tempat yang sebenarnya jauh dari layak karena memang tempat itu bekas kandang ayam yang sudah tidak terpakai, tetapi cukup luas untuk kami tinggali. Di kota itu bapak menanam sayur-mayur, apabila sudah mulai bisa dipanen, mamah berkeliling menjajakannya. Saat usiaku satu tahun, kami memutuskan kembali lagi ke kota asal kami, yaitu di Cirebon.

 

Zodiak Leo
Ilustrasi./copyright shutterstock

Di Cirebon, kami menempati rumah kontrakan. Bapak mulai bekerja menjadi sopir toko sedangkan mamah bekerja di sebuah klinik pengobatan. Anak-anak dititipkan kepada pengasuh, tetapi karena pengasuh belum terlalu bisa menjaga kami, maka mamah dan bapak menitipkan kami kepada saudara yang rumahnya tidak jauh dari kontrakkan kami. Lambat laun kami pun pindah, karena telah membangun sebuah rumah di pinggiran kota. Di daerah ini kami memulai kehidupan dan jalan cerita yang baru, tidak berpindah-pindah lagi hingga kini. Dari mamah dan bapaklah kami belajar berjuang, bahkan kakak-kakakku membeli motor dari hasil kerja mereka yang disertai untaian doa dari mamah dan bapak. Mamah terkenal dengan keramahan dan sopan-santunnya terhadap warga sekitar, bahkan saat Tuhan memanggil ruhnya banyak warga yang ikut bertakziah walau agama mereka berbeda dengan mamah.

Pernah suatu hari sepulang sekolah, aku mampir ke tempat kerja mamah. Tempat kerjanya memang agak jauh dari rumah kami sekarang. Sesampainya di sana, mamah menyambutku dengan senyum dan sapa di sela kesibukannya menulis nama pasien yang datang untuk berobat. Aku menunggunya duduk di bawah pohon beringin yang besar dan rindang. Saat waktu istirahat tiba, mamah langsung memesan semangkuk empal gentong untukku yang tak jauh dari tempat kerjanya. Pulangnya, kami mengendarai transportasi umum. Setelah sampai, mamah memberikan beberapa lembar uang kepada sopir sembari mengucapkan terima kasih.

“Udah pulang Bu? Mari saya antar,” sapa seorang pengemudi becak dengan ramah. Usianya tak jauh beda denganku, badannya tegap dan bertato di lengan kanan-kirinya. Sangar terlihat olehku, tetapi begitu ramah saat menyapa mamah.

“Dek, jangan lupa selalu ucapkan terima kasih setelah melakukan apapun yang melibatkan orang lain,” ucapnya saat kami menaiki becak. “Baik saat kita membeli sesuatu atau terlebih saat kita ditolong oleh orang,” itulah pesan perempuan yang membesarkan aku selama 19 tahun, pesannya selalu aku ingat dan laksanakan.

Mamah memang tidak mewarisi harta benda yang membuat kami kaya raya, namun perjuangannya dalam garis kehidupan memberikan kami kekuatan untuk mengatasi masalah yang kami hadapi. Keramahan dan kesopanannya menjadi contoh untuk kami berada di tengah-tengah masyarakat. Semoga ilmu kehidupan dari beliau menjadi ladang pahala baginya menuju surga.