Mengerti Arti Perjuangan Hidup dari Seorang Single Parent

Endah Wijayanti04 Mar 2019, 12:28 WIB
Diperbarui 04 Mar 2019, 12:28 WIB
Perempuan pintar

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Ratri Kurnia Wardani - Tangerang

Siapa yang menginginkan kehidupannya tidak sempurna? Tentu jawabannya tidak ada. Semua orang pasti menginginkan hidup dalam sebuah keluarga yang lengkap. Menjalani kehidupan bersama orang-orang tersayang—ibu dan ayah—adalah dambaan bagi setiap insan. Akupun juga menginginkan hal yang sama. Tumbuh dalam pelukan hangat seorang ibu dan berkembang dalam didikan kedisiplinan seorang ayah. Namun, Tuhan berkata lain. Ayah yang sangat aku banggakan, harus kembali ke pangkuan-Nya ketika aku masih cukup belia. Dan semenjak itulah, perjalananku meniti hari-hari dalam kehidupan, mengajarkanku sejuta arti dari sebuah perjuangan.

Menjalani kehidupan semenjak ayah tiada memanglah tidak mudah. Banyak segi kehidupan yang semuanya berubah drastis. Mulai dari beban ekonomi hingga beban psikologis—terkhusus bagi diriku—sangat terasa sekali. Peran ibuku kini bukan lagi seorang istri, namun merangkap sebagai kepala keluarga. Dua peran yang seharusnya dipikul oleh pasutri, namun kini harus ia jalani sendiri. Aku sadar, menjadi dua sisi manusia yang lembut—sebagai ibu—dan menjadi manusia yang perkasa—sebagai ayah—tidak lah mudah. Namun, ia membuktikan bahwa Tuhan Maha Perkasa. Seorang wanita yang “katanya” lemah ternyata salah.

Beberapa keperluan sosial di kehidupan perkampungan tidak pernah surut, selalu saja menguras kantong. Kegiatan hajatan, arisan rutin, kumpul-kumpul tetangga, sampai kegiatan sosial selalu mengeluarkan iuran. Untuk setiap kegiatan, selalu ada dana yang harus dikeluarkan. Kondisi demikian cukup menguras tenaga ibu untuk bekerja lebih ekstra. Siang dan malam yang dilakukannya adalah memotong berhelai-helai kain, lalu menjahitnya agar menjadi satu stel baju yang siap diantar ke rumah pelanggan. Ditemani kopi dan radio dengan channel guyonan tengah malam, ibu selalu menghabiskan hari-harinya seperti itu. Lalu, apa yang aku lakukan? Tidur di atas tikar tipis yang aku gelar di samping mesin jahit ibuku. Maklum, waktu itu aku belum bisa membantu. Tapi setidaknya, aku tidak perlu merengek minta dikeloni.

Tak sedikitpun keluh dan kesah terdengar dari bibirnya. Yang ada hanyalah deru napas berat ibu yang selalu dipendam, namun tetap saja terdengar sampai ke gendang telingaku. Perjuangannya seolah tidak boleh terlihat oleh anak-anaknya yang kala itu memang belum waktunya untuk hidup hanya dengan seorang ibu saja.

 

 

Zodiak Gemini/mlg
Ilustrasi./copyright unsplash.com/@wx1993

Aku bersyukur ketika Tuhan memberiku kesempatan untuk terlahir dari rahim seorang Ibu yang perkasa seperti dirinya. Bagiku, ini adalah anugerah terindah yang Dia berikan. Aku yakin, semua orang akan menyatakan bahwa Ibu mereka adalah Ibu terbaik, dan bagiku Ibuku adalah Ibu terbaik di antara ibu-ibu yang baik. Banyak pelajaran hidup darinya yang bisa aku jadikan bekal untuk menghadapi hari-hari ke depan yang mungkin akan cukup menguras pikiran.

Menjadi seorang penyabar dan selalu bersyukur adalah pesan Ibu yang selalu disampaikan. Bagi dirinya, syukur dan sabar menjadi persyaratan mutlak jika ingin hidup yang kita jalani terasa menyenangkan. Tidak perlu menunggu memiliki uang banyak untuk bahagia. Melihat orang-orang di sekitar yang kita sayangi mengembangkan senyumnya adalah satu hal yang patut kita jadikan alasan untuk bahagia.

Jiwa ibu yang selalu terisi penuh dengan semangat menjalani kehidupan telah mengajariku bahwa sesulit apapun kondisi yang ada, pasti akan selalu ada jalan keluarnya. Yang terpenting, jangan memberikan ruang kosong di hati kita untuk kata “menyerah”. Sayangnya, kini sosok ibuku yang tidak pernah terlihat lunglai perlahan mulai memudar. Setelah sepuluh tahun lebih berjuang menjadi single parent, waktu telah menyuruhnya untuk beristirahat. Beristirahat dari hiruk pikuknya permasalahan hidup yang silih berganti datang dan pergi. Rasa sakit perlahan menyusutkan daging-dagingnya yang dulu begitu menumpuk. Yang bisa dilakukan hanyalah beraktivitas ringan dan tidak boleh kecapekan.

“Tenang saja Buk, aku tidak akan meninggalkanmu. Seperti engkau tidak pernah meninggalkanku ketika ayah telah meninggalkan kita terlebih dahulu," begitulah mungkin bisikan lembutku di dalam hati untuk dia manusia paling perkasa di dunia.

Kini, arti dari perjuangan hidup telah aku pahami hanya dari seorang Ibu yang sendiri. Kebaikan dirinya, kelembutan hatinya, kesabaran jiwanya, hingga keperkasan fisiknya mampu mengubah keterbatasan menjadi sebuah kenyataan. Berkat doa yang selalu ia panjatkan, sekarang aku mulai bisa menggantikan sedikit demi sedikit perannya—membereskan rumah, mencuci, hingga mencari rezeki. Semua aku lakukan dengan penuh kesenangan, sebab Ibuku dulu berjuang juga dengan tidak menyertakan kesedihan. Terima kasih Ibu.