Sukses

Lifestyle

Queen Bee Syndrome, Apa Maksudnya dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Fimela.com, Jakarta Pernah dengar istilah queen bee syndrome? Sindrom ratu lebah ini pertama kali didefinisikan oleh G.L. Staines, T.E. Jayaratne, dan C. Tavris pada tahun 1973. Istilah ini menggambarkan seorang perempuan dalam posisi otoritas yang memandang atau memperlakukan bawahan lebih kritis jika mereka perempuan.

Pernah nonton film The Devil Wears Prada? Di film tersebut sosok Miranda menggambarkan stereotip seorang queen bee. Dia digambarkan sebagai perempuan dengan jabatan tinggi dan selalu kritis terhadap bawahannya, khususnya bawahan perempuan. Seorang queen bee seperti Miranda merupakan potret perempuan yang egois, seenaknya sendiri, dan haus akan kekuasaan. Mungkin di kantor kita juga menjumpai seorang queen bee seperti ini. Atau jangan-jangan malah kita sendiri yang memiliki sindrom queen bee?

Bila kita merasa memiliki queen bee syndrome, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya. Terlebih bila kita ingin membuat bawahan kita merasa nyaman dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif satu sama lain. Dilansir dari thebusinesswomanmedia.com, ada beberapa solusi yang bisa dicoba untuk mengatasi queen bee syndrome ini.

1. Kenali identas dirimu

Sebagai seorang pemimpin atau yang memiliki kekuasaan yang cukup besar di tempat kerja, sejauh apa sih kita bisa menggunakan kemampuan dan kekuatan kita? Pastikan peran kita juga bisa memberi manfaat dan kebaikan untuk bawahan dan rekan-rekan kerja kita yang lain. Bukan malah menyalahgunakan kekuasaan untuk menjatuhkan bawahan sendiri.

2. Meminta penilaian atau masukan dari bawahan

Perlu lebih terbuka menerima kritik dan saran untuk diri yang lebih baik. Tak ada salahnya untuk meminta penilaian dan masukan dari bawahan soal kepemimpinan atau kemampuan kita dalam memimpin di tempat kerja. Sehingga kita bisa tahu apa saja yang perlu diperbaiki dari kemampuan kita sebagai seorang pemimpin.

3. Cari mentor atau ikuti pelatihan kepemimpinan

Bekali diri dengan pengetahuan dan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik. Cobalah cari mentor atau ikut pelatihan kepemimpinan. Agar saat bekerja, kita bisa lebih fokus membangun strategi yang lebih baik untuk kemajuan perusahaan dan kesuksesan bersama.

4. Tingkatkan empati dan kepekaan terhadap perasaan bawahan

Sesekali bisa mengadakan acara liburan atau gathering bersama. Untuk meningkatkan kedekatan dan keakraban sekaligus meningkatkan empati serta kepekaan kita terhadap perasaan bawahan. Bawahan pun bisa merasa lebih nyaman dan terbuka bila kita menyediakan ruang dan waktu khusus mendengarkan isi hatinya.

Kita sama-sama punya target dan mimpi besar dalam karier yang kita bangun atau rintis. Bila saat ini kita sudah mendapat posisi tinggi atau menjadi pemimpin di tempat kerja, ada baiknya untuk bisa memaksimalkan peran tersebut untuk sama-sama saling mendukung dan menyokong rekan kerja lain meraih kesuksesan yang diinginkannya.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading