Perempuan Juga Berhak Mengaktualisasikan Dirinya dengan Bekerja

Endah Wijayanti18 Mar 2019, 10:21 WIB
teta

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang istimewa. Perempuan memiliki hak menyuarakan keberaniannya memperjuangkan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan dari Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Voice Matters: Setiap Perempuan adalah Agen Perubahan ini.

***

Oleh: Veronica Sri Yunita Sari - Sukoharjo

Perempuan Juga Punya Hak Berkembang dan Bahagia

Dulu, aku bekerja sebagai seorang programmer di sebuah perusahaan. Berbekal ijazah D3 Informatika yang kuraih dengan bersusah payah, karena ibuku adalah seorang single parent, akhirnya aku bisa mandiri dan menghidupi diriku sendiri serta menyekolahkan adikku. Sebagai anak dan sebagai wanita, aku merasa cukup bangga dan berdaya. Semuanya berubah ketika aku menikah dan suamiku melarangku bekerja, dengan alasan istri sebaiknya di rumah.

Setelah menikah kehidupanku berubah 180 derajat. Dari seorang anak perempuan yang disayang, dimanja-manja orang tua, menjadi seorang istri yang mempunyai segudang kewajiban. Dari memasak, membereskan rumah, melayani suami hingga harus mempelajari budaya dan kebiasaan di keluarga baruku. Seorang istri yang harus banyak mendengarkan perkataan suami, menuruti apa yang diminta bahkan selalu patuh pada ibu mertuaku yang cukup keras. Tentu saja dengan embel-embel: seorang istri yang baik harus menurut dan patuh semua pada semua perintah suami.

Awal-awal pernikahan aku bisa menerima semua kekurangan suamiku, suami yang keras, sering berkata kasar dan memperlakukanku layaknya pelayan di rumahnya. Jika aku menolak, tak jarang tamparan sampai pukulan mendarat di badanku. Hal tersadis yang pernah kuterima adalah pernah ditempelkannya sebilah pedang koleksinya di leherku karena aku menolak permintaannya. Hatiku hancur. Beginikah nasib perempuan?

 

 

 

 

teta 2
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/alisa anton

Aku merenungkan pernikahanku. Bukankah aku menikah untuk meningkatkan kebahagiaan dalam hidupku? Tapi apa yang kudapat? Aku tak lagi mempunyai uang dalam tanganku, kehidupan sosial yang dibatasi, perlakuan kasar, perintah-perintah yang terkadang melelahkanku. Apakah aku harus mengalami ini seumur hidupku?

Aku menghampiri suamiku yang kulihat suasana hatinya sedang baik. Aku ingin menyampaikan perasaanku selama menikah dengannya. “Mas, aku tidak bahagia dalam pernikahan ini," kataku saat itu yang disambut dengan pandangan mata tajam suamiku. Dia menanyakan kenapa, dan sebelum aku menjawab, suamiku sudah menghujani aku dengan segudang alasan tentang seorang istri yang baik itu harus menurut, harus patuh, dan tidak boleh membangkang.

“Aku kehilangan diriku. Aku kehilangan duniaku, aku merasa tak berdaya, Mas. Aku kelelahan menjalani kehidupan ini. Aku tak boleh mengutarakan pendapat, aku dilarang bekerja, uang yang diberikan sangat ngepas untuk masak, bahkan aku sampai tak berani mempunyai keinginan. Aku ini istri atau budak?” tanyaku saat itu. Suamiku terbelalak dan naik pitam, hampir saja dia memukulku tapi kutepis. Aku harus berani. Karena hidup cuma sekali dan aku, meskipun wanita aku berhak untuk bahagia.

Suamiku diam, wajahnya memerah dan terduduk. Kusampaikan kepadanya bahwa sekarang bukan zamannya lagi wanita tidak punya kesempatan berpendapat, menyampaikan uneg-unegnya, memiliki perasaan bahkan keinginan. Wanita juga berhak mengaktualisasikan dirinya dengan bekerja, toh pekerjaannya adalah halal dan di tempat bekerja juga tidak macam-macam dengan teman lawan jenis. Pandangan bahwa wanita itu harus di rumah juga sudah tidak relevan lagi dengan keadaan zaman sekarang.

Seminggu setelah kusampaikan perasaanku suamiku banyak diam dan nampak berpikir. Hingga kabar dari kampungku datang, ibuku sakit dan diopname dan membutuhkan banyak dana. Keluarga di kampung meminta bantuan pada kami, sedang penghasilan suami hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kami.

 

resolusi menikah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Suami seperti terbuka mata dan pikirannya bahwa penghasilannya sebenarnya sangat pas-pasan. Bagaimana bisa mengirim uang untuk ibu di kampung, jika untuk hidup sehari-hari kami saja sangat mengirit. Malam itu suami mengatakan kepadaku dengan tenang, “Kau boleh bekerja, tapi kumohon tetap jaga nama baik keluarga kita dan tetap hargai aku sebagai kepala rumah tangga." Hatiku lega. Akan kubawa amanatmu, suamiku. Aku akan membantu mencukupi kebutuhan keluarga kita dan akan menjaga perilakuku di luar rumah. Pandangannya tentang wanita tak ubahnya pelayan di rumah pun berubah, wanita adalah partner pria dalam rumah tangga, saling membantu agar rumah tangga dapat berjalan dengan harmonis.

Setelah aku bekerja suasana rumah tangga kami menjadi lebih baik. Dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga pun kami berbagi. Suami jadi lebih menghargaiku. Hingga suatu hari ibu mertua datang ke rumah kami dan mengajukan protes, “Kenapa seorang istri bekerja, bukankah lebih baik dia di rumah?” Dan suamiku menjawab, “Sekarang sudah tidak relevan lagi, Bu. Seorang istri berdiam diri di rumah. Di luar dia bisa lebih produktif dan dia juga berhak bersosialisasi dan berkembang. Aku mengizinkan istriku, Bu."

Seorang wanita berhak berbicara, didengarkan, dan berkembang dengan kemampuannya. Wanita bisa menjadi penolong bagi suami dalam rumah tangga. Ketika seorang istri meminta kesetaraan dengan suami, bukan berarti istri ingin menginjak harga diri laki-laki, tapi dia hanya ingin suami mendengar dan memahami perasannya sama seperti istri yang akan mendengarkan dan memahami suaminya.