Seperti Kasus Audrey, Ini Langkah Orangtua Terhadap Anak yang Lakukan Tindak Kekerasan

Karla Farhana10 Apr 2019, 14:00 WIB
Boneka Demo Kekerasan seksual Anak

Fimela.com, Jakarta Kasusu Audrey tidak hanya meninggalkan rasa keprihatinan banyak orang. Namun, juga membuka banyak diskusi mengenai kekerasan yang dilakukan anak. Apa yang menjadi pendorong anak melakukan tindak kekerasan, lalu bagaimana seharusnya orangtua menghadapinya. 

Selain itu, langkah yang harus diambil oleh orangtua ketika anak melakukan kekerasan juga sangat penting. Pasalnya, masih banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana harus menangani kasus anak-anak mereka yang melakukan tindak kekerasan. Banyak di antara mereka yang justru menyalahi dan menghakimi sang anak. 

Menurut psikolog Ayoe Sutomi, M.Psi., Psi, ada beberapa langkah yang bisa diambil orangtua. Pertama, menanyakan apa yang menjadi penyebab anaknya melakukan tindak kekerasan terhadap teman sebayanya, atau orang lain. Juga dapat dilakukan observasi untuk mencari penyebab. 

"Pertama, tanyakan atau lakukan observasi langsung terhadap anak. Bukan menyalahkan tindakannya. Menanyakan dalam artian melakukan klarifikasi, kenapa anak melakukan tindakan tersebut. Apa penyebab anak melakukan kekerasan? Dari penyebab itu, barulah dirunut dan lakukan penangan yang tepat. Apakah anak melakukan kekerasan karena meniru adegan di TV atau games, atau karena temannya melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan," jelasnya. 

Beda Penyebab, Beda Juga Penangannya

Ilustrasi Kekerasan Pada Anak
Ilustrasi Kekerasan Pada Anak (iStock Photo)

Lebih jauh, Ayoe menjelaskan kalau setiap penyebab anak berperilaku kasar atau melakukan tindak kekerasa, berbeda pula penanganannya.

Jika penyebabnya adalah TV dan video games, sebaiknya orangtua melakukan pendampingan pada saat anak bermain dan menonton TV. Selain itu, juga dapat melakukan pembatasan waktu dan konten yang ditonton dan games yang dimainkan sang anak. 

 

Konten yang disaksikan sang anak bukan hanya satu-satunya faktor anak melakukan tindak kekerasan. Paslnya, menuurt Ayoe, ada juga anak yang tidak dapat meregulasi dan mengenali emosi mereka. Jika kasusnya seperti ini, orangtua dapat mengajak anak untuk mengenali perasaan dan memberikan bimbingan dalam menyalurkan perasaan dengab tepat. 

"Selain itu, orangtua juga harus melakukan introspeksi diri bukan menyalahkan anak," pungkasnya. 

Pentingnya Konsekuensi dan Regulasi

anak keras kepala
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/rainier ridao

Regulas emosi bukan hanya dilakukan para orangtua. Tetapi berbagai LSM terkait perlindungan anak pun juga sudah melakukan hal ini untuk mengajarkan dan membimbing anak-anak agar dapat mengatur dan mengeluarkan emosi mereka dengan baik dan tepat. 

Seperti LSM Yayasan Pulih yang pernah melakukan beberapa roadshow dalam project Mencare sekitar tahun 2015-2017 kepada beberapa sekolah menengah dan mahasiswa. Dalam roadshow tersebut, Yayasan Pulih mengangkat topik membangun masa depan dengan sasaran mengajak para kaum muda memiliki perilaku sehat. Salah satunya regulasi emosi sehat sehingga mencegah terjadinya kekerasan. 

"Kami mengajak para kaum muda terutama laki-laki agar memiliki konstruksi maskulinitas yg baru sehingga memiliki perilaku yg lebih sehat antara lain regulasi emosi yg sehat sehingga mencegah terjadinya kekerasan," jelas Psikolog Yayasan Pulih, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi.

Psikolog yang kerap disapa Ella ini juga menyampaikan pentingnya konsekuensi yang diterima anak-anak yang melakukan tindak kekerasan. Pasalnya, konsekuensi ini dapat menjadi pembelajaran untuk tidak mengulangi kekerasan, baik yang sama dan lain jenisnya, di kemudian hari. 

"Anak perlu mendapatkan konsekuensi atas perilaku kekerasan yang dia alami sehingga menjadi pembelajaran untuk tidak mengulangi di kemudian hari. Dilakukan juga penguatan dan pembekalan kepada orangtua atau pengasuh utama anak agar membantu proses perubahan perilaku anak," pungkasnya. 

Lanjutkan Membaca ↓