Perilaku Pemilik Akomodasi yang Bikin Betah Para Pelancong

Vinsensia Dianawanti15 Apr 2019, 15:00 WIB
Perilaku Pemilik Akomodasi yang Bikin Betah Para Pelancong

Fimela.com, Jakarta Para pelancong saat ini memiliki pilihan yang lebih banyak soal akomodasi ketika merencanakan perjalanan mereka. Untuk itu, sebagai tuan rumah, harus memahami apa yanng menjadi pembeda dari satu properti dengan properti lainnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Booking.com, menemukan bahwa sebanyak dua pertiga para pelancong global percaya bahwa masa inap mereka jauh lebih baik karena orang-orang yang mengelola akomodasi.

Akomodasi yang unik seringkali tercermin dari kepribadian tuan rumah saat tatap muka dengan para pelancong dan kesigapan mereka terhadap para tamunya. Seperti manajer hotel yang berpengetahuan tentang tips lokal, pemilik apartemen yang memerhatikan detail dari pengalaman para pelancong, hingga pengelola villa yang berbagi makanan buatan rumah dengan tamu mereka. Perilaku yang seperti apa saja yang membuat para pelancong akan kembali menginap di akomodasi yang sama?

1. Interaksi dengan pemilik akomodasi

Sebanyak 69 persen para pelancong akan menginap di akomodasi yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi langsung dengan pemilik atau manager properti. Interaksi yang terjadi di dalam pelayanan akomodasi akan memberikan sambutan hangat bagi para tamu.

2. Mendapatkan informasi lebih

Sebagian para pelancong pun akan nyaman jika memiliki perasaan seperti di rumah sendiri dan mendapatkan informasi yang tepat. Dengan informasi ini, mereka bisa melakukan penghematan dan menghindari berbagai penjebakan turis. Selain itu, para pelancong pun ingin menambah lingkungan sosial mereka dan berharap diundang ke pesta lokal oleh pengelola akomodasi.

 

Perilaku pemilik akomodasi yang bikin betah pelancong

Perilaku Pemilik Akomodasi yang Bikin Betah Para Pelancong
Simak perilaku pemilik akomodasi seperti apa saja yang bikin betah para pelacong (Foto: Booking.com)

3. Keseimbangan

Tak jarang, ada juga para pelancong yang mengharapkan bertemu pengelola akomodasi sesekali saja. Yakni pada saat check in dan check out. Cukup dengan menyeimbangkan kebutuhan para pelancong terpenuhi dan pengelola akomodasi memiliki intuisi yang tinggi soal jumlah yang perlu dihabiskan bersama para tamu demi kebutuhan privasi.

4. Keramahan

Senyum hangat bisa menjadi kunci untuk mendapat ilasan positif. Menawarkan sentuhan pribadi, seperti menghidangkan makanan lezat setempat bisa menjadi nilai tambah. Pihak pengelolan akomodasi pun harus memahami kultur yang dibawa oleh para pelancong ketika menginap. Di mana harus terjadi perbedaan perlakuan berdasarkan budaya yang dibawa oleh para pelancong.

Lanjutkan Membaca ↓