Suka Duka Perjalanan Karierku Selama 30 Tahun

Endah Wijayanti29 Apr 2019, 11:45 WIB
30 tahun

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Imas Siti Masitoh - Bogor

Hampir 30 tahun bekerja dan berkarier, tentu banyak sekali suka duka yang dilalui. Namun dengan selalu bersyukur dan menikmatinya dalam setiap kondisi, maka waktu selama itu terasa singkat seperti menikmati sebuah perjalanan wisata yang tidak membosankan di mana setiap tahapan karierku seperti berada di spot-spot yang menarik yang memberikan tantangan dan kepuasan tersendiri, bekerja di berbagai industri dengan bidang yang berbeda menjadi pengalaman yang luar biasa dan tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan.

Ketika setelah lulus SMA, mimpi dan cita-cita saya untuk kuliah di universitas negeri favorit harus kandas dan karena faktor biaya tidak memungkinkan untuk kuliah di universitas swasta. Namun di sisi lain saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa kuliah dan belajar bisa kapan saja dilakukan. Maka langkah yang diambil pada saat itu adalah mengambil kursus singkat sektretaris selama 6 bulan ditambah dengan mengikuti berbagai kursus seperti mengetik dan komputer sebagai bekal untuk bekerja dan punya penghasilan sendiri sehingga bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri.

Setelah selesai mengikuti berbagai kursus tersebut, mulailah awal karierku bekerja di mulai sebagai operator telepon sebuah perusahaan radio panggil selama kurang dari 1 (satu) tahun (1988–1989), kemudian berlanjut sebagai administrasi di perusahaan developer perumahan sekitar 1 (satu) tahun (1989–1990). Karena keyakinan bahwa pendidikan adalah hal yang penting sebagai dasar untuk meningkatkan karier dan kualitas kehidupan, maka dengan penghasilan yang di dapatkan setiap bulan, mulailah untuk melanjutkan kuliah setingkat Diploma dengan mengambil jurusan bahasa Inggris, ternyata kuliah sambil bekerja tidaklah mudah, ketika orang lain bisa bermain dan istirahat sehabis pulang kerja, sementara saya harus lanjut untuk kuliah di malam harinya.

Satu tahun kuliah, saya mencoba melamar sebagai sekretaris di grup perusahaan holding yang cukup besar (Trading, Contracting, IT, dll), dengan doa dan usaha, maka akhirnya saya diterima dan bekerja sebagai Sekretaris (1990) pada Divisi HRD dan Training Development. Di perusahaan inilah saya banyak belajar dalam segala hal termasuk seluk beluk pekerjaan bidang HRD dan Training Development dan di dukung oleh atasan yang sangat terbuka yang mendorong untuk maju dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan karier tentu saja tidak saya sia-siakan. 

 

Tetap Berkarier setelah Menikah

pengalaman kerja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Di tengah perjalanan bekerja, saya memutuskan untuk menikah dengan pertimbangan hidup di Jakarta akan lebih aman untuk seorang perempuan apabila memiliki suami dan berkeluarga, meskipun pada akhirnya kami harus berpisah secara resmi pada tahun 2006. Bekerja, kuliah dan berkeluarga tentu hal yang sangat berat, namun lagi-lagi dengan keyakinan dan semangat untuk tetap bisa melanjutkan kuliah, maka akhirnya kuliah untuk program Diploma Bahasa Inggris bisa diselesaikan meskipun tidak tepat waktu karena sempat cuti untuk hamil dan punya anak. Selain menyelesaikan kuliah tingkat Diploma, dengan keterbatasan dan dana, saya banyak mengikuti berbagai pelatihan dan training yang sangat mendukung pekerjaan dan meningkatkan kemampuan baik hard skill maupun soft skill.

Tahun ketiga bekerja di gruup perusahaan holding tersebut di atas, karier saya yang semula sekretaris, kemudian mendapat kesempatan untuk mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar sebagaii HRD dan Training Coordinator, pada tahun ke-5 (1995) , tiba-tiba saya ditelepon oleh GM HRD di Group Perusahaan Kawasan Industri yang memang sebelumnya sudah kenal baik karena beliau sebelumnya bekerja di perusahaan yang sama di mana saya bekerja di group Perusahaan holding dengan unis bisnis yang berbeda. Beliau menawarkan kesempatan karier kepada saya untuk bekerja sebagai HRD Officer (Asst. Manager) di salah satu anak Perusahaan Kawasan Industri yang mengelola lapangan golf di daerah Kawasan Industri di Cikarang.

Tentu saya pada saat ini saya langsung menerimanya dan mulailah bekerja sebagai HRD Officer dengan lokasi kerja di Cikarang dengan atasan langsung ekspatriat yang berbeda-beda warga negara (UK, Amerika dan Australia). Ini menjadi tantangan tersendiri, bekerja di Cikarang sementara tinggal di Bogor termasuk saat hamil anak kedua, seiring berjalan waktu, pada tahun ke-4 bekerja karier saya meningkat dengan jabatan sebagai HRD dan GA Manager.

Di sini tidak hanya bekerja dan berkarier di bidang HRD dan GA saja, namun berkesempatan untuk bisa melakukan sinergi dengan masyarakat/penduduk sekitar (CSR dan community development), dan yang lebih menariknya lagi bisa belajar dan bermain golf kapan saja (tentu saja di luar jam kerja) dan juga bisa terlibat dalam berbagai kegiatan atau turnamen golf yang diadakan oleh perusahaan yang melibatkan para member yang notabene pada umumnya adalah para CEO, top executive, dan owner dari berbagai perusahaan.

Hal yang sama tetap dilakukan secara berkelanjutan dalam kondisi keterbatasan waktu, saya berusaha mengikuti berbagai training dan pelatihan yang terkait bidang pekerjaan baik hard skill maupun soft skill baik yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan yang lebih penting bisa bertukar pikiran dan menjalin silaturahmi dengan rekan-rekan dari industri yang berbeda.

Dengan semangat untuk tetap bisa kuliah dan menyelesaikan sarjana, maka diputuskanlah untuk melanjutkan kuliah dan menyelesaikan sarjanaku dengan mengikuti program extention di salah Universitas Swasta untuk jurusan bahasa Inggris. Diperlukan waktu sekitar 2 tahun untuk bisa menyelesaikannya sarjanya, bisa dibayangkan bagaimana berbagi waktu dan energi untuk kerja di Cikarang, kuliah di Jakarta dan tinggal di Bogor. Alhamdullilah memiliki asisten rumah tangga yang setia dan tulus merawat anak-anak saya seperti merawat anaknya sendiri. Sabtu dan Minggu adalah kesempatan untuk quality time bersama kedua anak, kesempatan antar jemput anak sekolah dan les merupakan waktu yang sangat berharga.

Pengangkatan Rahim

kepribadian
ilustrasi./Photo by Bundo Kim on Unsplash

Dalam kondisi keterbatasan waktu dan dana, namun semangat saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (untuk mengambil program pascasarjana/master/S2) tetap membara. Buat saya Pendidikan dan sekolah setinggi-tingginya selain untuk diri sendiri juga untuk memotivasi anak-anak agar mereka bersemangat untuk bisa meraih Pendidikan yang setinggi – tingginya.

Tahun berganti tahun, akhirnya pada tahun ke-8 saya memutuskan untuk berhenti bekerja dari industri hospitality pengelolaan golf course dengan alasan untuk melanjutkan kuliah program pascasarja dan untuk mendapatkan tantangan baru dalam berkarier. Pada tahun 2004 mulailah saya mengambil program pasca sarjana di salah satu sekolah bisnis yang ternama di Jakarta dengan jurusan bisnis/marketing dan pada waktu yang sama saya mendapat tawaran bekerja di Industri/Pabrik Membel Luxury di Tangerang sebagai HRD Manager. Ini tantangan yang luar biasa, bekerja di Tangerang, kuliah di Menteng dan tinggal di Bogor, tadinya berharap bekerja di daerah Jakarta, kondisi ini tetap di jalankan dengan sepenuh hati,disyukuri dan melakukannya dengan “to the best”.

Beberapa bulan kemudian, saya di telepon oleh salah satu ex. direktur ketika saya bekerja di Golf Course dan merekomendasi saya untuk ketemu dengan salah satu owner perusahaan yang berlokasi di daerah Kramat Raya yang menawarkan bekerja di perusahaannya untuk posisi Business Development Manager. Tentunya ini kesempatan saya untuk lebih mendekatkan lokasi kerja dengan tempat kuliah di Menteng, meskipun saya tidak memiliki pengalaman di bidang yang ditawarkan. Namun saya yakin saya bisa melakukannya mengingat latar belakang pengalaman saya di bidang HRD, Training Development and General Affairs yang banyak berhubungan dengan berbagai latar belakang dan karakter orang yang berbeda.

Akhirnya saya resign dari Indusri Mebel dan bekerja di Industri IT and Document Solution sebagai Business Development Manager, 1 tahun kemudian di re-posisi menjadi Sales & Account Manager karena lebih fokus untuk hunting new sales and maintenance existing account. Ini pekerjaan yang sangat menantang karena sebagi sales diberikan sales target yang secara nyata dan dapat terukur dengan angka, produk/service yang d jual merupakan layanan document solution yang berbasis security data dan penjualannya kepada B2B/Corporate, proses penjualannya sendiri diperlukan waktu yang tidak sebentar minimal 3-6 baru bisa close, perlu proses yang sangat panjang, sabar, ulet, tidak patahm dan tetap semangat positif untuk sampai bisa mendapatkan client. Pada umumnya kerjasama dengan client berbasis kontrak minimal 1 tahun dengan melibatkan beberapa unit department terkait yang harus saya approach di sisi klien seperti: procurement, IT, operasional, product owner, legal dan compliance, markom dan lainnya dari mulai level staff sampai Direktur. Adapun kliennya adalah industri: banking (lokal dan asing), telecommunication (fix and mobile) , insurance, sekuritas, TV berlanggganan, utilites company , instansi keuangan non bank (DPLK), etc.

Pada akhirnya kuliah untuk program master (S2) bisa selesai dan lulus pada tahun 2006. Tidak terasa menjalankan pekerjaan di bidang Sales B2B sudah 9 tahun, kembali kepada alasan karier dan tantangan pada industri yang berbeda, maka pada bulan Maret 2013, saya memutuskan untuk resign dan bergabung sebagai HRM Manager (Division Level) pada industri retail fashion dengan international dan luxury brand.

Sungguh menjadi tantangan tersendiri karena setelah 9 tahun handle Sales dan kembali untuk handling HR pada industri yang sangat dinamis dengan jumlah karyawan yang besar sekitar 1.500-1.900 karyawan dalam waktu 4 tahun saya bekerja, memiliki lebih dari 250 store dengan tingkat turn over karyawan terutama karyawa store yang relatif tinggi dibandingkan dengan industri lainnya. Yang lebih menantang berkarier di industri retail fashion ini karena pada tahun pertama bekerja, saya harus menjalani operasi dan pengangkatan rahim yang disertai kemoterapi selama 6 (enam) kali karena adanya miom dan kanker ovarium yang terditeksi lebih awal.

Menjadi Single Mom

kepribadian
ilustrasi bunga/Photo by Carolyn V on Unsplash

Alhamdullilah dengan doa dan keyakinan disertai semangat pantang menyerah dan keinginan yang kuat untuk sehat, maka saya menjalani kemoterapi tanpa pernah absen dan tidak masuk kerja sama sekali dan bisa menjalankan semua tugas dan tanggung jawab yang diberikan dengan sangat baik, karyawan di kantor pada umumnya tidak tahu bahwa saya sedang menjalani kemoterapi karena tidak sedikitpun terlihat seperti sakit, yang tahu kondisi saya hanyalah BOD dan beberapa kolega pada senior manager termasuk tentu saja Direktur (COO) atasan saya langsung yang sangat mendukung dan membantu dengan sepenuh hati.

Tak terasa bekerja di industri retail fashion berjalan sampai 4 (empat) tahun (Maret 2017), di sisi lain ada target personal saya yang belum tercapai yaitu untuk segera berhijab dan kebetulan pada saat bersamaan saya harus mengantar dan menemani anak perempuan saya untuk ke Jepang dalam rangka melanjutkan kuliah sarjananya yang alhamdullliah melalui program beasiswa penuh yang didapatkan dari universitas di Jepang. Dengan keputasan yang bulat untuk berhijab dan ingin mengantar dan menemani anak untuk beberapa waktu di Jepang, maka akhirnya saya mengundurkan diri dari perusahaan retail fashion tersebut.

Kembali dari Jepang, saya mencoba untuk menjalankan usaha retailer kecil-kecilan baju muslim dan baju anak-anak yang di jual kembali oleh orang yang sudah dianggap keluarga sendiri dan sudah terbiasa menjual berbagai pakaian wanita dan anak-anak. Beberapa bulan usahanya berjalan, kemudian saya di hubungi oleh salah satu head hunter yang menawarkan untuk menjadi Head of HR pada perusahaan dengan industri entertainment (production house, bioskop, dan lainnya). Saya selalu berpikir setiap kesempatan yang diberikan adalah rejeki yang diberikan Allah dan tetap harus dicoba dengan sepenuh hati, akhirnya sejak Oktober 2017 saya diterima dan bekerja sebagai Head of HR pada perusahaan tersebut dan sampai saat ini.

Tentu saja di luar sana, banyak sekali wanita-wanita hebat yang lebih dari saya, namun dengan suka duka tahapan karier yang saya lewati dan juga sekaligus menjadi Ibu (single mom) dari kedua anak yang mana anak yang paling gede (laki-laki) baru menyelesaikan wisudanya di bulan Maret 2019 untuk program masternya (S2) dengan program beasiswa secara penuh dan anak kedua (perempuan) yang saat ini sedang mengikuti kuliah sarjananya di Jepang tahun kedua, tentu saja menjadi kebanggaan dan anugerah yang luar biasa buat saya. Alhamdullilah Ya Allah.

Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi dan manfaat untuk siapapun yang membacanya, khususnya untuk saya sendiri dan kedua anak saya. Aamiin.

 

Lanjutkan Membaca ↓